Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Menjual Kejujuran Demi ITS TOEFL score

Di ITS, seorang mahasiswa bisa menanggalkan predikat kemahasiswaannya dan menjadi seorang sarjana jika dan hanya jika telah memiliki ITS TOEFL score 450 (untuk S1). Meskipun dia telah lulus semua mata kuliah dan sudah sidang untuk Tugas Akhir (skripsi), tapi belum mencapai nilai TOEFL yang diinginkan, maka dia pun tidak bisa diwisuda.

Mengingat beratnya mengikuti aturan itu (bagi beberapa mahasiswa) maka ada beberapa cara yang dilakukan untuk mendapatkan nilai TOEFL yang bagus (dengan cara instan tentunya). Cara-cara ini (sebanyak 6 buah) saya dengar langsung dari pengakuan beberapa teman di jurusan Mesin ITS. Tapi nama-namanya tidak akan saya sebut, karena itu termasuk menyebarkan aib dan menyalahi solidaritas sesama arek M :)

Cara-caranya sebagai berikut:

Pertama, nyontoh teman disampingnya. Ini adalah cara berbuat curang yang konvensional dan untuk TOEFL kemungkinan berhasilnya minim. Malah mungkin terlalu besar resikonya. Karena waktu tes sangat terbatas dan masing-masing peserta harus konsentrasi penuh. Meskipun demikian cara ini masih banyak dilakukan oleh mahasiswa, khususnya yang sudah punya joki.

Kedua, tukar-tukaran nama peserta test di lembar jawaban. Jadi misal ada 2 mahasiswa, Alief dan Wika. Alief pingin mbantu Wika supaya nilai TOEFL nya Wika bagus. Maka di lembar jawaban Alief akan ditulisi nama Wika dan sebaliknya. Cara ini tergolong ‘nekat’ dan cukup beresiko. Pernah 2 orang mahasiswi melakukan hal ini, dan kelupaan mengganti nama. Jadinya di pengumuman keluar dua nama yang sama. Akhirnya mahasiswi itu diblack list oleh UPT Bahasa. Tapi ntah gimana akhirnya mhsi itu dapat diwisuda juga.

Ketiga, sudah punya kunci jawaban dari test TOEFL. Cara ini sangat efektif dan tidak terlalu beresiko. Pernah seangkatan mhs S2 di Mesin melakukan hal ini dan berhasil lulus. Lha dapat kuncinya darimana? Hubungi saja petugas parkir atau cleaning service UPT Bahasa, pasti dapat. Kemudian disebarkan ke mhs, pasti laris manis :) Di komputer Desain aja ada file kunci jawaban itu, berupa file excel yang diketik dengan font kecil-kecil. Jadi bisa dimasukkan ke saku. Ada 5 macam kunci jawaban tergantung cover soalnya. Tapi itu dulu, sekarang soal test TOEFLnya sudah diperbarui, jadi kunci jawaban itu gak berlaku lagi… (eman ya?)

Keempat, tiduran aja di kost, suruh temanmu yang test TOEFL. Cara ini pernah dilakukan oleh mhs terbaik di angkatan saya (dia lulus cumlaude). Jujur kalo ingat peristiwa ini, saya jadi agak jengkel…. Ceritanya dia (sebut saja si A) meminta tolong ke teman lain yang pintar Inggris untuk test atas namanya. Karena dulu ketika test TOEFL gak pake diperiksa KTM/KTP/SIM nya maka gak akan ketauan apakah si A itu yang benar-benar test atau orang lain. Hasilnya dia lulus juga. Lha terus kalo sekarang kan pake diperiksa KTM nya, berarti gak bisa dong?? Kata siapa? liat cara berikutnya

Kelima, buat KTM sementara yang bukan pake fotomu. Lha terus foto siapa? Ya foto joki kamu dong. Apa bisa? Buktinya bisa tuh, saya ditunjuki sendiri oleh seorang teman, sebuah KTM sementara yang ditandatangani oleh kepala BAAK ITS, yang pake fotonya si joki tapi nama dan NRP nya milik pasiennya joki. Hebat kan? mau tau caranya??? Asumsikan KTM mu hilang, pergi ke kantor polisi untuk mendapatkan surat kehilangan, trus ke kantor BAAK untuk ngurus KTM sementara. Jangan lupa berikan foto si jokimu ke BAAK (kayaknya gak akan diliatin sama petugas di BAAK kok). Tunggu beberapa hari, KTM sementara jadi. Berikan KTM ke si joki dan beraksilah joki itu. Kamu pun bisa lulus TOEFL dengan nilai yang baik. Mudah kan????

Keenam, buat aja sendiri sertifikat TOEFL nya. Apa mungkin??? Mungkin aja lagi. Kan ujung-ujungnya sertifikat yang dibutuhkan untuk menunjukkan TOEFL score. Maka scan aja sertifikat orang lain yang nilai TOEFL nya sudah bagus, kemudian ganti namanya dengan nama kamu dan jangan lupa juga nomer sertifikatnya. Lho kan pake stempel?? emang tukang stempel di pinggir jalan gak bisa buat stempelnya UPT Bahasa??? Cara ini memang butuh jaringan (mafia), dan dulu kakak kelas saya ada yang menyediakan jasa semacam ini. Tapi sayangnya dia sudah lulus. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan ilmunya telah diturunkan ke orang lain atau juga sudah dipelajari oleh orang lain :)

Ketujuh, dibutuhkan cara-cara lain dari sampean sekalian :)

Menanggapi hal ini, pro kontra pun bermunculan. Ada yang setuju, ada yang menentang, dan ada yang bisanya cuma ngeroweng dewe…. Dengan sukarela dan tanpa tekanan dari pihak manapun, saya berada di kubu yang setuju dengan TOEFL score minimal 450 dan menentang segala macam kecurangan. Alasan saya sederhana, dengan TOEFL score bagus insya allah akan membawa banyak manfaat utamanya bagi si mahasiswa itu sendiri (meskipun sampai sekarang ITS TOEFL score saya masih di bawah standart PBB) :)

Mungkin ada juga yang bilang kalo kemampuan bahasa inggris tidak bisa hanya diliat dari TOEFL. Dan juga banyak orang yang Inggrisnya bagus tapi TOEFL nya jelek. Atau ungkapan-ungkapan lain yang tidak setuju dengan aturan TOEFL score untuk kelulusan. Kalo menurut saya sih, setiap aturan pasti ada kekurangannya (namanya aja buatan manusia). Mari kita benahi cat dan perabotnya, tapi jangan robohkan bangunannya :)

Akhirnya, saya berharap tulisan ini tidak terbaca oleh Rektor, PR, Dekan, dan ketua UPT Bahasa di ITS. Supaya jiwa berwiraswasta dan kreativitas dari mahasiswa dapat terus tumbuh, sekalian meningkatkan jumlah penjualan rasa kejujuran di ITS. Semoga tidak….

Februari 2, 2007 - Posted by | ke-"mesin"-an, ke-ITS-an

58 Komentar »

  1. hehee.. keren juga harus lulus pake toefl.. aturan dari rektornya ya cak? sip lah..

    Komentar oleh grandiosa12 | Februari 3, 2007 | Balas

  2. Setuju!
    Kapan dosen-e di test TOEFL pisan cak? sing dibawah 450 dilarang jadi dosen :D

    Komentar oleh baihaqi | Februari 3, 2007 | Balas

  3. Dikampus lain juga seperti itu, terutama untuk mahasiswa pascasarjana. Saya belum pernah denger sih ada mafia model gitu. Cak tapi toefl yang diminta itu toefl institusi saja khan? maksudnya bukan toefl resmi.

    Komentar oleh helgeduelbek | Februari 3, 2007 | Balas

  4. makek ketukan berirama (pengembangan dari nomor satu), terinspirasi dari cara kerja joki SPMB/UMPTN hehehe :P

    saya juga di pihak yang setuju kalo minimal TOEFL adalah 450. Tapi mbok yao rektornya itu nepati janji.

    konyol banget nggak sih ada mata kuliah “bahasa inggris lanjut” 2 SKS tapi nggak pernah ada kuliahnya?. Ujug-ujug mahasiswanya langsung disuruh test TOEFL. Dan mereka mengaku tahu aturan akademik (emangnya definisi 2 SKS itu apa ya ?)………………

    dulu waktu sosialisasi TOEFL, janjinya kan Bahasa Inggris lanjut itu berupa kelas kuliah bahasa inggris persiapan TOEFl yang nantinya UAS-nya berupa tes TOEFL.

    tapi nyatanya………………………………. jadi ingat lagu :
    “Manis di bibir”……………

    Komentar oleh mardun | Februari 3, 2007 | Balas

  5. hehe padahal kalo bisa enggris yang untung kita-kita juga. biarpun pinter kalo ndak bisa ngomong apa njuk harus komunikasi pake skripsi dan selembar kertas yang menyataken IPK 3.99?

    Komentar oleh jtabah | Februari 5, 2007 | Balas

  6. Iya toh Cak Alief ?
    Moga-moga mahasiswaku di Sistem Informasi
    tidak seperti itu …

    Cak, saya lapor Bu Noor ya ?

    Komentar oleh Nur Aini Rakhmawati | Februari 6, 2007 | Balas

  7. # Grandiosa: Yup aturan rektor sejak periode pak Soegiono

    # Baihaqi: Boleh itu.. nunggu sampean jadi rektor cak :)

    # Helgeduelbek: Anda benar, masih TOEFL institusi kok.

    # Mardun: kalo buka sistem informasi akademik terbaru, kayae semester ini bhs ing mulai ada kuliahnya sungguhan.

    # Jtabah: Setuju cak.

    # Nur Aini: Ya iya lha… Bu Noor diminta baca blog ini aja… Sekalian promosi :)

    Komentar oleh Alief | Februari 7, 2007 | Balas

  8. wah, kacau juga kultur tersebut.. emang segitunya ya mental mahasiswa indonesia sekarang. Jika mereka tidak mau usaha dikit ( I mean, buat bahasa inggris yang notabene bukan hal yang susah dibandingin mata kuliah laen) sampai melaknatkan diri.. (no offense, ni berlaku buat semua mahasiswa)

    #1 , di semua uni, lulus emang harus ada batas toefl kan.. emang ada gitu yang ga memberi syarat lulus dengan toefl tertentu. apalagi buku kuliah kan all in english, so ga masalah kan

    Komentar oleh danasatriya | Februari 8, 2007 | Balas

  9. Wah, asyik juga ceritanya. yang sayangnya cuma satu. Kiranya, sebuah peraturan harus didukung oleh proses. Kalau prosesnya nggak ada/tidak memadai, jalan kepraktisan ditempuh.

    Komentar oleh agorsiloku | Februari 8, 2007 | Balas

  10. wah , gw heran ama ITS dana ITB

    segitu susahnya masuk ke situ, tapi koq masih aja mentalnya ga beres.. tau gitu seperti gw aja, lebi nyante :D

    Komentar oleh reggina | Februari 9, 2007 | Balas

  11. yang di atas bukan dana tapi dan :P

    Komentar oleh reggina | Februari 9, 2007 | Balas

  12. Ironisnya sistem pendidikan kita……………. kualitas SDM hanya dinilai dari selembar kertas shg …………..

    Komentar oleh fatma | Februari 9, 2007 | Balas

  13. Ass
    Bismillahirrohmanirrohim

    Ya inilah dilema di mahasiswa kitayang dilihat Pak alief lihat dari sisi seorang yang TOEFL nya bagus (kalau ndak salah 480) cerdas etc etc yang pokoknya dia tu jadi figure teladan di kampus khususnya mesin angkatan 2000 he he he

    Sekarang saya coba melihat itu semua dari sudut pandang mahsiswa yang melakukan itu semua. Kalau Pak Alief punya 6 cara dan trik kotor mahasiswa sehingga dapat TOEFL bagus, maka saya kemukakan 6 alasan mengapa mereka sampai melakukan itu. Jujur kalau saya lihat tidak semua mahasiswa berpikir kerdil seperti itu. Dan kita tidak bisa menimpakan kesalahan tersebut pada mereka saja. Ini mungkin suatu gambaran singkat mengapa mereka sampai nekat berbuat seperti itu.
    Ada ungkapan yang sering kita dengar di kepolisian bahwa kejahatan terjadi disebabkan 2 hal mendasar yakni niat dan kesempatan

    Ke-6 alasan di bawah insaallah akan sedikit membuka suatu pemikiran kita tentang tentang dilema-dilema yang terjadi pada sistem pendidikan kita, yang pada akhirnya SAYA HARAPKAN menjadi bahan pemikiran teman-teman semua untuk memberikan solusi atas ini semua

    Alasan pertama : Biaya test dan prosedur yang aneh
    Seperti kita tahu untuk bisa test TOEFL kita harus test LCPT dulu, except yang memang udah les di situ (UPT bahasa). Tambah test LCPT khan berarti tamabah biaya
    Hal ini sih gak masalah buat yang kaya tetepi ehm……..bagi anak kost ya jadi masalah. Mereka harus mikir apakah dengan nanti test dengan biaya sebesar itu akan lulus? Kalo gak …………..wah wah wah . Bisa mengancam kehidupan satu bulan ke depan lho. => Jadi ngapain kalo gak yakin kenapa gak sekalian nyewa JOKI aja. Kecualai kalo ITS ngasih satu kali tes TOEFL gratis, baru kalo gagal mereka bayar sendiri mungkin akan lain sikap mahasiswa.

    Alasan kedua
    Tingginya biaya test membuat mahsiswa yang hasil test nya kurang dikit (semisal 440 ato 430 bagi S1) berpikir panjang bial mau test lagi.
    Selain gak ada waktu (maklum biasanya khan udah deket2 ama sidang TA jadi udah sibuk banget) juga dipikir-pikir dari segi ekonomis mendingan bayar ke TU UPT atau cleaning service nya UPT untuk memberi “sedikit uang” agar hasil TOEFL di sertifikatnya bisa di upgrade =>

    Alasan ketiga
    Tidak ada tindakan tegas dari pihak ITS terutama pihak UPT bagi karyawan-karyawnya yang “nakal”. hal ini membuat semangat mahasiswa jadi loyo untuk berjuang menggapai skor TOEFL yang tinggi. Toh berbuat curangpun ndak akan ada sangsi dan orang lain lain pun gak tahu kita berbuat curang apa ndak.

    Alasan ke empat
    Masa berlaku sertifikat TOEFL yang terbatas menjadikan suatu masalah besar, walaupun saya SETUJU dengan batasan waktu ini. KETIDAK PASTIAN persetujuan dosen pembimbing TA untuk menyetujui mahasiswanya maju sidang membuat mahasiswa berpikir ulang, untuk test awal. Ya kalau dosen setuju kalau ndak gimana? Rugi uang khan
    Nah inilah yang mendorong mahasiswa “kost-an” untuk test TOEFL deket-deket dengan hari H sidang
    Dan ini sering kali menjadi BUMERANG karena nilai tesr bisa jatuh karena berbagai faktor yang bisa dimaklumi. Seperti pikiran yang gak fokus karena deadline penyerahan draft, sakit dll

    Alasan ke lima
    Ketidak sinkronan tindakan instansi terkait dalam mendukung program TOEFL ini. Saya yakin ITS sudah mengantisipasi para mahasiswa yang kira-kira bermasalah dengan TOEFL nya, lewat berbagai macam programnya seperti les gratis dari ikoma kalau gak salah ampe 3 level berurutan bagi mahasiswa semester 7 dan 8 dll. Cuman ada suatu kejadian menarik yang saya alami sendiri. Suatu ketika waktu masih mahasiswa, saya main ke UPT. Trus tiba-tiba mbak TU UPT tanya “Mas punya kakak kelas yang udah semester 7 ato 8 gak? Soalnya ada les gratis dari IKOMA ITS bagi mereka”
    Lhoh gak salah dengar nih??? Harusnya khan hal-hal seperti ini sudah dikordinasikan sejak awal antar instansi yang berkaitan. Kalau udah kejadian seperti ini dan mahasiswa gak tahu siapa yang salah???

    Alasan ke enam
    Adanya selisih yang lumayan lama antara test dengan pengumuman. Inilah yang jadi masalah besar. Coz kalau udah terdesak waktu. Dan kita belum tentu yakin hasil test kita juga bagus. “sering kali kawan-kawan kita” menyiasatinya dengan menyewa teman lain yang OK TOEFL nya sekedar berjaga-jaga aja, kalau kalau (hasil testnya jeblok) khan ada cadangan sehingga tetap bisa maju sidang

    Tetapi lebih dari itu, apapun alasanya, seharusnya praktek-praktek semacam itu sedikit demi sedikit harusnya kita kurangi demi kita kemajuan bangsa kita. Betul gak?

    Wass (maaf bila gak berkenan)

    Komentar oleh Khoirul | Februari 14, 2007 | Balas

  14. heleh.. ta’bilangin yang ngelola tempat tes lho ya.. cara #3 tu.. bisa lewat oknum aja (weleh.. bahasane kaya di koran Memo) Skarang pun orangnya sudah diberhentikan dengan tidak hormat (mestine pake rem, kan, Ko?)

    beruntunglah orang2 yang mau blajar… Seperti kata orang bijak bestari nan cantik (= aku :D) “learning foreign languages won’t kill you” ;)

    Komentar oleh goodhyde | Februari 15, 2007 | Balas

  15. Oohh.. gitu toh cara curangnya…
    Tapi sekarang ada ada “pemaksaan” kelas TOEFL Preparation, temen2 yang stel yakin langsung test TOEFL aja terpaksa harus ikut kelas preparation. Yaaah…

    Komentar oleh d-nial | Februari 19, 2007 | Balas

  16. Yah .. memang begitulah cak alief kondisi masarakat kita, selalu saja ada yang membuat sesuatu yang baik menjadi tidak baik dengan cara-cara yang tidak baik/in-konstitusi. Bayangin saja kalau ini terjadi di setiap tempat yang sudah diatur dengan demikian baik. Ibarat virus, pasti lambat atau cepat akan menyebar dan suatu saat akan membuat yang baik menjadi hancur.

    Komentar oleh purwadi06 | Maret 1, 2007 | Balas

  17. Koq gitu…..

    alief: dibuat gini juga gpp ning…

    Komentar oleh tik-tik | Maret 2, 2007 | Balas

  18. wuiiii mantep boz,,,
    empat jempol dech bwt ente!!
    pro kontra ntu wjar koq,,,,

    Komentar oleh aditya | April 22, 2007 | Balas

  19. Selamat sore cak (lagi sore di UGM),
    Urun rembug. Saya agak kurang setuju dengan pendapat mas Khoirul yang menyatakan bahwa mepetnya waktu sidang menjadi penyebab banyaknya kecurangan di dalam tes toefl. Bukankah skor tes toefl itu berlaku selama 2 tahun. Jadi kalau ada mahasiswa yang merencanakan lulus pada tahun 2005, maka 2 tahun sebelumnya dia bisa melakukan tes toefl. Aku juga tidak setuju dengan pendapat mas Khoirul yang menyatakan bahwa test toefl itu membuang-buang uang. Bukankah skor tes toefl itu bisa digunakan untuk melamar pekerjaan atau beasiswa. Misalnya beasiswa Monbukagakusho Jepang, Aminef Amerika, Areva Inc. dll. Saya sendiri belajar untuk test toefl berbulan-bulan sebelum skripsi dan sidang, dan alhamdulillah skor toefl saya diatas 550. Seorang mahasiswa seharusnya membuat perencanaan kapan dia akan lulus, sehingga kalau ada kendala (semisal test toefl) dia masih bisa mengatasinya jauh-jauh hari sebelumnya. Aku dulu juga merencanakan untuk lulus 4 tahun dan alhamdulillah dapat tepat waktu. Kebetulan hari senin kemarin Rhenald Kasali memberikan seminar di UGM, dan beliau mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswa Indonesia suka melakukan sesuatu secara instan. Ketika beliau menanyakan kepada semua mahasiswa yang datang pada seminar itu siapa saja yang belajar cuma pada saat ujian, maka bisa ditebak bahwa hampir semua mahasiswa di seminar mengacungkan diri. Padahal mereka adalah mahasiswa penerima beasiswa Tanoto Foundation yang IPnya diatas 3.30 (IP minimal untuk mendapatkan beasiswa Tanoto). Memang faktor pendidikan di Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian mahasiswa Indonesia suka hal-hal instant, tetapi janganlah hal tersebut dijadikan alasan untuk berbuat curang. Jadikanlah hal tersebut sebagai tantangan untuk maju, untuk merubah Indonesia menjadi sebuah negara yang lebih baik. Sekedar tambahan saja, honor saya sebagai asisten dosen (syarat dosen UGM adalah minimal S2) di UGM tidaklah seberapa, bahkan saya harus sering mengontak orang tua di surabaya untuk nomboki saya setiap bulannya dan saya juga bekerja di luar jam saya sebagai asisten dosen hingga larut malam. Tetapi saya tidak mau menyerah, dan itu dibuktikan dengan 9 karya ilmiah saya yang terbit baik di tingkat nasional maupun internasional. Saya harapkan hal ini bisa menjadi motivasi bagi teman-teman yang lain. You may be a brilliant student, but it takes a lot of hard work to be the right student!

    Komentar oleh Teddy Ardiansyah | April 26, 2007 | Balas

  20. setuju ama pendapatnya mas teddy ardiansyah…
    untuk jd yg terbaik tu tdk bs diperoleh dg cara yg instant…
    Minta kiat2 biar dapat skor TOEFL tinggi donk mas, krn skor TOEFL-ku msh dibwh 500..
    Matur suwun…

    Komentar oleh novi | April 30, 2007 | Balas

  21. Kiat belajar agar skor TOEFL tinggi, saran saya adalah pakai buku karangannya CLIFF (bukan Clif Muntu loh). Bukunya lumayan murah plus 3 kaset harganya cuma sekitar 60 ribu. Aku belinya di toko buku Quantum di surabaya. Di buku cliff disebutkan cara-cara praktis agar skor toefl dapat tinggi, karena buku ini memang didesain untuk orang yang sudah tahu dasar-dasar bahasa inggris jadi langsung to the point bahasannya. Aku dulu belajarnya setiap hari, minimal 3 jam sehari. Kalau buku toeflnya barron sih saya rasa buat orang-orang yang belum mengerti tentang bahasa inggris (jadi banyak teorinya daripada praktek).

    Komentar oleh Teddy Ardiansyah | April 30, 2007 | Balas

  22. # Novi:
    Bener sarannya cak teddy, saya belajarnya juga pakai buku Cliff. Kalo saya belinya di toko buku manyar.
    Selain itu juga belajar dari CD TOEFL yang buanyak sekali ‘keleleran’ di komputer-komputer Teknik Mesin :)
    Kalo try out nya, nyoba soal-soal dari buku yang diberi sewaktu test TOEFL internasional. Kalo gak salah ada 2 tipe soal.

    #Teddy:
    Terima kasih atas saran-sarannya, kayake saya juga harus terus ‘istiqomah’ belajar Inggris :)

    Komentar oleh Alief | April 30, 2007 | Balas

  23. Cak Alief, Novi iku sopo to cak?

    alief: aku yo gak ngerti, sing pasti manusia lha… :) Ayo Novi, ngaku dong, siapa kamu? :D

    Komentar oleh Teddy Ardiansyah | Mei 1, 2007 | Balas

  24. kayaknya dari dulu (sekitar tahun 98 – pas saya masuk)udah ada praktek penjokian toefl ini….. kalo gaya orang indonesia sih itu bisa dimaklumi……. yang penting khan udah lulus TA, lulus 144 sks (kalo saya 152 sks) toefl seh gak penting…..

    tapi itu khan alasan naif……

    bagi joki, mungkin salah satu cara untuk dapat sedikit uang hehehehe……..

    yang jelas saya gak setuju ama sistem penjokian ….apapun bentuknya…. (toefl-ku 520)

    Komentar oleh andik's (m41) | Mei 16, 2007 | Balas

  25. Waduh,,, di sekolah aku juga ada sarat ikutan UAN nih, diantaranya kita mesti ikut dulu TOEFL-like.
    Tapi setuju kok,, biar masa depan pendidikan di Indonesia lebih cerah,, he.. iya nggak??

    Komentar oleh Panji Cahya M | Desember 17, 2007 | Balas

  26. [...] 2007 cak alief membuat sensasi melalui postingan Menjual Kejujuran Demi ITS-TOEFL score. Tidak kurang 25 komentar terdaftar dalam postingan ini. TOEFL yang bagi sebagian mahasiswa ITS [...]

    Ping balik oleh Kaleidoskop-Blog™ cak alief 2007 « Blog cak alief | Desember 21, 2007 | Balas

  27. Artikel yg menarik nih cak Alief, thx atas saran kaleidoskopnya. Kelihatannya saran kelima itu yang paling top deh. Tapi menurutku TOEFL itu sebaiknya jangan dicurangi karena sangat berguna bagi diri sendiri. Siapa yang tidak bisa bahasa Inggris maka nilai persaingannya akan menurun drastis.

    Komentar oleh Adi | Desember 21, 2007 | Balas

  28. *catet cara jitu lulus TOEFL*
    *dilempar asbak* :mrgreen:

    Komentar oleh p4ndu_454kura | Desember 21, 2007 | Balas

  29. # panji:
    selamat belajar deh supaya TOEFL nya mencukupi… :)

    # Adi:
    sip Di, memang cara kelima top habis. Resiko paling kecil… Memang mahasiswa di Mesin ITS itu kreatif2 kok :)

    # Pandu:
    hehe… Kamu ntar pake cara yang nomer berapa? Belajar aja yang rajin, dijamin gak rugi kok :D

    Komentar oleh alief | Desember 22, 2007 | Balas

  30. direkomendasikan sama deteksi.wp.com ke sini soalnya mau TOEFL, tapi ngak ah, pake diri sendiri sajalah :D

    Komentar oleh aRuL | Januari 11, 2008 | Balas

  31. Sebenernya tujuan diberlakukannya Tes TOEFL pada calon wisudawan bahkan calon mahasiswa di banyak perguruan tinggi di Indonesia, adalah baik dan sangat diperlukan. Hal ini mengingat bahwa pada masa kini kebutuhan akan TOEFL Score sangat dibutuhkan untuk melamar pekerjaan maupun untuk memperoleh beasiswa baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

    Kalau pihak perguruan tinggi tidak mempersiapkan para calon alumninya untuk memperoleh score yang tinggi, ya bisa-bisa menurunkan kualitas para alumni perguruan tinggi tersebut.

    Seseorang dianggap “bisa” berbahas Inggris, ketika dia dianggap “lancar” berkomunikasi verbal dengan bahasa Inggris.Tapi… bukankan komunikasi verbal tidak mementingkan keakuratan structure dan vocabulary, yang penting “I ngerti, U paham”. Padahal dalam dunia akademik maupun kerja, yang dibutuhkan lebih dari itu, seperti: bagaimana membaca literatur2 berbahasa Inggris dengan cepat sekaligus memahami isinya, menulis sebuah artikel atau paper berbahasa Inggris. Semua itu membutuhkan structure yang benar dan vocabulary yang luas. Bagaimana cara menguji itu semua kalu tidak dengan TOEFL Test??? Kalau menguji kemampuan bicara, bisa dengan cara interview aja, tapi kalau kemampuan menulis?? masak harus bikin paper bahasa Inggris ditempat?!

    Nah…. kemajuan pendidikan seperti ini memang berat pada awalnya, tapi bagi orang yang punya semangat, usaha, dan kemampuan yang kuat pasti akan terasa biasa saja setelah dijalani.

    Persiapan akan TOEFL Test pasti akan sangat dibutuhkan untuk masa depan. Karena tuntutan jaman maka tuntutan akan nilai akademis juga akan semakin tinggi termasuk capaian TOEFL Score. Kalau ketika kelulusan S1 hanya butuh 450, tapi ketika S2 akan menjadi 550. Kalau mau dapet beasiswa malah 580. Semakin tinggi kan..!!! Maka dari itu, tidak ada salahnya kita mempersiapkan diri untuk mwngahadapi TOEFL Test sehingga memperoleh score yang tinggi. Buat apa score 450, kalau dengan mengambil kursus persiapan TOEFL kita malah bisa mendapat 550. Maka itu juga, kita harus pintar-pintar pilih lembaga yang menawarkan TOEFL Preparation. Paling tidak, kita harus pilih yang qualified program dan fasilitasnya.

    Komentar oleh Imel | Maret 5, 2008 | Balas

  32. Analisis yang DAHSYAT!!! Analisis yang bagai sayur tanpa oli… Selera humor tinggi…

    Komentar oleh ELHOBELA | Agustus 13, 2008 | Balas

  33. Entah kenapa nyasar ke post ini lagi. Besok giliran saya tes TEFL maba ITS. :mrgreen:

    Komentar oleh p4ndu_454kura® | Agustus 13, 2008 | Balas

  34. menunjukkan mhsiswa ITS cerdas, ulet dan kreatif. Namun belum ber-“amanah”.

    Komentar oleh PutraJaya | Januari 26, 2011 | Balas

  35. Sekedar menginformasikan bahwa syarat kelulusan toefl di ITS saat ini 477. Tapi memang yang diujikan cukup dengan toefl lokal, tidak perlu yang Institutional (ITP-TOEFL). Fenomena toefl berulang-ulang kali masih ditemui hingga sekarang untuk mencapai nilai di atas syarat.

    Saya pernah di-curhat-i oleh mahasiswa2 S2 (yg notabene dari daerah) mengenai toefl ini. Uniknya ada yang memang hafal seluruh tipe soal toefl di ITS karena sudah test lebih dari 20x (anehnya ya tetap saja nilainya tidak lolos heheheeh). Mahasiswa2 S1 yang mengeluh memang ada, tetapi saat ini mahasiswa S1 cukup pandai bahasa inggrisnya kok sehingga tidak terlalu banyak yang mengeluh (seperti cerita2 dulu).

    Saya pernah penasaran untuk mencoba, apakah memang test toefl di ITS sedemikian susahnya. Saat saya coba test lokal ternyata nilai saya ya cukup baik (dg kepala 6 di depan). Lalu saya coba juga test ITP-TOEFL (dg biaya 300.000) dan hasilnya lebih rendah hampir 20poin, tapi masih cukup jika ingin mendaftarkan program S3 Aminef pun (saya tidak mendaftarkan aminef tapinya). Sehingga kesimpulan saya, memang bukan salah di soalnya atau ada permainan nilai yg direndah2kan, karena percobaan saya tidak secara signifikan menunjukkan hal itu. Jik saya ketika test mendapatkan nilai di bawah 450, baru saya yakin ada permainan nilai oleh UPT. Tapi tidak kok!

    Jadi jangan berhenti berusaha..

    Demikian sekelumit cerita saya.. Terima kasih!

    Komentar oleh hsputro | Juli 7, 2011 | Balas

    • waaah pak danang jelas aja..kan pinter b.inggris hehe :)

      Komentar oleh mey | Juli 8, 2011 | Balas

    • wa klo sampean uda g bisa diragukan lg pak,hehehe

      Komentar oleh BiFa | Juli 9, 2011 | Balas

  36. ORANG UPT “BODOH”, G BISA DIAJAK MAJU MENGIKUTI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

    kyknya itu ungkapan yang tepat, gimana g “BODOH”??? mereka menuntut semua mahasiswa lulus TOEFL dengan nilai 477, dengan fasilitas yang minimalis…ckkckckck

    1. RUANGAN yang g memadai, dipikir secara logika saja, berapa jumlah mahasiswa yang “harus” tes TOEFL supaya bisa wisuda?? mungkin lebih dari 2000 mhs per angkatan, sedangkan ruangan yang dipakai hanya 4 ruangan, wah….gimana mau nampung banyak mahasiswa?
    2. WAKTU. udah ruangannya dikit, sehari cuma beberapa gelombang aja…g efisien sama sekali
    3. JADUL. nah…ini yang memprihatinkan. Gimana g prihatin? namanya aja UPT Bahasa yang ada di “ITS”, masak tesnya masih pakek kertas dkk…. g memenfaatkan kecanggihan teknologi, buat apa ITS punya mhs Informatika, SI? tes aja g pakek komputer, g praktis!!!! coba klo pakek komputerisasi, mahasiswa bisa enak dengerin listening lewat headset, kan jadi lebih fokus.
    4. NILAI. wah…ini yang membuat jengkel!!! nilai keluar biasanya 3 hari setelah tes, lama bgt…..coba pakek sistem komputerisasi, tuh nilai bisa keluar hari itu juga, itu bisa membantu mahasiswa yang g lulus untuk secepatnya mempersiapkan tes berikutnya.

    masak mahasiswa ITS g bisa wisuda hanya gara2 TOEFL??? saya tau tujuannya baik, tapi dengan tuntutan nilai yang segitu tingginya, seharusnya lebih “PROFESIONAL” lagi donk,…jangan menutup mata dengan perkembangan teknologi. sebagai salahsatu mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember merasa prihatin….kalo istilah kerennya “ANE MIRIS GAN”

    harapannya cuma 1 sech, semoga niat baik kalian untuk memajukan bhs Inggris anak2 ITS bisa terwujud tanpa harus mengorbankan WISUDA dengan tidak lulus TOEFL.

    terima kasih

    Komentar oleh chi2 | Juli 7, 2011 | Balas

  37. WONG UPT BAHASA JANCOK KABEH!!!
    TOEFL DADI BISNIS,,ASU!!!

    SEKALI TES 40.000,,MATANE TA!!! WES LARANG,HASIL TES METUNE SUWI!! JANCOK!!!!!
    DAFTAR SAIKI WULAN NGAREP BARU ISO TES,,KAREPE OPO???
    TRUS NEK GAK LULUS GARA2 TOEFL,,YO BERARTI SIAP2 ONOK KORBAN AE,,TAEK!!!!

    YO NGONO IKU NEK UTEK CAMPUR TAEK!!!

    sorry,,lambeku susuk’an taek..khusus nek ngomongno wong upt bahASU sing JUAAANCOOOOKKK!!!

    Komentar oleh uptbahASU | Juli 8, 2011 | Balas

  38. apa ini mahasiswa ITS? yang nama kampusnya tersohor??? tragis sekali kawan, dimana pemuda dituntut sebagai generasi perubah, malah melakukan hal yang sepantasnya tidak boleh dilakukan…

    Komentar oleh Bara | Juli 8, 2011 | Balas

  39. Yang mengatakan hal ini :

    “WONG UPT BAHASA JANCOK KABEH!!!
    TOEFL DADI BISNIS,,ASU!!!

    SEKALI TES 40.000,,MATANE TA!!! WES LARANG,HASIL TES METUNE SUWI!! JANCOK!!!!!
    DAFTAR SAIKI WULAN NGAREP BARU ISO TES,,KAREPE OPO???
    TRUS NEK GAK LULUS GARA2 TOEFL,,YO BERARTI SIAP2 ONOK KORBAN AE,,TAEK!!!!

    YO NGONO IKU NEK UTEK CAMPUR TAEK!!!

    sorry,,lambeku susuk’an taek..khusus nek ngomongno wong upt bahASU sing JUAAANCOOOOKKK!!!”

    Orang tersebut sangat memalukan dan pengecut.. Sebaiknya comment itu di hapus aja oleh adminnya..
    Sangat memalukan dan tidak berpendidikan..

    Komentar oleh taufan | Juli 8, 2011 | Balas

    • sangat wajar jika ada komentar seperti itu,saya sendiri juga pernah menjadi korban permainan bisnis upt bahasa.
      saya toefl sudah 10 kali tapi tetap tidak lulus,memang saya akui kemampuan english saya tidak begitu baik.akhirnya saya putuskan untuk memakai joki. keanehan terjadi, ketika joki saya hanya bisa meraih nilai toefl 413 saja. alangkah anehnya,karena joki tersebut nilai toeflnya sendiri 547 dan nilainya konstan diantara itu. dy memang mempunyai kemampuan bahasa inggris diatas rata-rata. tapi nyatanya ketika memakai nama saya,kok nilainya jatuh????? track record nilai saya memang berkisar 347-400 saja pada 10 kali tes. tapi setelah tes lagi sebanyak 5 kali akhirnya lulus toefl juga. total 15 kali tes toefl (35.000 x 15 = 525.000). tidak habis pikir saya dengan hal itu. bukan saya saja yang mengalami hal ganjil seperti ini, masih banyak mahasiswa its lainnya yang senasib dgn saya.

      sangat rendah dan lebih memalukan lagi jika orang-orang yang mengaku berpendidikan dan mempunyai posisi penting melakukan tindakan-tindakan yang merugikan orang lain dengan “mempermainkannya” demi uang. siapa yang tidak tergiur dengan lahan basah di upt bahasa? sebulan sudah puluhan juta. apalagi sekarang mata kuliah b.ing lanjut di hapus, semakin “basah” saja upt karena semua mahasiswa its wajib tes toefl. saya yakin ada ribuan mahasiswa its yang kemampuan b.ing nya dibawah rata-rata. FAKTANYA coba lihat hasil tes toefl, prosentase yang lulus dengan yang tidak lulus, jomplang bos! yang lulus bisa dihitung dengan jari. akankah rektor yang baru meninjau kembali kewajiban tes toefl untuk syarat kelulusan? semoga saja ada solusi cerdas.

      Komentar oleh penengah | Juli 10, 2011 | Balas

  40. Sekedar Share pengalaman : sebelumnya saya test di UPT hampir 4 kali, saya ga pernah joki ato curang, maklum aja sebelumnya sudah kursus bhs. inggris sejak SMA, dan beberapa bulan sebelumnya juga persiapan TOEFL. nah kejanggalan saya rasakan karena perbedaan nilai saat saya kursus dengan saat TEST di UPT . . .kalo kursus bisa sampe 550+ kalo TEST di UPT cuma 450+, padahal dulu waktu maba sudah sampai 477. . .akhirnya ambil ITP TEST yang sama2 diselenggarakan UPT tapi penilaian skornya dari lembaga ETS. . . . dan sim salabim . . . . hasil ITP saya 550+ . . . walaupun harus kerepotan untuk mengurus apakah hasil ITP bisa diterima sbg syarat yudisium atau tidak, akhirnya ITP saya diterima . . . selamat tinggal UPT, . . . .semoga bisa lebih JUJUR dan ADIL lagi (wave)

    Komentar oleh Handoko | Juli 10, 2011 | Balas

  41. 4 tahun berlalu, rektor berganti, dan situasinya tetap sama… :D

    Komentar oleh rizkianto | Juli 10, 2011 | Balas

  42. keren :)
    cuma itu yang bisa aku ucapkan

    Komentar oleh johnterro | Juli 11, 2011 | Balas

  43. Dear P. Handoko,

    ETS itu dimana yah? bisa kasih info lengkapnya, mengingat saya juga udah putus asa buat test toefl di its, udah 3kli, gagal terus, mana birokrasinya super lelet pula, ditunggu infonya yah ?

    Komentar oleh yudya | Juli 15, 2011 | Balas

  44. eh?bru taw UPT sebobrok itu….

    Komentar oleh eva | Juli 21, 2011 | Balas

  45. mas bro2 pengalaman teman2 smua disini sama dengan teman ane,, memang MAHAL harga sebuah KEJUJURAN dan itu PILIHAN,,,

    soalnya pengalaman teman ane yang punya toefl 550 tes di upt bahasa its cuma sekali tes, kemudian dia diminta tolong jokiin temen ane juga yg satu jurusan dimana dia udah tes toefl berulang kali ( klo gk salah 6 x ).. dan pada saat pengumuman hasil tes yang di jokiin terjadi hal yang mengagetkan hasil tes yang keluar cuma 420,,, kesalahan terjadi dimana??? SISTEM?? SOAL?? PERSON?? or WHAT???

    semoga pihak UPT BAHASA ITS juga ada yang membaca thread ini,,,(semoga),,,

    Komentar oleh ht21tmb | Juni 5, 2012 | Balas

  46. Joki handal pun bekum tentu dapat membantu menaikkan nilai TOEFL. Konon, hasil TOEFL dilihat dari riwayat tes sebelum2nya. Jika Anda yakin dengan kemampuan Anda, jangan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa (tapi sedikit lebih mahal) atau tes TOEFL lah saat mendekati yudisium. simsalabim… barisan 477 berderet bak gerbong kereta api

    Komentar oleh CC: Cempluk Cantik | Juli 26, 2012 | Balas

  47. udah 5 tahun yg lalu, tapi problemnya tetap aja sama.. gak ada perubahan, gak ada itikad baik dari kampus utk memberi solusi atas keluhan para mahasiswanya terutama ttg toefl..

    Komentar oleh petapemikiran | Agustus 11, 2012 | Balas

  48. hmmm inget toefl sepertinya saya juga korban system yang kurang baik. mengingat toefl pada saat itu tidak ada sosialisasi tiba2 1 bulan menjelang wisuda diharuskan toefl. kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh oknum2 UPT Bhasa di ITS. namun setelah gagal ikut wisuda (MAGAWIGATO=MAHASISWA GAGAL WISUDA GARA2 TOEFL) saya berhasil mencoba terus (karena wktu itu tdk ada perkuliahan, hanya test saja = sialan) akhirnya lulus. semoga kedepannya UPT Bhasa lebih baik. vivaaat

    Komentar oleh aryobayuw | September 5, 2012 | Balas

  49. Undeniably believe that that you said. Your favorite justification seemed to be at the internet the
    easiest factor to be aware of. I say to you, I certainly get irked whilst folks
    consider worries that they just do not know about.
    You managed to hit the nail upon the highest and also outlined out
    the whole thing with no need side-effects , folks could take a signal.
    Will likely be again to get more. Thanks

    Komentar oleh Supplements and Vitamins | September 10, 2012 | Balas

  50. gila ya cak :lol:

    Komentar oleh Farizal Akbar | Januari 18, 2013 | Balas

  51. My family members all the time say that I am wasting my time here at
    web, however I know I am getting knowledge all the time by reading thes fastidious content.

    Komentar oleh do people buy instagram followers | Februari 26, 2013 | Balas

  52. good idea iki the power of kepeped jenenge. lek kepeped monggo dipakai. lek gak kepeped mending sing alami ae cak… (y)

    Komentar oleh Dayang | Mei 10, 2013 | Balas

  53. Can I just say what a comfort to find somebody that genuinely understands what they’re talking about online. You definitely know how to bring a problem to light and make it important. A lot more people should read this and understand this side of the story. I was surprised that you aren’t more
    popular given that you certainly have the
    gift.streetdirectory

    Komentar oleh streetdirectory | Juli 6, 2013 | Balas

  54. It’s so tragic, Why Administrative system in Indonesian, specially in many Government institutionssuch as PTN^2 are always F**king bad because its presence always restricts students’ ability and depletes their money.

    And i am proud for myself because i never do stupid those things; even though i am not a PTN’ student.

    Thank you

    Yumakemestronger

    Komentar oleh elfdemore | Juli 27, 2013 | Balas

  55. kuliah itu pake duit bro……… klo gak lulus lulus itu kasihan bapak emak di kampung. toh ntar klo dah lulus, kayak gelandangan cari kerja. sing salah sopo?????

    Komentar oleh halim | Juni 27, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: