Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Rakyat VS Senat

Tulisan kali ini menyoroti secara kritis tentang proses pemilihan rektor di ITS yang telah melewati tingkat senat. Saya bukanlah tim sukses dari salah satu calon, dan tulisan ini tidak bermaksud membela ataupun menggugat salah satu calon. Ini murni pendapat pribadi dan mudah-mudahan tidak membela siapapun, ini hanya demi ITS yang lebih baik…

Dari judul blog ini jelas saya mau mengomentari pemilihan rektor yang sangat berbeda hasilnya antara di tingkat rakyat dan tingkat senat. Di tingkat rakyat, yang bertujuan menjaring 5 besar, Nuh (rektor sekarang) menang mutlak atas 6 calon lain. Bahkan jika suara keenam calon itu dijumlahkan, tetap saja tidak bisa menggungguli suara yang diperoleh Nuh.

Di tingkat senat, yang bertujuan menjaring 3 besar untuk dibawa ke Presiden, Probo (dekan FTSP sekarang) justru yang menang telak, 40 orang anggota senat memilihnya, sedangkan yang memilih Nuh hanya 25 saja.

Kok ada perbedaan itu? Ekstrim lagi bedanya? Ketika kita memilih seseorang sebagai pimpinan (bukan pemimpin, karena saya gak yakin ada seorang yang pantas disebut pemimpin di ITS ini), maka pasti kita pilih yang terbaik. Terbaik dalam arti, baik bagi kepentingan kita pribadi / golongan atau baik bagi kepentingan institusi / ITS.

Dalam memilih, sangat penting artinya untuk mengoptimasi 2 kepentingan di atas. Sehingga tidak akan terjadi “pokoe kudu menang” karena terlalu memaksakan kepentingan pibadi ataupun “malah ngeresulo” karena terlalu berkorban untuk kepentingan institusi.  Oleh karenanya pimpinan pun harus jeli dalam membuat kebijakan supaya mampu memenuhi kedua kepentingan itu.

Ketoane (keliatannya), menurut pengamatan saya, rakyat (mahasiswa, dosen, karyawan)  mengganggap Nuh telah mampu mengoptimasi kedua kepentingan di atas sehingga di tingkat rakyat Nuh menang mutlak. Tapi kenyataan berbicara lain di tingkat senat, Probo menang dan Nuh kalah. Kekalahan Nuh dan kemenangan Probo itu tidak saya artikan dengan, senat menganggap Probo lebih baik dari Nuh. Tapi saya lebih cenderung mengartikan bahwa senat menganggap Nuh tidak mampu mengoptimasi kedua kepentingan di atas sehingga dia harus diganti.

Kepentingan apa/siapa yang tidak mampu dioptimasi oleh Nuh? Saya masih berharap jawabannya adalah kepentingan ITS, karena dengan predikat guru besar yang disandang oleh kebanyakan anggota senat, saya kok “gak wani” kalo berpikiran senat lebih mendahulukan kepentingan pribadi / golongannya.  Apalagi senat kan yang lebih dekat dan lebih tau tentang ITS dan kepentingannya sehingga wajar jika mereka merasa gundah dan melengserkeprabonkan Nuh. Indikasinya bisa dilihat dari program Nuh berupa PMDK Kemitraan yang kedodoran…

Tapi ada juga opini yang mengatakan bahwa Nuh kalah karena anggota senat merasa “dirugikan” kepentingan pribadi / golongannya. Dan karena untuk memperjuangkan kepentingannya itu, gak pernah didengar oleh Nuh, maka jalan satu-satunya ya dengan bermain “politik” dalam pemilihan rektor. Kalo opini ini benar, wah ITS akan tinggal nunggu kehancurannya saja….. Atau kalo gak mau hancur ya doakan aja supaya anggota senat yang bermain politik itu cepet mati sehingga gak membahayakan ITS…. Mudah-mudahan opini tersebut salah.

Kembali ke judul, perbedaan senat dengan rakyat akan mungkin tetap terjadi selama aturan maennya tidak berubah. Padahal kalo misal aturan itu bisa diubah dan yang dipakai adalah pemilihan langsung oleh rakyat, apa masih belum pas? Apa civitas academica di PT masih dianggap belum terdidik dan belum dapat memilih secara rasional, sehingga masih perlu diwakilkan? 

Atau kalopun memakai sistem perwakilan, kayaknya sistem voting terbuka lebih tepat kalo misal musyawarah mufakat bukan pilihan utama. Dengan voting terbuka setiap anggota senat akan dapat mempertanggungjawabkan pilihannya kepada rakyat.

ITS = Integralistik

Apapun hasil dan alasan serta kepentingan di balik pemilihan rektor kali ini. Satu hal yang perlu dicatat, ITS bukan hanya berarti Institut Teknologi 10 Nopember tapi juga ITS berarti integralistik. Maksudnya  satu kesatuan dan kebersamaan merupakan modal utama bagi ITS untuk maju dan jadi lebih baik.  Kemampuan kita untuk menerima perbedaan dan terus memberikan yang terbaik untuk ITS harus terus ada dan dilakukan oleh masing-masing civitas akademika. Selamat berjuang ITS…

November 21, 2006 - Posted by | ke-ITS-an

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: