Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Cerita Sopir Angkot

Beberapa hari ini pas saya naik angkot, tak usahakan untuk duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja…ūüôā Saya lagi tertarik dengan hipotesa : penumpang angkot terus menurun karena banyak yang kredit motor.

Pernah pas lewat di depan galaxy mall, sore hari jam 5 an, jam pulangya karyawan di galaxy, saya melihat 3 angkot lagi parkir di sabrangane galaxy. Trus saya tanya ke sopir angkot di sebelah saya, lho pak ngono iku ngenteni penumpang sopo, kok gak mereka mlaku2? pak sopirnya menjawab, iku ngenteni buyarane galaxy jam 9 bengi. “Biasane sampe berapa angkot pak untuk ngangkut buyarane galaxy?” tanya saya selanjutnya. Wah lek saiki cuman 3 sampe 4 itu tok. Lek biyen ngono, sampe 15 angkot sing parkir (antri) ngnteni buyarane galaxy….

Kenapa kok bisa sebegitu drastisnya penurunan penumpang angkot?

Jawab pak sopir: karena orang sekarang lebih milih kredit motor ketimbang naek angkot. Kan kredit motor saiki murah, trus lek budal moleh naik motor juga lebih cepat daripada naek angkot… Mendengar itu, saya kasihan juga sama para sopir angkot, penumpangnya menurun dan dengan jumlah angkot tetap,¬†mau gak mau pendapatannya jadi berkurang, padahal setoran harus rutin per hari. Akhire, uang yang dibawa pulang ke rumah pun jadi pas-pasan….

Kalo mau objective, para sopir juga harus intropeksi, kenapa kok penumpang meninggalkan angkot dan beralih ke motor pribadi? Mungkin karena tingkat kenyamanan dan kecepatan yang dibutuhkan dalam mobilitas tidak terpenuhi oleh para sopir. Sering sopir angkot, lebih memilih “ngetem” 5 – 10 menit untuk cari penumpang padahal di dalam angkotnya ada pegawai kantoran yang harus tiba tepat waktu. Atau para sopir juga sering ugal-ugalan dalam nyetir dengan balapan antar angkot, alasannya berebut penumpang, padahal rejeki masing-masing kan sudah diatur sama yang kuasa. Mereka gak mikirkan bagaimana kenyamanan penumpangnya…

Tapi kalo dipikir dengan lebih objective dan tenanan, pemerintah kayaknya kurang berperan dalam mengoptimalkan potensi transportasi massal. Alasan pentingnya trans massal sudah banyak dikemukakan oleh para ahli. Bukti di kota-kota lain di luar negeri yang menerapkan transportasi massal juga pasti sudah diketahui oleh anggota dewan lewat kunker nya.

Tapi karena pemkot itu “guoblok” dan dewan itu “cuongok” maka mereka gak pernah kepikir untuk memperbaikinya… Padahal dengan banyaknya kendaraan pribadi juga akan menimbulkan banyak dampak negatif. Gak perlu lha saya bahas di sini, karena hanya buang waktu dan tenaga kalo mbahas “guoblok” dan “juongok” nya pemkot + dewan.

Bagi saya ada juga dampak positif sepinya penumpang angkot, saya jadi gak kesulitan untuk dapat angkot baik pas berangkat ataupun pulang kampus. Saya masih ingat, ketika dulu awal kuliah tahun 2000, harus nunggu angkot lama…………….. sekali karena bolak-balik full terus penumpangnya. Sekarang, kapanpun jamnya, pasti banyak angkot kosong. Tapi efek buruk lainnya, pas sampai di jalan “besar” sekarang suering macet gak karuan. Soroboyo… soroboyo… memang benar-benar kota perjuangan…..

November 28, 2006 - Posted by | ke-suroboyo-an

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: