Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Disiplin Intelektual Seiring dengan Pemahaman Agama

Bismillah, semoga tulisan ini tidak menimbulkan fitnah. Ini hanya tulisan pribadi tentang ke-aku-an yang bertujuan mengungkapkan apa yang ada di pikiranku (saat ini). Tulisan ini muncul karena saya baca sebuah postingan bahwa Matahari Mengelilingi Bumi, yang ditulis oleh banyak blogger, diantaranya (setahu saya) : Abdurrahman, Roffi, dan Harry.

Sejak SMU sampai saat ini, saya terbiasa hidup dalam lingkungan yang ilmiah dan rasional. Meminjam istilahnya Habibie dalam buku Detik-Detik yang Menentukan, hal semacam itu bisa disebut dengan disiplin Intelektual. Dalam disiplin intelektual, saya selalu menganalisa, mempertanyakan, bahkan mendebat setiap hal. Rasa ingin tahu saya begitu besar, dan tidak mudah terpuaskan oleh jawaban-jawaban sederhana apalagi provokasi murahan.

Disiplin intelektual membimbing saya untuk terus belajar memahami tentang science dan teknologi. Kebetulan saya di bidang Permesinan, jadi arah intelektualitas saya pun akan ke sana (meski tak tahu kapan finishnya). Disiplin intelektualitas pula yang membuat saya tidak suka terhadap sikap : asal nurut, siap diperintah, mendidik dengan kekerasan, dan hal-hal sejenis yang biasa dipakai dalam disiplin militer.

Kalo dihubungkan dengan blog-blog di wordpress yang (sebagian) kayaknya mulai menyulut ke arah perang “kata-kata”, “argumentasi” bahkan “pemahaman”, saya selalu (berusaha) mengacuhkannya. Bagi saya itu semua hanya provokasi murahan dan cara mendongkrak popularitas si blogger dengan kedok untuk menyampaikan kebenaran. Itu semua telah keluar dari ranah disiplin intelektual yang saya anut. Saya hanya bisa berdoa semoga Allah swt selalu membuat saya istiqomah di jalan-Nya.

Kemudian untuk memahami agama, prinsip saya ialah tidaklah cukup hanya dengan menerima tanpa berpikir (fanatik), namun juga bukan berarti terus berpikir sampai keliatan logis dan kalo gak logis gak akan diterima. Posisi saya dalam memahami agama berada diantara kedua kutub ekstrim tersebut. Artinya saya selalu (berusaha) bersikap ilmiah, seperti: membandingkan satu pendapat dengan pendapat yang lain dan berusaha mengecek sebuah data sekunder sampai ke sumber primernya.

Dan dalam banyak kasus yang selama ini saya hadapi, baik tentang akidah, manhaj, science, sosial, politik, fikih, dll. Memakai secara beriringan antara displin intelektual dengan pemahaman agama adalah hal yang menentramkan, bahkan membahagiakan. Tidak ada perasaan yang mengganjal, karena agama ini memang telah dijelaskan semua oleh-Nya. Saya hanya tinggal mempelajari dengan menerapkan disiplin intelektual itu.

Tentunya dalam proses itu, memang harus ada sebuah parameter yang dijadikan acuan. Acuan saya selama ini adalah: “Tidak mungkin Allah tidak tahu tentang apa yang terjadi dahulu kala, saat ini, dan juga di masa depan. Oleh karenanya, semua itu (dalam bidang apapun) pasti telah diatur dalam Kitab-Nya.” Adalah sebuah kewajiban bagi saya untuk tidak mempertanyakan dan selalu menerima firman-Nya, apalagi jika suatu kasus itu berada di daerah “abu-abu”.

Karena siapa sih saya? Saya hanya seorang manusia biasa yang terlahir dari setetes air yang hina. Tidak patut sedikitpun bagi diri saya untuk menentang-Nya. Dan siapa sih manusia? Sebaik-baiknya sebuah teori yang mapan pun akan bisa terbantahkan, karena sesungguhnya yang diketahui manusia hanyalah setetes air di samudera luas.

Dan sebagai  kelanjutan dari sikap seperti itu, maka bukanlah pada posisinya kalo saya seenaknya mengatakan seseorang itu sesat, kafir, tidak ilmiah, ketinggalan jaman, fanatik buta, dll ??? Dan juga bukan kepakaran saya untuk mengatakan, kamu harus mengikuti teori ini serta pemahaman ini. Karena secara umum saya tidak punya pengetahuan tentang banyak orang dan di banyak bidang, apalagi tentang agama. Saya hanyalah seorang pembelajar yang selalu ingin tahu karena merasa belum cukup tahu.

Kalopun saya tahu dengan baik tentang sesuatu, maka saya tidak akan dengan gampang dan tanpa merasa bersalah “mendeklarasikan” keburukan dan memvonis orang lain, karena sebaik-baik nasehat adalah yang diberitahukan empat mata dan dirahasiakan dari banyak orang. Hakekat dari sebuah nasehat adalah membuat hati orang yang dinasehati menjadi lunak, dan kembali ke yang benar. Bukan malah menjadi liar karena aib nya disebar dan difitnah dimana-mana.

Lalu apakah dengan sikap seperti di atas, berarti saya berada di pihak tertentu, dan (kemungkinan) berseberangan dengan pihak lain? Jawabnya: ya. Karena tidak mungkin saya tidak ada di pihak manapun, tidak berpihak saja adalah sebuah pihak juga kan??? Dan trus apa nama pihak saya? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada sebuah ungkapan yang menarik: Banyak orang mengaku-ngaku sebagai kekasih Laila, tapi hanya Laila sendiri yang tahu siapa kekasihnya…

April 2, 2007 - Posted by | ke-aku-an

14 Komentar »

  1. Pemahaman agama dibarengi dengan pemahaman disiplin intelektual. Bagaimana?

    Komentar oleh mathematicse | April 2, 2007 | Balas

  2. siapa mas, kekasih laila? bukan saya lho…

    *bletakk*

    Komentar oleh antobilang | April 3, 2007 | Balas

  3. di sekolah biasanya kita memang lebih banyak diajarin “salah” atau “benar”, makanya jadi agak susah untuk membiasakan diri berdiskusi tanpa langsung mencap lawan diskusi kita salah. coba kalau suasana kelasnya juga menonjolkan diskusi, perbedaan pendapat, pasti anak didiknya bisa lebih paham bagaimana berbeda pendapat…

    trims atas komentarnya, masukan yang menarik.

    Komentar oleh agusset | April 3, 2007 | Balas

  4. Karena siapa sih saya? Saya hanya seorang manusia biasa…

    Wah…ngomongin saya ya? Blog saya kan namanya manusia biasa😀

    alief: ups… gak sengaja. Tapi sampean lak tambah seneng kan lek diomong-omongin…🙂

    Komentar oleh deKing | April 3, 2007 | Balas

  5. Lalu disiplin intelektual kepada agama seperti apa ya…

    Trims ya, mau berkunjung ke blog agor, jadi tahu ada tulisan yang menarik….

    alief: ya seperti itu lha…🙂

    Komentar oleh agorsiloku | April 3, 2007 | Balas

  6. **Bagi saya itu semua hanya provokasi murahan dan cara mendongkrak popularitas si blogger dengan kedok untuk menyampaikan kebenaran. **

    Menurut saya memang ada yg spt itu, tapi ada juga yg niatnya berdakwah, walaupun dengan cara yg tidak tepat, yaitu langsung memvonis, bukan dengan tabayun (klarifikasi) terlebih dahulu, kemudian meluruskan dan seterusnya.

    Salam kenal , bagus2 postingannya.

    thx dah berkunjung & komen (dah dijawab komennya tuh)

    alief: salam kenal juga, thanks atas mampirannya. Sek tak liat dulu komentar tg bakso tahu itu ya…🙂

    Komentar oleh Odoy | April 3, 2007 | Balas

  7. walah.. cak.. saya posting itu bukan berarti saya menyetujui itu.. ok.. hehehehe..

    alief: ok ok. pesan dimengerti, ganti…🙂

    Komentar oleh grandiosa12 | April 3, 2007 | Balas

  8. Ya Allah tunjukanlah padaku yang benar itu benar dan yang salah itu salah (quota coment cak Alief di blog ku)🙂

    Komentar oleh Evy | April 4, 2007 | Balas

  9. Terus terang, saya merasa terharu membaca tulisan cak Alief ini. Benar-benar menyentuh hati dan sekaligus akal. Hebat!

    Komentar oleh Salat SMART | April 4, 2007 | Balas

  10. Makasih kkunjungannya ke blog ana.
    Antum sendiri yakin yang mana mtahari berputar apa bumi berputar.

    Ana juga pernah bingung, dan pernah diskusi sama sarjana fisika akhirnya dia meyakini bahwa matahari yang berputar ! Cuman belum bisa membuktikan secara ilmiah.

    Kalau ga salah ayatnya ada pada surat yasin, mohon baca surat yasin…

    Tinggal kita mau yakin ga dengan ayat tersebut ?
    Atau mau yakin dengan teori barat yang sebenarnya ada dua.

    Dalam teori fisika tentanga tata surya seingat saya yang pernah ngajar fisika juga ada dua teori yaitu
    bumi sbagai pusat tata surya dan matahari sebagai tata surya.

    Akan tetapi sekarang teori yang lebih diterima secara ilmiah adalah matahari sebagai pusat.

    Silahkan di teliti lagi, mumpung masih muda.
    Sebenarnya banyak hal yang bertentangan antara fisika / ilmu pengetahuan dengan islam bukan hanya itu saja.

    Komentar oleh Mohamad Fachrurozi | April 4, 2007 | Balas

  11. Tulisan yang menyejukkan. Saluut…saluut. Kalo boleh tepuk tangan, pasti loud clap…
    Saya sendiri tidak begitu mengikuti masalah debat ‘matahari mengelilingi bumi’ tersebut. Waktu saya baca masalah ini -di sebuah majalah salafi, yang terpikir di benak saya adalah: 1) adakah ulama (salaf(i)) yang berpendapat lain, selain pendapat Syaikh Utsaimin? 2) jika ada, mengapa tidak dimunculkan? setahu saya manhaj salaf selalu adil mengangkat seluruh pendapat sebelum merajihkan/menguatkan salah satu pendapat (konon saya dengar ada tuh, silakan, yang bisa bahasa Arab silakan cari-cari sumbernya, karena saya tidak bisa berbahasa Arab, takut keliru) 3) jika tidak ada, seberapa urgenkah mengangkat masalah ini kepada orang (awam); saya ingat ada riwayat yang mengatakan, “Ajaklah orang berbicara sesuai kadar penalarannya, apakah engkau menghendaki Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (yang bisa, tolong carikan sumber perkataan ini) 4) jika melihat kondisi ummat, saya lebih baik memilih berdakwah: u’budullah ma lakum min ilahin ghoiruhu daripada berbicara kepada ummat dalam masalah yang masuk daerah “abu-abu” ini (minimal abu-abunya bagi saya pribadi).
    Perkataan anda tentang menasehati orang lain benar-benar menyejukkan. banyak orang tidak bisa menerima nasehat gara-gara penasehatannya dikemas dalam acara mempermalukan orang yang dinasehati. Mending kirimin email saja, japri, kalo nolak dinasehatin ya udah; yang nasehatin nggak rugi apa-apa.
    Dakwah para rasul itu adalah tauhid dulu. Sering saya temukan dai yang mengusung akidah tauhid terburu-buru menyampaikan hal-hal yang bisa membuat orang menolak dakwah, juga dengan sikap dan perilaku mereka yang membuat orang apriori. Saya lebih tenteram jika objek dakwah saya meninggal dunia dalam keadaan bertauhid, walaupun tidak tahu kalau planet yang ia tempati dikelilingi matahari.

    alief: secara garis besar saya sepakat dengan isi komentar ini, benar-benar komentar yang (juga) menyejukkan… alhamdulillah.

    Komentar oleh wirawax | April 7, 2007 | Balas

  12. Mengutip perkatan Anda, ‘Kalo dihubungkan dengan blog-blog di wordpress yang (sebagian) kayaknya mulai menyulut ke arah perang “kata-kata”, “argumentasi” bahkan “pemahaman”, saya selalu (berusaha) mengacuhkannya. ‘….
    setahu saya pengertian mengacuhkan tidak seperti itu. Coba cek Kamus Besar Bahasa Indonesia. Salah satu salah kaprah pemakaian bahasa Indonesia adalah penggunaan kata ‘acuh’. Acuh bukannya cuek, acuh malah berarti memperhatikan (care, concern). Jika yang Anda maksudkan adalah tidak memperhatikannya maka kata yang tepat malah ‘tidak mengacuhkannya.’ Maaf. Dan terimakasih.🙂

    alief: terima kasih banyak cak wirawax atas koreksinya,
    ralat: mengacuhkannya diganti dengan mencuekkannya🙂

    Komentar oleh wirawax | April 7, 2007 | Balas

  13. mantap cak tulisannya, menyentuh banget… barusan saya menulis tulisan ttg blog saya dikatakan tidak Islami….
    pemikiran-pemikiran Cak Alief sangat sesuai dengan landasan berfikir saya….

    tapi herannya koq saya juga ikut dikotak2kan…

    Komentar oleh arul | April 10, 2007 | Balas

  14. Cak Alief nulis:
    Dan sebagai kelanjutan dari sikap seperti itu, maka bukanlah pada posisinya kalo saya seenaknya mengatakan seseorang itu sesat, kafir, tidak ilmiah, ketinggalan jaman, fanatik buta, dll ??? Dan juga bukan kepakaran saya untuk mengatakan, kamu harus mengikuti teori ini serta pemahaman ini.

    Sepakat, selama kita seakidah ga perlu saling memojokkan. Karena perbedaan hasil ijtihad dalam Islam adalah sesuatu yang wajar. Daripada energi tersalur untuk hal yang belum tentu mendapat ridhoNya, mending digunakan untuk memusuhi orang2 yang jelas2 memusuhi umat Islam: AS, Israel dan sekutunya. Wuik ekstrim bgt yah😀

    Komentar oleh riza | April 19, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: