Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Apa yang Dia Pikirkan?

Ketika berkunjung ke Taipei Zoo beberapa pekan yang lalu, saya sempat memotret foto seekor Gorila yang lagi duduk santai. Saat itu saya lihat dia sedang duduk bersandar pada tembok dengan kaki bersila dan kayaknya lagi merokok selinting ranting🙂 Memangnya apa sih yang sedang dia pikirkan?

Saya kemudian teringat sebuah novel ‘Life of Pi‘ yang pernah saya baca 1 tahun lalu. Di novel itu ada sebuah ‘pembicaraan’ menarik tentang: apakah seekor binatang lebih suka hidup di alam bebas ataukah di kandang seperti Gorila yang saya foto itu?

Saya yakin sampean lebih banyak yang bilang: hidup di alam bebas dong… Analogi yang ada di pikiran mungkin adalah bagai burung dalam sangkar, gak bisa kemana-mana dan gak enak. Atau bagai putri yang ‘terkurung’ dalam istana megah. Meski dapat fasilitas mewah dan lengkap, tapi gak punya teman dan permainan di alam…

Ya memang itu juga yang ada di pikiran saya ketika membaca novel Life of Pi itu. Maklum saja saya kan orang yang suka ‘bermasyarakat’. Jadi gampang menerima opini yang disampaikan oleh lingkungan sekitar dan tidak begitu kritis untuk mempertanyakan keabsahan opini-opini itu🙂

gorila.jpgTapi ketika novel itu selesai kubaca, ternyata ada sudut pandang lain yang secara eksplisit kudapatkan. Siapa bilang hidup di alam bebas lebih enak? Kalo ternyata di kandang bisa dapat perhatian rutin dan makanan cukup. Dan coba perhatikan sekeliling diri kita, apakah kita hidup di alam bebas atau dalam kandang?

Secara tidak sadar manusia hidup pula di dalam kandang. Apakah itu sebuah kandang yang disebut home, habitat, aturan, atau kalo dalam engineering disebut constrain, boundary condition… Dan kita justru menikmati hidup dalam kandang itu. Karena siapa sih yang mau tiap saat hidup dalam ketidakpastian? Bahkan seorang petualang sejati pun lebih merindukan home daripada tantangan dalam petualangannya…

Dan itu pula yang mungkin dirasakan oleh sang Gorila. Betapa nikmatnya hidup di dalam kandang yang serba berkecukupan ini. Ketimbang hidup di alam bebas dengan berbagai macam resiko dan tantangan yang mungkin dihadapai. Namun, apa yang dia pikirkan tetap akan menjadi misteri karena dia tidak akan bisa menuliskan komentar di postingan ini. Laen seperti sampean yang bisa mengomentari tulisan ini, kecuali kalo sampean adalah Dia😀

 
Blog lain tentang Life of Pi:

Desember 5, 2007 - Posted by | ke-buku-an, ke-hidup-an, ke-opini-an

8 Komentar »

  1. Kepastian dan ketidakpastian memang harus seimbang. Kalau terlalu pasti, orang bisa bosan, kurang variasi dan tantangan. Kalau terlalu tidak pasti, orang bisa gamang, tak punya pegangan.

    Komentar oleh femmy | Desember 5, 2007 | Balas

  2. mas novelnya itu ada ndak ya di indonesia,pake bahasa inggris apa bahasa indonesia.jadi pengen baca neh…

    Tapi klo boleh milih sih…saya pasti akan merindukan orang2 yg saya sayangi dalam kandang eh keliru dalam keluarga saya maksudnya….

    Komentar oleh nanakiqu | Desember 5, 2007 | Balas

  3. Tergantung gorilanya…jika sejak awal hidup dikandang, maka dia akan kaget dilepas dialam bebas.

    Tapi saya melihat, bahwa manusia mempunyai perbedaan kompetensi, ada yang keahliannya justru sebagai peneliti, suka menghitung, dan nyaman berpikir dikantor. Ada juga yang lebih suka hidup dalam tantangan, ke arah operasional. Jadi kalau jadi manager SDM harus pandai menempatkan orang-orang ini…tapi ada juga yang bisa seperti rumput, bisa tumbuh dimana saja.

    Komentar oleh edratna | Desember 5, 2007 | Balas

  4. Secara tidak sadar manusia hidup pula di dalam kandang.

    Ya karena pada dasarnya manusia juga makhluk yang lemah yang senantiasa membutuhkan perlindungan

    Komentar oleh deKing yang katanya sudah tidak hiatus lagi | Desember 6, 2007 | Balas

  5. Waduh, harus comment nih supaya semua pada tahu bahwa saya bukan Dia. ( sambil clingak-clinguk cari cermin )…. Wakakakakak.

    Komentar oleh Paijo | Desember 6, 2007 | Balas

  6. # femmy:
    trims atas pencerahannya…

    # nanakiqu:
    ada kok yang bahasa indonesia. Saya bacanya juga yang bahasa indonesia🙂

    # edratna:
    sayang ya gorila nya gak bisa ditanyai🙂 btw, trims atas tambahan wawasan yang diberikan…

    # deking:
    betul… habis ini tak mampir ke blog sampean ya…🙂

    # paijo:
    wakakak… karena komen, sampean pasti bukan dia pak😀

    Komentar oleh alief | Desember 6, 2007 | Balas

  7. mungkin nggak kalo si gorila berpikir:

    ‘betapa enaknya hidup sebagai manusia.’

    Komentar oleh vin | Desember 12, 2007 | Balas

  8. Mau hadiah buku? Baca http://muhshodiq.wordpress.com/2007/12/13/siapa-mau-hadiah-buku/

    Komentar oleh M Shodiq Mustika | Desember 13, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: