Prestasi dan Budi Pekerti
Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2011 adalah ”Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa”. Sebagai pilar kebangkitan bangsa, pendidikan karakter yang dimaksud paling tidak mencakup 2 makna. Pertama adalah karakter yang berarti santun, berbudi pekerti, berakhlak mulia, sebagaimana pada umumnya karakter dimaknai. Serta yang kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah memaknai karakter sebagai rasa penasaran intelektual, ingin mengetahui lebih dalam, yang ujungnya melahirkan prestasi intelektual.
Kami kira itulah kurang lebih maksud dari sub tema Hardiknas tahun ini ”Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Yang jika diartikan dalam konteks PPI Taiwan berarti ”Terkemuka dan Transparan”. Maksudnya adalah menjadikan terkemuka sebagai raihan prestasi, ataupun sebaliknya dengan prestasi maka menjadi terkemuka. Serta menjunjung nilai-nilai transparansi sebagai komponen utama budi pekerti dalam aktifitas PPI Taiwan.
Pemberdayaan Potensi Indonesia
Kepanjangan dari PPI lazimnya dikenal dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia, ada yang lain mengatakan Persatuan Pelajar Indonesia. Kalo di Taiwan ini bisa juga menjadi Pengikat Pasangan Indonesia. Dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya memberikan definisi baru untuk kepanjangan dari kata PPI, yakni Pemberdayaan Potensi Indonesia.
Kata kunci untuk pemberdayaan paling tidak ada 2 yakni Mengontrol dan Melepaskan. Mengontrol berarti mengontrol diri sendiri untuk bisa berperilaku yang baik dan menjadi teladan. Bukan mengontrol orang lain untuk bekerja ini dan itu. Sementara melepaskan berarti melepaskan gairah dan bakat orang lain untuk bekerja sesuai bakat yang dimilikinya. Bukan melepaskan dalam arti membiarkan terserah kamu mau berbuat apa.
Gagasan, Tim, dan Jejaring
“Yang kita butuhkan bukan masalah kemudaan, tetapi kebaruan, gagasan baru. Masalah kebaruan itu adalah bagaimana masa depan itu. Yang dibutuhkan adalah gagasan baru, yang ketika dimunculkan, kita semua akan mengatakan. Nah, ini dia yang kita cari”. Demikian yang disampaikan Anies Baswedan dalam sebuah acara diskusi. Lalu selanjutnya apa? Cukupkah gagasan baru itu sekedar dimunculkan saja?
Mungkin kita pernah mendengar gagasan brilian dari seorang teman, atau bahkan dari diri kita sendiri. Ketika mendengarnya kita yakin bahwa gagasan itu begitu bermanfaat bahkan mungkin dapat mengubah wajah dunia. Namun seiring berjalannya waktu, gagasan itu hilang ditelan masa. Seperti ban sepeda pancal yang tau-taunya gembos karena lama tak dipakai.
Bukan Organisasi Konyol
Sebulan lalu saat pertama kali pengurus PPI Taiwan ”bertemu” via Skype, saya sampaikan bahwa struktur kepengurusan PPI-Taiwan ibarat sebuah tim sepakbola. Saya sebagai ketua umum adalah kapten tim, sementara Adi wakil kapten, dan tiap-tiap pengurus adalah pemain inti yang posisisnya bervariasi. Tiap posisi memegang peranan yang sama pentingnya.
Oleh karena itu tiap posisi harus terkemuka bersama, tidak boleh ada yang tertinggal. Konyol jika mampu mencetak banyak gol, tapi banyak kebobolan juga. Atau sebaliknya pertahanan kuat, tapi striker mandul. Keduanya sama-sama konyol dan pengurus PPI Taiwan tidak perlu melakukan kekonyolan macam itu.
Rakyat Pakistan Menggali Kubur

Tak henti-hentinya Pakistan dilanda bom bunuh diri. Baru beberapa saat lalu bom bunuh diri menewaskan puluhan penduduk sipil terjadi. Kemaren kembali terjadi voli berdarah, bom mobil yang diledakkan saat pertandingan voli di sebuah desa, yang menewaskan 88 korban. Bom bunuh diri yang menjadikan markas polisi dan rakyat sipil sebagai sasaran, merupakan serentetan ”balas dendam” kaum militan Taliban di perbatasan Pakistan-Afghanistan.
Kaum militan selama sekian tahun belakangan ini tumbuh subur di daerah pegunungan perbatasan Pakistan-Afghanistan. Semenjak Taliban ditaklukkan oleh Aliansi Utara yang didukung oleh tentara US, pegunungan itu menjadi tempat favorit untuk persembunyian. Bahkan Osama bin Laden, gembong teroris nomer wahid, diisukan bersembunyi di daerah tersebut.
Susahnya Profesor Berkarya
Di milis dosen ITS pernah ada diskusi yang menarik tentang menjadi Profesor. Dikatakan, mari cepetan jadi Profesor supaya bisa mendapat banyak hak istimewa. Meskipun harus disadari pula di balik keistimewaan yang dimiliki, ada kewajiban yang tidak kalah besarnya.
Ada pula yang mengatakan: Profesor bukanlah tujuan akhir, namun merupakan gerbang awal untuk berprestasi lebih baik dan lebih banyak. Jadi jangan karena sudah Profesor maka berhenti berkarya dan males riset. Justru dengan ke-profesor-an nya itu, maka semakin besar karya yang dihasilkan. Sama persis seperti sebutan bagi Profesor, Guru Besar, besar dalam sumbangsihnya.

Penyelundup Narkotik dari Iran
Orang Iran kembali tertangkap di Indonesia karena menyelundupkan narkotika. Kali ini tertangkapnya di Bali. Kapan hari ada yang di Jakarta. Buanyak banget orang Iran yang nyelundupkan narkotika ini. Bahkan perempuan-perempuan yang nyelundupkan. Bisa jadi sudah sejak lama mereka melakukan ini semua. Kurang ajar Iran itu. Jadi pantes kalo disebut poros setan.
Saya paham kalo itu adalah oknum dari Iran, tidak semua orang Iran seperti itu. Tapi tindakan ini berulang-ulang dalam jangka waktu yang sangat pendek. Artinya Indonesia semacam dibombardir sama narkotika dari Iran. Serangan ini frekuensinya begitu intens dan dalam jumlah yang banyak. Lebih bahaya daripada serangan militer.
Mabes Polri Tetapkan Pimpinan KPK Sebagai Tersangka
Mabes Polri menetapkan Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto sebagai tersangka Rabu dini hari tadi. Tuduhannya adalah penyalahgunaan wewenang. Kedua pimpinan KPK itu akan menyusul Antasari Azhar yang lebih dulu sudah ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan otak pembunuhan. Praktis saat ini hanya tinggal dua pimpinan KPK yang belum jadi tersangka, yakni M Jasin dan Haryono Umar. Akankah mereka berdua akan menyusul di-tersangka-kan oleh Mabes Polri?
Koruptor pasti bersuka ria. Mengalahkan kesenangan berhari Lebaran yang tinggal beberapa hari ke depan. Mereka mendapatkan “suporter” baru, yang uniknya berasal dari pihak yang selama ini menyidik mereka. Ibarat suporter sepak bola sebagai pemain kedua belas di lapangan, “dukungan” Mabes Polri yang menetapkan pimpinan KPK sebagai tersangka jelas akan membuat para Koruptor semakin indah menggiring bola di lapangan becek lahan korupsi yang banyak tersebar di Indonesia. Melebihi kehebatan Messi dan Ronaldo menggiring bola melewati pertahanan lawan.
Namun sebagai kuda hitam yang sudah teruji merontokkan jaksa, bupati, gubernur, anggota DPR, bahkan mantan Kapolri, jelas KPK tidak akan menyerah begitu saja. Lapisan pertahanan KPK pasti akan berjuang habis2an menghadapi serbuan koruptor dan “suporter” nya. Tentunya dukungan suporter KPK akan sangat membantu perjuangan KPK itu. Akankah para suporter KPK bisa membantu untuk membalikkan keadaan??? Supaya para koruptor tidak merajalela di Indonesia tercinta ini.
Saatnya SMK Membuktikan
Secara umum siswa pembelajar bisa dikategorikan menjadi dua kelompok besar. Satu kelompok yang suka dengan teori dan mencintai ”hitungan”, serta kelompok lain yang hobi praktek dan membutuhkan keterampilan. Keduanya tidak bisa diperbandingkan mana yang lebih baik, karena kecenderungan lebih menyukai praktek daripada teori atau sebaliknya merupakan karakter khas yang melekat pada diri masing-masing pembelajar.
Tidak bisa dipungkiri, dan juga bukan hal yang memalukan, bahwa sebagian besar pembelajar di tingkat menengah ”alergi” dengan mata pelajaran eksak yang penuh dengan rumus dan tidak jelas aplikasinya. Toh kemudahan mendapatkan (dan membuat) pekerjaan tidak melulu butuh hafalan rumus-rumus. Alasan itu yang sering kita dengar dari siswa.
