Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Mendidik dengan Kekerasan

“Dasar anak nakal, tak jewer kupingmu”; “Jancuk, goblok kabeh, lemot, ayo cepet push up!”; “Kenapa kamu kok terlambat? Ayo jalan jongkok sana…”

Kalo boleh saya menebak, sampean semua pasti pernah mendengar ungkapan-ungkapan di atas, mungkin semasa sampean sekolah, atau pas di rumah, atau pas di kampus, atau hanya dalam mimpi🙂 Disadari atau tidak, mungkin juga ungkapan itu justru pernah keluar dari mulut kita sendiri. Ketika kita lagi emosi, lagi mangkel, lagi suntuk, atau lagi stress.

Dan ungkapan-ungkapan semacam itu, kita keluarkan untuk anak didik kita, adik kelas kita, atau mungkin untuk anak sampean sendiri (bukan anak kita, karena saya belum punya :D). Hebatnya lagi, ungkapan-ungkapan itu kemudian dibarengi dengan bonus berupa: cubitan, pukulan, tamparan, tendangan, dan segala macam jurus kungfu….

Padahal untuk apa semua itu? Apakah untuk mendidik mereka supaya tidak mengulang kesalahan yang sama? Apakah hanya lewat kekerasan saja untuk mendidiknya? Tidak adakah cara lainnya?

Atau justru kekerasan hanya untuk melampiaskan emosi kita? stress kita?

STOP kekerasan dengan alasan mendidik!!! Di rumah, di sekolah, di kampus, dimanapun, kekerasan bukanlah cara untuk mendidik.

Maret 12, 2007 - Posted by | ke-hidup-an

8 Komentar »

  1. ada kalanya ‘kekerasan’ itu sangat diperlukan, apalagi buat para suami… (hehe.. bercanda ah)

    tapi betul cak.. kekerasan itu tidak mendidik, kekerasan dalam segala bentuk mesti dihilangkan dari muka bumi (cieehh)..

    alief: ‘kekerasan’ itu dalam hal apa? atau mungkin apanya yang ‘kekerasan’ ? (hahaha…)

    Komentar oleh grandiosa12 | Maret 12, 2007 | Balas

  2. belajar dari pengkaderan mesin neh ???
    mantap cak…

    alief: pengalaman adalah guru yang paling berharga🙂

    Komentar oleh arul | Maret 12, 2007 | Balas

  3. STOP kekerasan dengan alasan mendidik!!! Di rumah, di sekolah, di kampus, dimanapun, kekerasan bukanlah cara untuk mendidik.

    .
    Setuju cak Alief.
    Kalau sesama teman ungkapan “mbokne-ancuk” *maaf* itu bilangnya menunjukkan rasa akrab gaya bonek Suroboyoan. Jarene lho. Saya kalau pas pulang ke Suroboyo, ketemu teman lama, salaman terus disuguhi pisuhan.

    alief: hehehehe…. jadi ingat tentang bonek. “Bonek” gak sekedar “bondo nekat” tok, karena “bonek” umumnya laki-laki bisa juga mereka diarani “botol”, bondo k…..😀

    Komentar oleh cakmoki | Maret 13, 2007 | Balas

  4. mari berdoa menurut keyakinan masing-masing,
    semoga praktikum ilog bebas dari ungkapan-ungkapan diatas…………………..

    alief: ilog itu ilmu logam kan? kalo di praktikum logam paling akan diajari perbedaan antara indentasi, penetrasi, dan ….asi yang lain🙂 Itu penting untuk uji kekerasan lho…

    Komentar oleh cassy | Maret 13, 2007 | Balas

  5. Hangkrek kenek sindir aku aku cak!😀
    Saya mbok diajari mendidik tanpa kekerasan, lah saya seringnya menyindir dengan kekerasan je sama siswa saya.

    alief: sakjane lek nyindir, aku ya sering cak guru… Mungkin blogger laen ada yang bisa bantu?

    Komentar oleh helgeduelbek | Maret 13, 2007 | Balas

  6. Sy baru denger kata2 kasar itu pas pengkaderan…heran deh knp kok pake kata2 kasar segala…pdhl banyak sekali kata2 yg baik dan bermanfaat. Mendidik itu harusnya yang baik dan santun. Kl dipressing kayak gitu….mana bisa kita berpikir jernih??
    Setuju cak…STOP kekerasan dengan alasan mendidik!!!

    Komentar oleh Lintang | Maret 13, 2007 | Balas

  7. Lhee.. abis mbuka di komputere orang ga log out dulu..😛 untung aku orange baek budi dan sedikit sombong, coba kalo ga, pasti uda ta’usilin blognya…

    Meski banyak yang ga seneng, banyak yang bilang ga setuju, yang masi praktek juga banyak (dengan berbagai alasan, disiplin lah, de es be…) Lha yang ditanyakan tu, bener ga punya dasar make kekerasan, punya konsep, punya batasan ga, bisa dipertanggung-jawabkan ga?

    Lha kalo saya si gampang aja, hal yang dibikin pake kekerasan ga bertahan lama, dan besar kemungkinan ninggal bekas negatif di korbannya (bekas psikologisnya lebih dalem dari fisiknya). Smua pilihan ada konsekuensinya. Gitu aja kok repot..
    (wii.. tumben ngasi komentare panjang!)

    Komentar oleh goodHyde | Maret 13, 2007 | Balas

  8. Mas.. keteladanan adalah guru yang baik, sebelum kita menyuruh untuk selalu berbuat baik pada orang setidaknya kita elah berbuat baik pada orang… kekerasan kadang kala juga dibutuhkan, saya pribadi sebagai mahasiswa yang pernah mengikuti lika-liku “pengaderan” di ITS sering mendapatkan hal semcam itu, misuh bahkan sampai kontak fisik, tapi itulah… kini saya tau, kenapa senior-senior saya melakukakn hal itu, dan toh saya tak menirunya di kehidupan sehari-hari saya, saya ambil yang baik saja kok… jadi tak selamanya kekerasan itu buruk, Nabi Muhammad saja pernah kan berperang melawan kaum kafir?

    Komentar oleh Hasan | Maret 13, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: