Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Laskar Pelangi Memang Fiktif

Namanya novel pasti fiktif donk… Kalo kisah nyata, itu namanya buku nonfiksi, diary, biografi; bukan novel… Bener gak?

Kalo ada orang yang bilang bahwa di novel dan film Laskar Pelangi tidak menggambarkan keadaan di Belitong, ya trus mau apa… Masak dibilang itu mencemarkan nama baik Belitong… hehe…

Kalo ternyata Andrea Hirata tidak pernah punya teman semasa SD atau bahkan tidak sekolah di SD Muhammadiyah, lha trus apa dia gak boleh menjadi tokoh Ikal dalam novel Laskar Pelangi?

Masak terus kita merasa tertipu oleh Andrea dan menjadi tidak suka dengan Laskar Pelangi? Itu masih yang Laskar Pelangi nya lho ya… Belum yang Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov… Di semua novel itu pastilah Andrea Hirata berbohong, berkhayal, berimajinasi dan tentu menipu pembaca semuanya… Karena memang yang namanya novel pasti fiktif…

Namun demikian, banyak pelajaran, hikmah, inspirasi, yang bisa kita petik dari novel-novel karya Andrea Hirata. Terlepas dari gosip yang beredar bahwa Laskar Pelangi itu fiktif atau nyata… Komentar sampean?

November 8, 2008 - Posted by | ke-buku-an, ke-indonesia-an, ke-opini-an |

30 Komentar »

  1. benar banget yah ambil hikmah nya aja🙂

    Komentar oleh aRuL | November 8, 2008 | Balas

  2. hmmm…belum baca bukunya😛

    Komentar oleh didut | November 9, 2008 | Balas

  3. Soal asli gaknya laskar pelangi, bisa deh dibandingkan dengan cerita tutur tinular. Tokoh tokoh seperti R. Wijaya, Kalagemet alias Jayanegara, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Ronggolawe, Nambi, Ra Kuti adalah tokoh yang benar-benar ada, sedangkan Arya Dwipangga, Arya Kamandanu, Mei Sin, Babah Wong, dan beberapa orang lainnya adalah fiktif.

    Dalam Laskar Pelangi, Pak Harfan dan Bu Muslimah, adalah tokoh yang benar-benar ada, bahkan Bu Muslimah sendiri telah mendapat penghargaan dari PP Aisyiah atas dedikasinya dalam dunia pendidikan.

    Dalam versi film, muncul nama Pak Bakri, yang muncul berdasarkan info dari Bu Muslimah.
    Sementara karakter anggota laskar pelangi disamarkan.

    Memang, yang masih misterius adalah tokoh Lintang.

    Komentar oleh Arum Rukmono | November 10, 2008 | Balas

  4. Saya sendiri sih belum sempet mbaca novelnya, Pak… *alasan*😀

    Tapi nyang Saya denger seh emang banyak pelajaran tentang kehidupan nyang ditawarkan. Terutama tentang usaha keras manusia dalam menggapai mimpi dengan berpendidikan.

    Well, terlepas dari fiktif atau tidaknya kisah dalam Laskar Pelangi, Saya bener2 appreciate dengan karya Bang Andrea Hirata ini… bener2 fenomenal…

    Salam hangat dari jurusan tetangga sebelah…🙂

    Komentar oleh Alfiyan | November 13, 2008 | Balas

  5. Salam,
    Wah Pak, saya baru dengar kalau ada yang protes tentang Laskar Pelangi. Kalau saya sih, akan tetap mengagumi novel karya Andrea Hirata, karena bia membuat tertawa, menangis, dan merenung.

    Komentar oleh an-fi | November 14, 2008 | Balas

  6. Andrea telah melukai batinku

    Komentar oleh Anu | November 16, 2008 | Balas

  7. salam,
    kmrn sempet ngobrol soal ini sama temen, katanya se “betul!- novel ini penuh hikmah, pelajaran hidup, motivasi de el el. cuma selama ini kan cerita tsb diklaim cerita nyata… so kalo nyatanya (mungkin) fiktif, kan terkesan ada ‘pembohongan publik’ gt”.
    klo aku cak alief, …ga penting fiksi atau non-fiksi yg penting ada banyak hikmah/pelajaran yg kita dapat. Ya sama-lah kaya novel AAC, KCB, de el el…. itu semua kan fiksi, namun banyak orang terilhami olehnya… cuma bedanya novel ACC, KCB, dll. tsb sejak awal memang ga di klaim sbg cerita nyata, meskipun sangat kental dengan pengalaman pribadi si penulisnya yg pernah hidup di Mesir sono…
    anyway… saya suka laskar pelangi, sang pemimpi, edensor … cm maryamah karpov ??? sy belum tahu n belum nyari tahu kabarnya…. sudah terbit a cak? xiexie nin.

    Komentar oleh asrori | November 17, 2008 | Balas

  8. Memang Hak andrea mau fiktif mau nyata, yg menggelitik itu sejak awal andrea membagi keyakinan pd kita bahwa itu benar2 nyata,kenapa dia tidak sampaikan pd kita bahwa dalam laskar pelangi ada bnyk penggalan cerita yg merupakan pengalaman hidupnya yg nyata.Andrea terlanjur bilang, “Iniloh laskar pelangi,sebuah novel yg berisi kisah nyata di belitung,saat saya kecil ” begitu kira-kira penerjemahannya.Saya 10 tahun menjalani masa kecil di pulau belitung,saya lahir di bandung dan sekarang kerja dan bermukim di bandung.Saya tidak pernah membaca apalagi menönton film laskar pelangi, begitu teman-teman bercerita isinya, saya tahu memang ada kebohongan yg berlebihan,saya sempat sampaikan keadaan yg memang patut saya sampaikan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pd siapa pun yg jatuh cinta pd laskar pelangi juga pd andrea,tegaskan dari awal fiktif atau non fiktif,jgn dibuat seolah-olah.

    Komentar oleh Syd | November 18, 2008 | Balas

  9. Andrea Hirata dalam YouTubu sudah mengaku kalau dia buka sastrawan. dia sebenarnya tak puny akemampuan itu. kalau kita baca pakai otak yang sadar dan waras dengan sedikit pakai kesadaran jazz bukan dangdut, pasti kita sadar bahwa Laskar Pelangi bukan novel, tapi Memoar. Kalau Memoar disebut novel itu namanya ngawur: MENIPU PEMBACA!

    Mana ada novel dengan tokoh yang ada dalam dunia nyata?
    Siti Nurbaya, Cinta (AADC),Noura (AAC, Lupus. semua fiksi, tokoh rekaan. tapi kita harus sadar, bahwa niat dasar andrea kita tak tahu semua, yang jelas, apa yang terjadi dan sedang dia lalukan, dia sedang mau jualan buku. cari duit.

    harap bedakan, ada pembaca yang latah yang ikut-ikutan setelah banyak orang bilang BAGUS! padahal … mutu sastra LAsakar Pelangi itu sangat Rendah. Penokohannya kedodoran. Plotnya payah.

    Karena memang itu buka novel, dan Andrea bukan sastrawan!
    jadi, pembaca yang tersesat, kemalilah ke jalan yang benar.

    Jangan baca Laskar Pelangi sebagai NOVEL: tanda seni artistik di sana.

    Semua yang ada di Laskar Pelangi cuma omong besar Andrea. Dan andrea sedang memitoskan dirianya sebagai penulis termahal, terkaya, ternama, di indonesia dalam rangka menyihir pembacanya. Andrea itu penulis gombal yang suka tebar pesona. lihat mulutnya. kalau dia menyatakan kebohonan, bibirnya miring-miring kekiri (hahahaha)

    Dengan sombongnya dia biang bahwa menulis novel itu gampang (hahaha), ya kalau novel tanpa target keindahan yang kuat, siapapun bisa. soal laris itu kan soal bagaimana manajemen pemasaran. Pokoknya Andrea itu nalurinya manajemen pemasaran, bkan sastrawan yang menjunjung tinggi kejujuran kamnausiaan dan tak mau merekayasa pembaca. lihat dan buktikan, sebentar lagi LP akan sunyi senyap dan atak akan dibaca orang lagi. masanya habis. lain dengan karya yang ditulis bukan untuk sekedar cari untung, karya semacam itu akan kekal dan akan dibicarakan terus.

    Soal cerita 10 manusia dalam LP; itu terlalu biasa. sangat biasa. tidak imajinatif. LP telah melecehkan kemiskinan. dia memperdagangkan kemiskinan.

    Komentar oleh Laskar Pelangi Bohong | Desember 11, 2008 | Balas

  10. Menurut saya, siapapun wajib baca novel ini. Apalagi guru atau pihak yang peduli pendidikan. Yang gak peduli saja perlu membacanya.
    Saya gak yakin filmnya mampu mewakili isi novelnya seperti pada kasus novel dan film ayat-ayat cinta yang filmnya sangat mengecewakan.

    Komentar oleh Willy Ediyanto | Desember 15, 2008 | Balas

  11. Aku kecewa bukan karena mas andrea pernah nikah atau belum (ingat: ga ada hubungannya antara karya dengan status). TAPI PARA PENGGEMAR HARUS TAHU MASALAH INI, INTINYA KITA SEMUA ADALAH KORBAN MARKETING LASKAR PELANGI, ITU NOVEL, BUKAN MEMOAR.

    1. DIA AWAL KEMUNCULANNYA, ANDREA MENYATAKAN KARYANYA ADALAH MEMOAR BUKAN NOVEL (LIAT LAGI DI KICK ANDY, ADA JUGA BEBERAPA WAWANCARA DI MEDIA)
    2. AKU PERNAH TANYA LANGSUNG KE MAS ANDREA : APAKAH LINTANG, ARAI DAN ALING NYATA?????DIA JAWAB, YA KARENA ITU MEMOAR
    3.SEKARANG DIA BILANG ITU NOVEL SETELAH BANYAK PIHAK MENYUDUTKANNYA. EH….EMANGNYA ORANG SEINDONESIA GAK TAHU BEDANYA NOVEL DENGAN MEMOAR/AUTOBIOGRAFI. KALO NOVEL YA FIKSI, KALO AUTOBIOGRAFI YA NON FIKSI
    4. TIM MARKETING LP GAK PERNAH TOBAT UNTUK MENDONGKRAK OPLAH DENGAN CARA MENIPU PEMBACA (PADAHAL MASALAH DISCLAIMER MEMOAR DI AWAL UDAH DIBAHAS SAMA PROF.JACOB). NGAPAIN COBA DITULIS CULTURAL LITERARY NON FICTION PADAHAL MARYAMAH KARPOV ISINYA FIKTIF SEMUA. APA ITU NAMANYA GAK MENIPU PEMBACA?????
    5. UNTUK PENULIS MANAPUN JANGAN PERNAH MENIRU CARA2 MARKETING YANG GAK ETIS SEPERTI ITU (NAMANYA MENIPU PEMBACA), GAK BISA DIPUNGKIRI KAN KALO LP LARIS GARA2 PENULISNYA MENYATAKAN KALO ITU MEMOAR YANG NYATA
    6. POKOKNYA AKU KECEWA SEKALI KALO MAS ANDREA GAK MENGGUNAKAN SEBAGIAN ROYALTINYA UNTUK PENDIDIKAN DI BELITONG. POKOKNYA JANJI ITU HARUS DILAKSANAKAN, GAK BOLEH TIDAK, LP LARIS KARENA MARKETINGNYA GAK BENER, KECEWA…KALO KEUINTUNGANNYA GAK DIBUAT PROGRAM PENDIDIKAN
    7. MEMANG BENAR KOMENTAR DI ATAS, JANGAN SUKA LATAH, ORANG BILANG BAGUS….IKUTAN…PADAHAL MASIH BANYAK KARYA SASTRA YANG LEBIH BAGUS DARI LP TAPI KURANG LARIS KARENA MARKETINGNYA BENER….GAK KAYAK LP MENIPU PEMBACA
    8. PEMBACA DI INDONESIA HARUS BERUBAH MINDSET, MAKANYA JADI PEMBACA ITU YANG KRITIS….JANGAN SUKA NGIKUTIN ARUS
    DEMIKIAN TULISAN YANG MEMANG PATUT SAYA SAMPAIKAN…..TANPA BERMAKSUD MENGURANGI PESAN MORAL DALAM BUKUNYA

    Komentar oleh kecewa | Desember 17, 2008 | Balas

  12. hadoh….
    timbul polemik neh…

    Komentar oleh lumansupra | Desember 30, 2008 | Balas

  13. Saya orang bangka, tetanggaan sama belitong. kakek saya adalah pegawai yang sama dengan cerita ayah ikal di novel/memoar (gak jelas jg) LP. nah herannya, kenapa ikal tidak bisa sekolah di sekolah PN timah jika ayahnya sendiri adalah pegawai timah?? sedangakan ikal adalah anak melayu asli.
    sedangkan setau saya, anak pegawai PN timah, dengan status apapun jika memang pintar bisa bersekolah di sekolah PN timah.

    ada kejanggalan lagi di novel tersebut adalah tokoh arai, dimana dia dipungut keluarga ikal sejak SD, namun di cerita SD muhamadiyah…tidak diceritakan tentang arai sedikitpun

    Komentar oleh Aimee | Januari 13, 2009 | Balas

  14. Iya kemarin sy jg baca disalah satu blog kalo andrea itu sekolah di pn timah.trus di detik.com roxana juga bilang andrea itu sekolah disd muhammadiyah ga sampe lulus krn dia terlanjur pindah. Trus waktu liat liputan 6 jejak laskar pelangi kucai ternyata ga pnah sekolah disd muhammadiyah. Wah jd bingung aku. Berarti kucai dan ikal bkn murid bu mus ya. Sebenarnya ga masalah andrea sekolah dmn. Tp seharusnya dia harus jujur dari awal kalo itu novel fiksi bkn memoar kisah nyata. Jd masyarakat terlanjur mempersepsikan kalo dia itu ikal. Padahal ikal bukan sepenuhnya andrea. Ya namanya jg novel.byk fiksinya jg ga papa. Yg penting kan ceritanya bagus dan menginspirasi. Makanya jujur aja kalo memberikan informasi kepembaca spy gak terkesan merekayasa pembaca biar bukunya laris. Kalo gini byk org jd bingung nih. Gimana nih andrea,penerbit, dan manajemen?besok2 yg jujur aja ya

    Komentar oleh Sela | Januari 15, 2009 | Balas

  15. iya juga…
    namanya novel ya adlah sedikit imajinasi…
    tapi agak kecewa juga sih kalo emang tokoh lintang cuma imajinasi…
    tokoh lintang buat ak bener2 inspirator…

    Komentar oleh putri | Januari 19, 2009 | Balas

  16. Daripada pusing2 dibohongin sama laskar pelangi krn jelas2 itu novel fiksi. Bahasanya aja hiperbola habis dan banyak khayalnya tp diakui kisah nyata ck..ck.. Mending baca totto chan temanya jg tentang pendidikan dan ceritanya jelas non fiksi dan real, pesan moralnya juga bagus. Setidaknya kalo baca totto chan gak akan merasa dibohongi deh he..he..

    Komentar oleh Teea | Januari 20, 2009 | Balas

  17. @cak alief yg punya blog: kayaknya penafsiran anda perlu diralat. Saya juga barusan beli maryamah karpov. Dan memang tetralogi lp itu diklaim sbg cultural literary non fiction oleh gangsar sukrisno ceo bentang pustaka.coba anda baca halaman belakang maryamah karpov(kalo anda udah punya bukunya).Jadi tulisan anda diartikel ini yg menyatakan itu novel bukan buku non fiksi memang sudah benar. Sy juga setuju dg tulisan anda krn menurut sy kalo kita baca tetralogi lp dg logika akal sehat memang byk fiksinya hanya tdpt sedikit kisah nyatanya. Tapi klaim dari penerbit itulah yg skrg ini byk dipertanyakan oleh pembaca.bagaimana pertanggungjawabannya pada pembaca kalo buku fiksi dibilang non fiksi. Atau jangan2 buku itu tdk diedit dulu sebelum diterbitkan?ini menjadi hal yg perlu dipertanyakan?

    Komentar oleh Lia | Januari 21, 2009 | Balas

  18. Seyogyanya, sebuah hadiah yang bagus juga dibungkus dengan kertas kado yang menarik. Sangat disayangkan jika tetralogi LP yang isinya menginspirasi pembaca ternyata “dibungkus” dengan kemasan yang ada motif ‘ketidakjujuran’.

    Terlepas dari motif ekonomi penerbit ataupun manajemen pemasarannya, sebuah kisah yang menginspirasi akan lebih bermakna bila dihiasi dengan kejujuran dalam memasarkannya. Jika tidak, maka jangan kaget jika kekecewaan akan terakumulasi menjadi ketidakpercayaan.

    Komentar oleh cak alief | Januari 21, 2009 | Balas

  19. @cak alief: iya, saya juga mencium motif ekonomi berbalut idealisme dalam publikasi laskar pelangi. Saya jg sangat terinspirasi dg tetralogi lp. Tapi saya juga ga suka kalo dibohongi hiks…Sangat disayangkan

    Komentar oleh Lia | Januari 21, 2009 | Balas

  20. mo fiksi kek ato bukan, itu terserah penulisnya. tapi kita liat dari sudut pandang moralnya.. yang penting bukunya laku trus.. pasti orang2 akan ambil pesan moralnya… jangan cuma kritik dong!! coba buat seperti mas andrea biar novel2 tanah air lebih terangkat githu lho!!!!

    Komentar oleh pendo | Januari 23, 2009 | Balas

  21. Iya kalo pesan moral dalam lp saya juga menangkapnya dan mencoba mengaplikasikannya dlm kehidupan. Kalo novel2 lain yg berkualitas dari indonesia sy jg py byk krn sy koleksi novel gak cuma laskar pelangi aja. Tapi masalah disclaimer cultural literary non fiction itu sy rasa memang pantas dikritik. Yg namanya kritik sastra itu wajar(coba kalo anda kuliah dijurusan sastra,pasti ada).masalahnya ini berhubungan dg integritas penerbit dan penulis

    Komentar oleh Lia | Januari 24, 2009 | Balas

  22. Karya sastra, ya rekaan, fiktif.

    Komentar oleh Willy Ediyanto | Februari 14, 2009 | Balas

  23. Bahkan sejarah pun tidak 100% obyektif. Selalu ada unsur subyektivitas di dalamnya, apalagi novel. Tapi yang penting memang bukan apa yang sesungguhnya terjadi, melainkan hikmah apa yang dapat kita petik darinya.

    Komentar oleh M Shodiq Mustika | Februari 28, 2009 | Balas

  24. Sebuah karya sastra memang harus ditempatkan sebagaimana mestinya.kalo fiksi ya bilang aja fiksi.jangan dibuat seolah2 mjd non fiksi.Lebih baik terus terang aja bilang fiksi.Toh..masalah fiksi or non fiksi tidak akan mengurangi hikmah dan pesan yg terkandung didalamnya krn ceritanya jg bagus

    Komentar oleh Caca | Maret 1, 2009 | Balas

  25. aq rasa itu campuran fiksi ama fakta … cuman gak tau siapa sebenarnya yang jadi lakon

    Komentar oleh Pertanyaan | Maret 1, 2009 | Balas

  26. ikut komentar.

    sebagai pembaca, mengkritik sangat diperbolehkan. sebagai penonton jg begitu.
    mengenai fiktif tidaknya lp tak jadi soal. kalau kita mengingat kejadian G30S/PKI juga apakah itu fiksi, rekayasa, atau kejadian nyata ?

    pada akhirnya saya setuju jika kita hendaknya arif dalam menyikapi sebuah karya. ambil hikmahnya saja.

    mengenai jujur tidaknya mas andrea, kembali ke dirinya sendiri.

    ps: tapi kalau lintang itu benar2 ada, saya salut sekali. memang benar2 tokoh yang luar biasa.

    Komentar oleh jmz | Maret 28, 2009 | Balas

  27. Jadi pengin ikutan neh..sebab saya yg asli dari Gantung (maaf bukan Gantong spt yg di LP) merasa ya memang rada aneh tuh..novel apa memoarnya Andrea (setau saya dulu nama panggilannya Andis) seingat saya nggak gitu2 amat.Tetapi ya saya menghargai karyanya yg bisa membuat daerah kami berubah..jadi dikenal orang banyak.Emang sih kalo dipikir saya setuju sama comment diatas kalo sedikit royalti LP dikembangkan buat dunia pendidikan di Belitung.
    Anyway..terlepas dari pro dan kontra, sequel Sang Pemimpi udah shooting..tunggu aja di layar lebar, denger2 katanya Desember…Salam damai dari Belitung/Bumi Laskar Pelangi

    Komentar oleh ivan | Agustus 9, 2009 | Balas

  28. yah,
    memang pembohongan harus segera dihapuskan krn tdk sesuai dg perikemanusiaan dan peri keadilan

    Komentar oleh Goda-Gado | Desember 11, 2009 | Balas

  29. Ikut-ikutan ngomentarin nih..

    Walaupun hanya cerita fiktif, pasti, andrean hirata mempunyai tujuan…

    Ngomentarinnya yg baik-baik ajja deh. Seru, menarik, punya jiwa petualang, itulah laskar pelangi!!!

    Komentar oleh hanifah nur | April 4, 2010 | Balas

  30. Terlepas dari fiktif tidaknya karya ini, harus kita akui kalau andre sosok yang rendah hati dan luar biasa dalam menyuguhkan sebuah bacaan sarat pesan moral yang begitu kuat.
    Belum ada sastrawan Indonesia dengan genre sama seperti dia, unik dengan kata-kata melangit.
    salam

    Komentar oleh ridha | April 2, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: