Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Bal-balan di Jenbacher Stadium

Lazimnya setiap jumat sore, aku bermain sepakbola mini (bukan futsal) di Jenbacher Stadion. Dilihat dari namanya, mestinya stadion ini cukup megah. Ato kadang, aku juga bermain di stadion San Pasiro, sebuah stadion yang mengingatkan kita pada kebesaran nama AC dan Inter Milan.

Kalo di Jenbacher Stadion, semuanya serba otomatis. Maksudnya, gawang bisa dilepas pasang secara otomatis. Garis tepi lapangan juga dikira-kira dengan otomatis. Kalo lagi nendang bola pun, juga akan otomatis tidak banter-banter🙂 .

Sedangkah di San Pasiro, semuanya sudah terpasang secara permanen. Sudah ada gawang, garis tepi, bendera sepak pojok, score board, bahkan juga lampu penerangan untuk malam hari. Tapi, kalo mau maen harus siram-siram dulu coz namanya aja San Pasiro🙂 Kalo gak pake disiram, bisa-bisa mata kita kelilipen….

Meskipun kedua stadion di atas “ada” kekurangannya, jika dibandingkan dengan stadion utama ITS ataupun juga stadion futsal PLN, jelas masih “bagusan” kedua stadion tersebut. Alasannya sederhana, dilihat dari nama, jelas kerenan nama Jenbacher dan San Pasiro dibanding ITS dan PLN. Apalagi, ITS kan kepanjangane Institut Tengah Sawah dan PLN kepanjangane Padam Lagi Nih…

Desember 8, 2006 - Posted by | ke-ITS-an, ke-olaraga-an

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: