Buku Kalkulus Gratis

Big surprise, itu kata Profesor. Gift from the sky, itu kata teman Lab. Kataku sendiri: nggumun… Dapat kiriman buku Calculus baru, hardcover, disertai cd dan dvd yg berisi power point, solution manual, animation, video lesson. Wah pokoknya komplit dan gratis, tanpa minta lagi.
Buku Calculus Early Transcendentals 6ed, yang dikarang oleh James Steward, benar2 membuatku nggumun. Segitunya publisher buku ini mempromosikan buku2nya. Bahkan dosen kontrak yang statusnya gak jelas kaya aku aja dikirimin.
Polisi yang Tidak Bisa Disogok
“Hanya ada 3 polisi yang tidak bisa disogok: Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur”. Demikian sebuah kutipan yang tercantum di halaman depan buku, Hoegeng -Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa-. Percaya gak percaya, setelah membaca buku itu sampai habis, akhirnya di pikiran saya tergambarlah sesosok polisi yan baik hati, bersih, dan rasanya sulit dijumpai saat ini… Mungkin polisi itu ada, tapi saya belum mengenalnya…

Sumeleh oh Sumeleh…
Bulan lalu aku nggak pernah tahu kata sumeleh, dengar aja tak pernah. Kalopun memori pelajaran bahasa daerah semasa SD dan SMP aku putar ulang, aku tetap yakin tak akan muncul kata sumeleh. Namun saat aku baca buku GO jawapos, kutemukan kata itu. Sifat dari Eric Samola yang sumeleh, begitu tulis Dahlan Iskan.
Oh ya, selama di Surabaya 3 bulan ini, Dahlan Iskan jadi favoritku. Bagaimana tidak, 6 bukunya semua aku punya dan sudah finish membacanya. Tulisannya yang berbentuk cerita, sangat mengasyikkan untuk diikuti, bahkan terasa sayang kalo ditinggalkan. Pelajaran hidup dan info berharga seringkali kutemukan dalam tulisannya.
Ketika kata sumeleh muncul, aku jadi penasaran. Apa sih artinya? Pentingkah kata sumeleh untuk mencapai sukses? Tapi pikiran itu menguap begitu saja, bersama hembusan pikiran2 lain. Kesan pertama sudah menggoda, namun tak nyantol di hati.
Nah saat koran beberapa hari yang lalu, kata sumeleh kutemukan lagi. Butet menuliskan, pada diri WS Rendra ada sifat sumeleh. Di Eric ada sumeleh, di Rendra juga. Aku jadi penasaran, apa sih sumeleh itu?
Pasrah, menerima apa adanya. Ah masak itu sih definisinya? Eric lho gigih dlm ekspansi bisnis, pekerja keras. Rendra malah pendobrak jaman, kritis, jauh dr kesan pasrah. Masak sifat2 yg sudah umum dketahui itu didefiniskan sbg pasrah oleh Dahlan dan Butet? Lha kalo sifat mereka itu dibilang pasrah, trus gak pasrahnya kaya apa?
Mungkin sumeleh itu tawakkal kali. Berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai impian, tg hasilnya itu sudah digariskan Nya. Toh semua adalah yang terbaik. Itu mungkin lebih cocok dalam mendefinisikan sumeleh. PASRAH dengan kapital di semua huruf, mulai P sampai H.
Laskar Pelangi Memang Fiktif
Namanya novel pasti fiktif donk… Kalo kisah nyata, itu namanya buku nonfiksi, diary, biografi; bukan novel… Bener gak?
Kalo ada orang yang bilang bahwa di novel dan film Laskar Pelangi tidak menggambarkan keadaan di Belitong, ya trus mau apa… Masak dibilang itu mencemarkan nama baik Belitong… hehe…
Kalo ternyata Andrea Hirata tidak pernah punya teman semasa SD atau bahkan tidak sekolah di SD Muhammadiyah, lha trus apa dia gak boleh menjadi tokoh Ikal dalam novel Laskar Pelangi?
Masak terus kita merasa tertipu oleh Andrea dan menjadi tidak suka dengan Laskar Pelangi? Itu masih yang Laskar Pelangi nya lho ya… Belum yang Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov… Di semua novel itu pastilah Andrea Hirata berbohong, berkhayal, berimajinasi dan tentu menipu pembaca semuanya… Karena memang yang namanya novel pasti fiktif…
Namun demikian, banyak pelajaran, hikmah, inspirasi, yang bisa kita petik dari novel-novel karya Andrea Hirata. Terlepas dari gosip yang beredar bahwa Laskar Pelangi itu fiktif atau nyata… Komentar sampean?
Apa yang Dia Pikirkan?
Ketika berkunjung ke Taipei Zoo beberapa pekan yang lalu, saya sempat memotret foto seekor Gorila yang lagi duduk santai. Saat itu saya lihat dia sedang duduk bersandar pada tembok dengan kaki bersila dan kayaknya lagi merokok selinting ranting
Memangnya apa sih yang sedang dia pikirkan?
Saya kemudian teringat sebuah novel ‘Life of Pi‘ yang pernah saya baca 1 tahun lalu. Di novel itu ada sebuah ‘pembicaraan’ menarik tentang: apakah seekor binatang lebih suka hidup di alam bebas ataukah di kandang seperti Gorila yang saya foto itu?
Buku Sakti ‘Schaum’s Outline’
Sudah lama saya gak baca buku ‘normal’. 2 bulan terakhir ini saya lebih sering baca text book, bahan kuliah, dan buku sakti ‘Schaum’s Outline’. Saya bilang buku sakti karena dari buku itulah saya bisa tahu jawaban dari homework, soal kuis yang akan keluar, dan soal ujian yang akan diujikan. Kesaktiannya sudah teruji sejak saya masih undergraduate (4.5 tahun), ngajar (2 tahun), dan graduate (2 bulan). Sampean sudah tau kesaktiannya? Kalo belum ini tak beritahu….
CHANGE yuk…
Sudah lama sekali saya tidak menulis postingan di kategori ke-buku-an. Apakah itu berarti saya lagi tidak aktif membaca banyak buku? Jawabnya: YA. Dalam 2 bulan ini saya hanya asyik membaca 5 buku, yang sering tak bolak-balik dan corat-coret. Buku-buku itu adalah : The 8th Habbit, Spiritual Capital, Spiritual Quotient, Change, dan Re-Code Your Change DNA. 3 buku pertama adalah buku terjemahan, sedangkan 2 buku terakhir adalah tulisan pak Rhenald Kasali, dosen UI, yang mungkin sampean semua sudah tahu.
BLINK & THINK
Hari kamis yang lalu, saya jalan-jalan ke toko buku Gramedia yang baru buka di Royal Plasa. Maklum aja, waktu itu ada diskon sampai 30% untuk semua barang kecuali elektronik. Jadi saya pikir, saat itu adalah kesempatan yang pas untuk mborong buku. Ada beberapa buku yang sudah saya “inting-inting” untuk harus dibeli.
Ketika sudah sampai, saya agak kaget karena ternyata Gramedia Royal kecil banget kalo dibandingkan dengan yang di Delta ataupun TP. Dan sesuai dugaan, buku yang dijual pun tidak banyak yang menarik perhatian saya. Setelah keliling-keliling, hanya ada 2 buku yang menarik hati. Satu buku tentang Kristalisasi Keringatnya Tukul, dan satu lagi tentang THINK, lawannya BLINK.
Kuliah Sambil Cerita tentang cak Google
Seminggu kemaren, dalam tiap kuliah yang saya berikan, saya selalu menyelipinya dengan cerita tentang cak Google (bukan mbah Google ataupun om Google)
Maklum aja, saya barusan selesai membaca buku Kisah Sukses Google, yang ditulis oleh David A Vise. Buku itu benar-benar luar biasa, jadi tidak tahan kalo tidak menceritakannya ke banyak orang (termasuk ke mahasiswa saya).
Dan seperti biasa, reaksi mahasiswa kalo diberi cerita, (kayaknya) lebih senang ndengar cerita dibandingkan ndengar materi perkuliahan… Mereka dengan antusias (menurut dugaan saya) mendengar dan berkomentar tentang Google. Mungkin itu dikarenakan kalo saya kasih materi kuliah terlalu “mbulet”, “susah dimengerti” dan “tidak membumi”. Atau mungkin juga karena mahasiswanya “ngantuk”, “aras-arasen”, dll sehingga gak memperhatikan materi kuliah. Tapi lek dengar cerita… wah senenge minta ampun (sekali lagi, itu menurut saya)



