Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Korupsi Apa yang Masuk Koran ?

Membaca koran Kompas dan Jawa Pos beberapa hari ini, kita akan selalu disuguhi dengan berita tentang kasus korupsi. Baik itu masih berupa pelaporan dugaan korupsi, persidangan koruptor, sampai proses penahanan koruptor. Yang paling hangat adalah proses penahanan Direktur Bulog, yang korupsinya merugikan negara sebesar Rp 11 Miliar.

Memang sih dalam beberapa tahun ini, pemberantasan korupsi lagi marak dilakukan di Indonesia. Mulai dari daerah sampai pusat, selalu ada saja yang terganjal kasus korupsi. Karena mungkin korupsi sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Bahkan bisa jadi sudah mendarah daging🙂

Saya (mungkin juga anda) umumnya mengetahui kalo ada korupsi di suatu instansi, dari berita di media, baik itu cetak, elektronik, maupun online. Jarang sekali kita tahu berita tentang korupsi dari sumber pertama (bukan media). Kecuali kita memang kebetulan bekerja pada perusahaan/ instansi koruptor tersebut.

Kalo pengalaman saya, mengetahui kasus korupsi bukan dari media, saya dapatkan ketika terlibat dalam proses penyelidikan korupsi tersebut (baca postingan tentang: Dosen pun Bisa Jadi Detektif). Dalam kasus itu, nilai rupiah yang diduga dikorupsi bisa jadi lebih dari 20 Miliar, dan itu dilakukan oleh seorang Direktur perusahaan negara.

Kalo dilihat dari besar Rupiahnya, korupsi sebesar 20 M jauh lebih besar dibandingkan dengan 11 M. Tapi kenapa ya, kok saya belum pernah baca beritanya di koran? Saya jadi heran… Kepala saya trus berpikir, apa ya yang membuat suatu kasus korupsi bisa masuk koran atau tidak? Apa harus ada yang melapor ke wartawan? Atau apa?

Mungkin saja begini, korupsi apa yang dimuat di koran, tergantung dari siapa koruptornya. Orang terkenal atau tidak, dari perusahaan publik atau swasta, dan lain-lain. Yang tentunya semua pertimbangan itu dianggap oleh koran dapat menaikkan jumlah penjualan korannya. Jika memenuhi kriteria, maka akan dipasang di koran, jika tidak ya disimpan saja.

Dan itu berarti tidak peduli berapa pun yang dikorupsi atau apakah korupsi itu masih dugaan, atau sudah kepastian, pokok setiap ada korupsi yang “menjual” maka pasti jadi headline di koran-koran…. Tapi ya masak “sesederhana” itu alasan dari koran??!!

Mungkin sampean punya jawaban lain? tolong dong saya diberi pencerahan… Terima kasih sebelumnya.

Maret 22, 2007 - Posted by | ke-hidup-an

10 Komentar »

  1. Benar juga cak alief, saya juga bingung ada korupsi yang menurut sumber orang kantornya merupakan korupsi besar tapi tidak pernah diekspose, apalagi di daerah-daerah. Biasanya yang kena sorot itu: pejabat yang ngetop dan tokoh yang karirnya sedang menanjak atau mau jadi calon pejabat. Koran daerah sering tidak berani memberitakan tokoh korupsi yang sedang menjabat, kalau koran nasional menyorot, baru mereka ikut-ikutan. masalahnya menyangkut hidup mereka di daerah yang bersangkutan.

    Komentar oleh Anak Sultan | Maret 22, 2007 | Balas

  2. yah kalau wartawannya bisa disuap juga agar tidak memebritakan- kan bisa saja cak, sing penting podo untung. Wis do golek slamete sendiri-sendiri

    Komentar oleh helgeduelbek | Maret 22, 2007 | Balas

  3. Korupsi, itu sudah mendarah daging di masyarakat indonesia dan kadang susah untuk menentukan itu masuk korupsi apa gak… dan kalo petugas (KPK red) punya standar sendiri koq….
    so kita taunya atau wartawan itu ketika beritanya bersumber dari itu atau ada yg teliti…

    kalo memang suatu lembaga ada yg korupsi tetapi tidak terlihat itu karena indikasi korupsinya beum terlihat….
    kalo janggal itu baru di diperiksa..

    Komentar oleh arul | Maret 22, 2007 | Balas

  4. halah 11 milyar itu kecil..sedang sial aja dia

    Komentar oleh jtabah | Maret 23, 2007 | Balas

  5. Setau saya jg spt apa yg dibilang pak urip. Kalo wartawannya bs disuap bs jd korupsi yg lebih dr 20 milyar pun g diekspos. Kecuali kalo ada iming2 “barang siapa para wartawan yg bs mengungkap kasus korupsi sebesar apapun akan mdpt hadiah sebesar 1 milyar rupiah”, pasti bnyk kasus korupsi yg terungkap hehe… Kalo berita yg menguntungkan koran sih spt kasus perselingkuhan artis dengan pejabat😀 eh g nyambung yah

    Komentar oleh Lintang | Maret 23, 2007 | Balas

  6. korupsi
    akan tetap berada di dalam kehidupan manusia
    selama manusia berdampingan dengan musuh bebuyutannya
    siapa sih yang ga tergoda uang…?

    Komentar oleh no name | Maret 24, 2007 | Balas

  7. korannya korupsi berita juga dong ya?

    Komentar oleh grandiosa12 | Maret 25, 2007 | Balas

  8. Korupsi yg masuk koran karena di ekspos sama oknum yg kecewa, misalnya si orang tersebut pernah kerja sama dan ga bisa diajak kerja sama lagi dst… ya gitu deh… tarik nafas dalam2..😦

    Komentar oleh Evy | Maret 25, 2007 | Balas

  9. berita2 marak ttg korupsi membuat dua hal
    1. para koruptor menjadi hati-hati, dan kejahatan masa lalu dicoba di recover dng bantuan politik
    2. para calon koruptor, jadi perlu mencari cara baru untuk korupsi…hehhee
    intinya, corrupt is never die!
    kecuali kalo kejahatan korupsi diganjar hukuman MATI! kayak di Cina dan Vietnam…hehe
    kalo disini sih penjara 3-4 tahun lumayan lah, selepas dari bui toh masih bisa eksis di dunia usaha, bahkan politik…dan sering bikin memoar menyatakn diri bersih ndan hanya korban konspirasi…tapi duit masih banyak tuh…:p
    gak ada efek jera euy…

    Komentar oleh rusle | Maret 25, 2007 | Balas

  10. nggak ada asap kalo nggak ada api kan cak?

    Komentar oleh peyek | Maret 26, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: