Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Apa yang Diharapkan Mahasiswa Saya?

Dalam rangka evaluasi kuliah MKM 1 yang amburadul hasil UTS nya. Saya mengajukan pertanyaan ke mhs, dan meminta mereka menjawabnya di kertas yang tanpa diberi namanya. Dari jawaban itu, kemudian kami diskusikan dan berusaha mencari solusi bersama, ke depan enaknya seperti apa kuliahnya supaya hasilnya bisa bagus….

Pertanyaan pertama: Apa yang kamu harapkan dari sebuah kuliah MKM I ?

  • ingin lulus dengan nilai yang memuaskan
  • setiap pertemuan membahas soal-soal yang berkaitan langsung dengan materi
  • kuliah dimajukan lebih pagi, supaya gak ngantuk
  • hasil tugas, kuis, ujian dibagikan kembali ke mahasiswa
  • ada variasi diskusi, interaktif
  • dosennya tepat waktu
  • tidak saling contek ketika ujian
  • materi ditambahi dengan info terkini
  • soal diterangkan secara tertulis, karena butuh pemahaman bukan rumusnya saja
  • soal-soal dijelaskan, tidak hanya membahas pengertian konsep
  • soal tugas diberikan secara berkelompok
  • setiap bab ada kuisnya 2 kali, satu open book dan satu closed book
  • lebih aktif membahas soal-soal
  • materi jangan disampaikan lewat LCD, lebih banyak perhitungannya lewat papan tulis
  • yang penting adalah proses, bukan hasilnya
  • paham dan mengerti dengan baik apa yang saya pelajari, nilai hanyalah sebuah huruf
  • demo latihan soal dibuat 80% dalam proses kuliah
  • langsung terjun ke praktik lapangan
  • fokus pada soal-soal ujian
  • sebagai dasar bagi mata kuliah berikutnya
  • mendapatkan ilmu dan pengertian MKM, bukan hanya nilai
  • suasana belajar yang efektif, kondusif, tenang, tidak terlalu banyak orang
  • kuliah tidak terlalu cepat
  • penyampaian materi dengan penjelasan tertulis di white board, bukan secara slide yang membingungkan
  • benar-benar mengerti dan memahami mata kuliah ini
  • tidak terlalu banyak slide dan tidak hanya monoton pada slide saja
  • aplikasi langsung ke praktek
  • ada buku pegangan yang berbahasa indonesia
  • soal UTS dan UAS sesuai dengan yang telah diberikan waktu latihan
  • mengerti aplikasi dalam dunia permesinan yang berhubungan dengan MKM
  • dosen sebagai fasilitator dan motivator
  • mampu mengasah kemampuan otak kiri dan kanan
  • responsinya yang teratur dan konsisten
  • mhs dilatih untuk mengerjakan soal di depan kelas
  • responsi lebih banyak memberikan tugas di rumah
  • ada benda ujinya dan aplikasinya
  • step by step nya soal dijelaskan

Menurut saya, bawaan SMU dan LBB nya masih kelihatan banget! Orientasi utama pada contoh soal dan soal dan soal. Tapi kalo diberi tugas?! Mahasiswa punya 1001 alasan untuk tidak mengerjakannya sendiri. Apalagi kalo ditanya tentang konsep????!!!

Tapi harus saya akui juga, kalo saya ngasih kuliahnya memang terlalu cepat dan jarang banget nulis di papan. Soal-soal yang ditunjukkan lewat slide tak pikir akan dipelajari lagi di rumah dan kalo ada yang gak ngerti, pertemuan selanjutnya mahasiswa akan bertanya di kelas. Ternyata… ekspektasi saya terlalu besar!

Mahasiswa di kelas saya malah mengakui kalo gak mungkin melakukan hal itu, mereka jelas menunjukkan keberatannya…  Mereka hanya bersedia belajar kalo ada tugas, kuis dan ujian saja, laen itu tidak mau… Karena bagi mereka sama saja, belajar ataupun tidak sebelum kelas dimulai tidak akan ngefek apapun….

Kayaknya saya harus lebih dekat lagi ke mahasiswa dan terus memotivasi semangat belajar mereka… Sehingga ada pemahaman bersama, bahwa belajar itu tidak hanya untuk ujian dan untuk nilai. Tapi belajar itu adalah kebutuhan, yang harus ada pada diri manusia sampai akhir hayatnya… Seandainya saja sistem evaluasi boleh tidak lewat soal ujian…. Ada komentar?

Mei 3, 2007 - Posted by | ke-kuliah-an

16 Komentar »

  1. bukan rahasia…apa yang diinginkan mahasiswa,
    jelas-jelas nilai yang yang baik seiring dengan pemahaman konsep yang memuaskan.
    kendala…?jgn selalu menyalahkan mhsw ttg hal ini.
    mereka mrpkn kaum elitis (jmlh mrk krg lbh 2% dr populasi)yg ga bisa dianggap enteng kualitas sdm-nya
    kenapa mereka bisa ga minat dengan mata kuliah Anda?
    cara penyampaian Anda yang kurang menarikkah?
    seringkah ketika Anda menyempaikan materi dan menganggap bahwa semua mahasiswa saya memahami konsep yang Anda berikan…?sedangkan mereka terbengong-bengong…?
    ingat, inti dari komunikasi adalah apa yang diterima, bukan yang disampaikan…

    alief: alhamdulillah ada yang memberi masukan… (sampean bukan mahasiswa di kelas MKM saya kan??? hehehe….) Ya mungkin selama ini memang saya terlalu terlena dengan “apa yang saya sampaikan” sehingga kurang memperhatikan “apa yang diterima” mahasiswa. Sebuah masukan yang bermanfaat, thanks…

    Komentar oleh tee | Mei 3, 2007 | Balas

  2. @ Tee..

    ingat, inti dari komunikasi adalah apa yang diterima, bukan yang disampaikan

    Saya tidak begitu mengerti tentang teori komunikasi, tetapi menurut saya, supaya tidak miskomunikasi hasil yang diterima harus dikonfirmasi apakah sesuai dengan yang disampaikan.

    alief: saya setuju dengan pendapat sampean ini cak. Salah satu cara untuk konfirmasi itu, ya dengan melakukan survey ini ke mhs, dan dari situ saya tahu ternyata memang terjadi miskomunikasi…

    Tetapi masalah yang umum terjadi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) adalah pasifnya peserta ajar, dalam hal ini mahasiswa. Saya yakin bahwa dosen sudah mengkonfirmasi mahasiswa tentang bagian mana yang belum mereka pahami dengan pertanyaan, misalnya dengan mengajukan pertanyaan: “Apakah ada pertanyaan?” atau “Ada yang belum jelas?”. Dan umumnya, dari pengalaman yang saya hadapi, mahasiswa kebanyakan tidak merespon bahkan saat ditanya “Sudah jelas?” mereka juga tidak merespon. Ini susah sekali, karena dosen tidak tahu apakah materinya diserap oleh mahasiswa. Mungkin mahasiswa lebih merasa aman bertanya kepada rekan mereka (kalau bertanya) atau membaca buku (kalau membaca).

    Nah kalau tidak ada respon dari mahasiswa, maka tentu saja tidak terjadi komunikasi dua arah. Tidak ada konfirmasi dari mahasiswa, sehingga yang paling aman adalah bermain dengan asumsi, dengan mengajukan pertanyaan “sapu jagad”, yaitu: “Apakah ada pertanyaan? Kalau tidak ada, berarti semua sudah paham dan saya tidak perlu mengulanginya!”

    alief: itulah repotnya saya sebagai dosen cak, dalam proses evaluasi kemaren, yang aktif berdiskusi adalah mhs-mhs yang nilainya sudah bagus. Sedangkan yang nilainya belum bagus, malah diam saja tidak ngomong blas. Saya minta ngomong, responnya kebingungan, jadi ikut bingung pisan aku…

    Apakah Cak Alief menggunakan pola Teacher Centered Learning atau sudah Student Centered Learning?

    alief: kayaknya masih teacher centered deh (sakjane aku gak sepiro ngerti bedane student karo teacher centered….).
    Oh ya, saya pernah coba seperti ini: setelah kuliah bahas bab tertentu, sebagai tugas, saya minta mahasiswa mencari sendiri soal yang ingin mereka pelajari, trus mereka kerjakan, dan dikumpulkan minggu depan. Harapan saya, mereka bisa bebas ngerjakan apapun yang mereka bisa, dan kalo tidak bisa mereka bertanya. Kenyataannya??? NOL BESAR. Tidak ada yang ngumpulkan sama sekali. Alasannya: susah mengerti soal dari buku yang berbahasa Inggris. Trus saya tanya: kok gak ditanyakan ke saya???. Jawabnya: hehehe… males pak. (dalam hati saya bilang: jancuk kok)😀

    Mereka hanya bersedia belajar kalo ada tugas, kuis dan ujian saja, laen itu tidak mau.

    Bagaimana dengan “Everyday is a test day Cak?”
    Bisa jadi solusi tidak?

    alief: wah usulan solusi yang bagus itu… trimakasih banyak.
    hihihi… Kalo diminta buat soal sendiri dan njawab sendiri, mhs gak mau. Cara “everyday is test day” kayaknya menjanjikan deh… Akan segera saya coba minggu depan.

    Komentar oleh Arief Fajar Nursyamsu | Mei 3, 2007 | Balas

  3. Top pak surveynya
    heheh ya giru deh kalo jadi mahasiswa entar aja belajarnya kalo mo ujian heheheh

    Komentar oleh kangguru | Mei 3, 2007 | Balas

  4. mengulang kata2 terdahulu….. andai cak alief jadi dosenku….🙂

    Tapi dari tulisan ini aja menunjukkan begitu perhatiannya seorang dosen kepada anak didiknya agar ilmu itu benar2 bisa diterima mahasiswa….

    So yang patut di salahkan siapa nih???

    Komentar oleh arul | Mei 3, 2007 | Balas

  5. alief: kayaknya masih teacher centered deh (sakjane aku gak sepiro ngerti bedane student karo teacher centered….)

    Setahu saya kalau student centered, ya siswa yang aktif, misal kalau di KBK, siswa melakukan presentasi atas apa yang dia kerjakan, siswa lain menanggapi atau mengajukan pertanyaan, guru memfasilitasi dan memberikan bantuan atau tambahan penjelasan jika dibutuhkan.

    Alasannya: susah mengerti soal dari buku yang berbahasa Inggris.

    Hehehehe.. silly reason. Saya terus terang tidak suka model mahasiswa yang seperti ini. Tidak bisa bahasa Inggris bukan halangan, tapi tantangan. Lagian referensi teknis berbahasa Inggris tidak banyak memiliki makna kias

    Kalau ada yang seperti itu bisa dibales dengan pertanyaan: Kalau ada buku berbahasa Indonesia, berarti bisa mengerti kan? Mau coba? …
    Hehehehe.. pasti juga tidak mau..😛

    Cara “everyday is test day” kayaknya menjanjikan deh… Akan segera saya coba minggu depan.

    Saya tunggu ceritanya cak..
    * Clingak-clinguk nglihatin mahasiswanya Cak Alief *
    😀

    Komentar oleh Arief Fajar Nursyamsu | Mei 3, 2007 | Balas

  6. yang sering diupdate blog saya pak.lebih praktis.
    Web-nya kalo ada tulisan menarik aja.

    mmm enaknya kalo dosennya perhatian gini…
    Oh bener pak emang kudu lebih kasi motivasi ke mahasiswa.

    Coba dianalogikan ke kasus nyata di kehidupan sehari2 manfaat ilmu yang sedang kamu ajarkan.

    Bawain juga cerita-cerita tokoh yang berhubungan dengan teknik misalnya.
    Pokoknya yang humanis gitu lah pak

    Komentar oleh benykla | Mei 3, 2007 | Balas

  7. hahahahha
    dosen pengenya spt itu, tp kita sbg mhs jg sibuk khan Pak🙂
    kuliah, prakt, makan, tidur, pacaran, ngapel, pengajian, cari sampingan🙂

    bla bla bla … ya itulah ‘pembelaan’

    Komentar oleh Luthfi | Mei 3, 2007 | Balas

  8. Hehehe…sepertinya mahasiswa tidak salah karena mereka meninjau fakta di negara kita ini so mereka hanya mencoba berpikir REALISTIS, bukan IDEALIS apalagi TEORITIS
    Kita sama2 tahu bahwa di negara kita status masih dianggap sebagai raja…
    Kualitas ditinjau dari kuantitas, dalam hal ini nilai.
    Contoh nyata UN, semua dilihat dari nilai terakhir padahal kalau hanya melihat nilai terakhirnya saja sebenarnya ini sangat rawan karena banyak faktor yg menyebabkan kegagalan siswa dalam UN.
    Seharusnya kualitas siswa tidak hanya ditentukan oleh SATU KALI penilaian saja.
    Contoh lain:
    Seringkali lulusan ITS/ITB/UGM dianggap lebih bagus dari lulusan dari PT lain…semua itu lagi2 hanya sebatas status.

    Komentar oleh deking | Mei 3, 2007 | Balas

  9. asyik juga kalo semua dosen memperhatikan perkembangan anak didiknya, sepakat rul. masalah terbesar yang dihadapi pak dosen ini adalah beliau bukan berasal dari kelompok mahasiswa yang pernah menghadapi permasalahan di perkuliahan(mata kuliah-red). coba deh di sesi informal discuss ma mereka. ngajar tuh juga talent lho.
    Ada beberapa masukan:
    1. permasalahan proses pembelajaran adalah permasalahan psikologi juga, tapi repot juga ngurus anak didik sebanyak itu kali ya, ambil pointnya aja. misal di awal perkuliahan coba dipaparkan ilmu yang mo diajarkan pemanfaatannya sejauh apa(as benykla said). Motivation make a motion. ngerti kan kalo sampai skrg mahasiswa masih bingung mata kuliah kalkulus tuh gunanya apa ya, ribet lagi. tapi bisa membuat mahasiswa Do or OD

    2. bahwa belajar itu tidak hanya untuk ujian dan untuk nilai. Tapi belajar itu adalah kebutuhan, yang harus ada pada diri manusia sampai akhir hayatnya.
    Sepakat, jangan salah, mahasiswa juga memiliki kepuasan tersendiri di saat ia mengerti, memahami, setidaknya mengalami proses pembelajaran dalam dirinya saat perkuliahan, jadi nilai pun bukan tujuan mereka semata, itu cuma kesepakan umum bahwa nilai bisa jadi menunjukkan tingkat keberhasilan seseorang. Sama halnya di saat saya menyadari bahwa dosen pun memiliki nilai prestise di saat IP mengajarnya bagus di kalangan dosen sendiri, sama aja kan.
    nb: tentor bimbel saya mengatakan pengajar yang qualified adalah orang yang mengatakan bahwa sebuah pelajaran itu mudah karena berarti ia bisa mengajarkannya, kalau ia sendiri merasa sulit masa’ iya ia bisa mengajarkannya, who knows?

    3.kalo ngeliat metode pengaderan, tidak semua jurus bisa diterapkan pada semua orang secara general. for example: ada yang bisa ditreatment all day is test day, or discuss is funny, maybe learning by doing is effective, also take home exam is efficient. try all of that and recheck mane yang mudharatnya lebih kecil.
    Satu hal yang bisa dijadikan pegangan,
    hidayah itu dari Allah, jika ada yang mendapat hidayah melalui qta balesannya emang setimpal, jika tidak qta gak boleh memaksakan kehendak Allah karena itu Kuasa Allah semata. Ilmu itu kan juga datangnya dari Allah, lanjutannya mikir dewe yo..

    berhubung saya bukan dosen untuk saat ini, jadi sepertinya lebih banyak belajar dari dosen alief, terobosannya di dunia pengajaran ITS lumayan innovatif, that’s good

    Komentar oleh fifah | Mei 4, 2007 | Balas

  10. ooooo, gitu ya mahasiswa bapak, kalo saya sih pengennya tidak ada syarat absen dan kewajiban masuk, karena menurut saya ilmu tidak selalu kita dapatkan di ruang kuliah.

    Saya mahasiswa ilmu komputer, tetapi saya mendapat ilmu tentang komputer 75 % dari luar ruang kuliah (internet dll) sedangkan di dalam ruang kuliah hanya dapet 25 %.

    Ketika saya membaca apa yang diinginkan mahasiswa bapak, saya yakin pasti mereka mempunyai nilai NEM sangat tinggi ketika lulus (hasil produksi LBB), karena mereka banyak minta soal latihan dan teori.

    Kalo saya mah malah emoh dapet terlalu banyak teori, langsung aja ke pngertian dan konsep, habis itu praktek, karena saya punya otak yang bertipe praktek oriented bukan teori oriented. (hehehehe, semua matkul yang cuma teori doang saya nilainya jelek, kalo yang praktek pasti minimal dapet 3.00)

    Komentar oleh ndarualqaz | Mei 4, 2007 | Balas

  11. wah,baca komentnya kok panjang2….hehehhe

    Komentar oleh escoret | Mei 4, 2007 | Balas

  12. iyah komennya panjang2
    jadi malu maw komen…

    Komentar oleh superkecil | Mei 4, 2007 | Balas

  13. komen sekaligus mau curhat nih,

    dosen tentu memiliki kriteria tertentu dalam memberikan penilaian.

    pada UTS mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi kemarin, terjadi hal yg mencengangkan buat para mahasiswa.

    bayangkan saja, nilai rata-rata uts mata kuliah tersebut adalah 28.32 (nilai terendah 0 dan nilai tertinggi 62).

    entah apa yg ada di pikiran sang dosen. jika dilihat dari nilai tersebut,
    apakah mahasiswa yg salah atau dosen yg salah..???
    apakah mahasiswanya bego atau dosennya tidak becus mengajar..??

    sekedar informasi tambahan, soal ujiannya adalah essay (3 nomer namun tiap nomer punya anak😆 ). apakah mungkin dengan ujian yg bersifat essay mahasiswa memperoleh nilai 0..?? (masa sih ngga ada “upah nulis”).

    daripada cape2 datang ujian and hasilnya cuma dapet 0, mendingan ngga usah ikut ujian😡

    lagian harusnya sang dosen sadar bahwa kita ini kuliah di jurusan teknik and mata kuliah tsb cuma sekedar pengetahuan saja. jd dia ngga perlu sedetail itu lah… udah gitu apa yg dikasi di perkuliahan ngga ada hubungannya dengan apa yg keluar di uts.

    btw nilai saya 20😀

    Komentar oleh chandra | Mei 8, 2007 | Balas

  14. # kangguru:
    sakjane saya dulu pas mahasiswa juga gitu…🙂 tapi lek kuliah yo tetep ngerti apa yang diajarkan sama dosenne…

    # arul:
    gak usah cari yang salah deh… dipikir bareng aja solusinya, ok.

    # arief fajar:
    minggu ini akan saya buat mahasiswa saya rajin belajar, because every day is test day….😀

    # benykla:
    terima kasih cak usulannya, memang saya harus banyak cerita yang humanis-manis kayak gula😀

    # luthfi:
    mhs seperti itu ya wajar juga sih, asalkan mereka mau dan bisa tanggung jawab dengan pilihannya.

    # deking:
    iya sih cak, lingkungan sekitar mhs memang membuktikan bahwa tanpa kerja keras pun bisa untuk sukses, jadi buat apa kerja keras??? Sebuah masukan yang harus trus direnungkan oleh dosen dan mhs…

    # fifah:
    terima kasih atas masukannya ning. Btw, kayaknya sampean cocok juga jadi dosen tuh… paling nggak, guru TK lha…😀 (guyon lho Fa, jangan dianggap serius)

    # ndarualqaz:
    secara prinsip saya setuju dengan sampean cak, saya pun memperbolehkan mhs untuk tidak masuk kelas sebanyak maks 4 kali dalam 1 semester. Saya harap mereka bisa manfaatkan untuk ikut seminar, nyiapkan kegiatan, dll. Yang penting mengerti esensi dari kuliah ini, beres.

    # escoret:
    komennya panjang-panjang kayak coki-coki😀

    # superkecil:
    ah jangan malu-malu-in gitu dong ah…😀

    # chandra:
    wah repot juga ya nanggapi komentar sampean. Karena saya sendiri juga sering kasih nilai NOL ke mhs, meski dia sudah nulis sesuatu. Ada 2 alasan saya kasih nilai NOL ke mhs. Pertama, jawaban yang ditulis tidak menyentuh sedikitpun hal yang ditanyakan. Kedua, jawabannya sama persis dengan jawaban teman lainnya (nyontek).
    Tapi saya selalu kasih kesempatan mahasiswa untuk “protes” jika merasa nilai yang diterimanya tidak pas, karena saya rasa sifat kritis itu sudah harus mendarah daging di diri mahasiswa.

    Komentar oleh alief | Mei 9, 2007 | Balas

  15. Hehe, jadi inget waktu jaman ngajar dulu.
    Pertama kali masuk kelas, saya kenalan dengan para mahasiswa/mahasiswi nan tampan dan cantik. Lalu saya bilang “Kalian semuanya saya kasih nilai A. Mau?”
    Jawaban mereka serempak “MAUUU!!” dengan semangat 45. Saya lanjutkan, “Tapi ada syaratnya. kalian harus mempertahankan nilai ini. Kalau ndak. Kalian sendiri yang rugi”.
    Cara mempertahankan nilai adalah dengan mengerjakan tugas dan menjawab soal-soal ujian.
    Jika siswa tidak mengerjakan tugas… ia akan keilangan point. Mengurangi jatah nilai A nya itu.
    Contoh, siswa X tidak mengerjakan tugas. Saya tidak mengurangi nilainya. Tapi saya tanya, “Berapa kamu mau dikurangi”. Dengan anggapan A adalah 100. Biasanya mahasiswa minta, “Kurang 2 atau 5 saja deh, Pak”.
    Lalu saya tanya sama temen-temennya sekelas, “Kalian mau si X berkurang nilainya 2 atau 5?”
    Teman-temannya pasti bilang “HUUUU!!” secara serempak. mereka ndak setuju. Mereka minta lebih besar nilai hukumannya. Sebab mereka matimatian susah mengerjakan tugas.
    Si X ‘dihukum’ oleh komunitasnya. Konsep ini ternyata lebih menunjang proses belajar mengajar. Sebab si X jauh lebih malu, dicemooh teman-temannya di depan kelas, daripada saya maki-maki (misalnya) di depan kelas (*walaupun saya nggak pernah maki-maki siswa*).
    Pada saat itu, saya mencoba untuk tidak berkuasa, jadi Tuhan dalam kelas. Melainkan mencoba menumbuhkan semangat demokrasi dan tangggung-jawab.
    Hasilnya, 80% mahasiswa di kelas, jadi pada rajin-rajin gitu. Mereka berhasil mempertahankan nilai A-nya. Padahal target saya hanya 60%.
    Saya juga bingung! Hehehe.
    Sayang sekali, konsep ini ditentang oleh dewan kampus. Pola pemberian nilai dengan sistematika belibet seperti A pangkat n kali x kwadrat bagi bla-bla-bla ternyata lebih mereka setujui.
    Akhirnya saya pergi.
    Namun, tetap punya niat, suatu saat buka kampus sendiri… hehehe. Kampus dimana mahasiswa/mahasiswi selalu dapat A, apabila mereka dapat mempertahankannya.
    *halah… kok panjang gini komennya! Maap Cak! Salam kenal yoo*

    alief: terima kasih banyak ya cak, sampean kasih ide yang bagus untuk mengembangkan proses belajar mengajar di kelas. Ntar tak diskusikan sama mahasiswa saya di kelas, kira-kira mereka setuju gak ya….🙂 Salam kenal juga.

    Komentar oleh bangaiptop | Mei 30, 2007 | Balas

  16. Ikutan, Pak
    Saya masih mahasiswa, sepertinya saya punya dosen seperti Bapak. Sama angkatannya, beda universitas dan jurusannya. Semester lalu kami kuliah, dan hasilnya? satu kelas gagal semua dengan nilai paling tinggi D. Mata kuliahnya agak berat Operation Research II, sebenarnya asyik, waktu kuliah, saya pribadi menikmatinya. Tapi, ketika ujian, baik itu UTS maupun UAS, semua mahasiswa gak dapat menyelesaikannya dengan benar. Padahal juga sudah ditambah tugas besar dengan bantuan penjelasan/konsultasi oleh asisten. Dosennya juga cerdas dalam menerangkan materi.
    Artinya, sistem sudah dibuat sedemikian rupa, tapi apakah sistem tersebut sudah cocok untuk tipe mahasiswanya?
    ada yang cuma dengar aja sudah nangkap (tipe auditori)
    ada yang perlu liat gambar atau tulisan di papan tulis (tipe visual)
    ada juga yang bisa nangkap kalau dengar, liat dan tulis, ngerjain soal (tipe kinestesik)
    jadi, saya pikir ada baiknya dosen dan mahasiswa saling mengerti cara belajar (mengupgrade diri masing-masing)
    Tapi pak, memang susah mengajarkan sesuatu pada orang yang tak mau menerima sesuatu itu. Jadi, kalau bisa berkali-kali diulang manfaatnya belajar mata kuliah tersebut di dunia luar kampus atau Tugas Akhir dan kaitannya dengan mata kuliah lainnya sehingga mahasiswa jadi punya gambaran dan visi yang akan meningkatkan semangat belajar. Setidaknya hal ini berlaku untuk saya.
    Maaf kepanjangan

    Komentar oleh elin | Agustus 10, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: