Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Cerita tentang Thesis

Alhamdulillah, sore tadi ditengah hujan rintik-rintik oral defense sudah saya lalui dengan hasil yang tidak mengecewakan. Postingan kali ini saya ingin cerita tentang thesis yang saya kerjakan. Siapa tau ada yang tertarik, sehingga kita bisa diskusi lebih dalam. Saya juga paksakan ambil hikmah2 yang bisa dipetik dari apa yang saya kerjakan. Semoga bermanfaat…

Jamak diketahui bahwa problem engineering, khususnya di Mechanical bisa diselesaikan dengan 3 pendekatan: Eksperiment, Numerical, and Analytical. 2 pendekatan pertama sudah sering kita dengar, bahkan saat ini kita bisa jadi terlibat di dalamnya. Kebetulan riset kami memakai pendekatan no 3 dan 2, analytical dan numerical, untuk menyelesaikan bermacam problem tentang hubungan antara crack (retakan) dengan multi layered media (gampangannya bisa dibilang composite material). Prof bilang, hanya butuh kertas dan pena untuk riset dengan pendekatan analytical.

Untuk analytical, tools mathematics yang dipakai adalah complex variable series, yang bagian analytical continuation. Tools ini dikenalkan oleh peneliti Rusia, Muskhelishivilli (1953), dan sejak tahun 1996 tercatat oleh scopus sebanyak 1757 paper sudah memakai tools yang beliau kenalkan. Di grup kami sendiri, sekitar 40-an paper ditulis dengan memakai tools tersebut.

Sementara yang numerical, kami memakai metode boundary element. Metode yang sudah umum dipakai, meskipun kadang gaungnya masih kalah dibandingkan dengan finite element. Memodelkan retakan (crack) dengan metode boundary element sudah dilakukan oleh ratusan peneliti selama ini. Kami hanya memakai sedikit porsi dari bermacam variasi metode boundary element yang ada.

Nah, urutannya gini.

Pertama, Persamaan matematika (di complex plane), yang mewakili composite material (dengan bermacam asumsi tentunya) diturunkan dulu pake metode analytical continuation. Kalo gabungan materialnya banyak, berarti persamaan akhirnya bisa panjang, sehingga bentuknya dalam bentuk deret tak hingga. Tapi kalo cuma gabungan dari 2 material, persamaannya bisa lebih simple (meskipun tetap panjang), hehe…

Pelajaran yang bisa dipetik dari sini. Secara matematik aja udah terbukti kalo hubungan antara 2 material berbeda akan menghasilkan tingkat kerumitan yang tinggi, meskipun masih bisa diselesaikan. Sedangkan kalo lebih dari 2 material, dimana masing2 material punya sifat sendiri2, gak mungkin ndapatkan closed form untuk persamaannya. Bisa pun ya dengan pendekatan2, yang berujung pada persamaan yang berbentuk infinite series.

Nah, itulah yang terjadi juga jika kata “material” diganti dengan “manusia”, apalagi yang jenis kelaminnya beda, hehe… Jadi buat yang sering cekcok sama pasangannya, ya maklumin aja, secara matematis memang butuh dicari persamaannya (equation) dulu. Sedangkan yang punya lebih dari 1, perlu tuh belajar infinite series, sehingga bisa mendapatkan iterasi tercepat yang membuat hubungan menjadi serasi. (Aduh mhs Master kalo lagi ngelindur kaya gini ngomongnya, hehe)

Kedua, setelah persamaan untuk composite material ketemu, selanjutnya kita memodelkan jika terdapat retakan (crack). Meskipun retakan itu gak diinginkan tapi bagaimanapun pasti terjadi. Karena sebagus apapun proses manufakturnya, pasti ada cacatnya, baik secara mikroskopis ataupun secara kasat mata. Nah cacat itu lambat laun akan membuat retakan semakin besar dan berbahaya bagi material.

Karena retakan itu gak diinginkan, maka mendapatkan persamaannya ketika berinteraksi dengan composite material, gak bisa secara closed form. Harus menggunakan pendekatan numerik. Trus dipake lha teori yang namanya boundary element, dislocation distribution, singular integration, dll sehingga didapatkan persamaan integral yang menghubungkan antara composite material dan crack.

Hikmah yang bisa dipetik: Jangan hindari yang namanya retakan, itu lumrah, hadapi saja. Gunakan prinsip2 integration (penyatuan) untuk menyelesaikan crack yang cenderung ingin memisahkan, hehe…

Ketiga, sampe segini dulu aja pengetahuan yang saya dapatkan di tingkat master ini. Selanjutnya kalo sudah tahu persamaannya seperti apa, terus gimana efeknya ke material yang bersangkutan, trus retakannya itu nanti akan berkembang sejauh apa, dll itu yang masih ingin saya pelajari. Makanya berencana ambil PhD, doakan semoga berhasil.

Termasuk yang menjadi keingintahuan kami adalah efek fracture mechanics di tingkat micro dan nano-scale yang akhirnya memunculkan cabang ilmu bernama Mesomechanics. Dan juga tentang penerapan statistik di fracture mechanics. Kedua hal itu sudah umum dikenal oleh orang yang berkecimpung di bidangnya, namun bagi kami itu adalah hal yang masih perlu dipelajari di kemudian hari. Semoga Allah swt mempermudahnya.

April 23, 2009 - Posted by | ke-hidup-an, ke-kuliah-an, ke-numerik-an, ke-riset-an, ke-taiwan-an, ke-teknologi-an

7 Komentar »

  1. AsW. pak alief, keren banget ya thesisnya…kayanya Boundary Element lebih gila daripada Finite Element ya…salut…pasti matematikanya jago banget ya…kalo ditekuni ternyata berhasil juga ya…hayo pak, temukan rumus baru di PhD research nanti, biar cepet jadi Professor…semangat😀

    Komentar oleh silir2angin | April 23, 2009 | Balas

  2. weh, slmat cak. selamat datang di Indonesia. Di tunggu kiprah dan dharma baktinya… ojo lali nikah rek, kasihan bu dokternya sudang nunggu

    Komentar oleh candra | April 24, 2009 | Balas

  3. opo iki? gak mudeng aq heheheh…

    Komentar oleh Sandy Zulfadli | April 25, 2009 | Balas

  4. # silir2angin:
    waalaikumsalam. Bukankah setiap thesis itu keren? hehe… karena seumur hidup cuman sekali ngerjakan thesis, jadi ya harus dibuat sekeren mungkin…

    # candra:
    alhamdulillah, terima kasih…🙂

    # sandy:
    pake logika akuntan aja biar mudeng, hehe…

    Komentar oleh cak alief | April 25, 2009 | Balas

  5. Alhamdulillah, akhirnya bisa selesai masternya.
    doakan saya pak biar bisa mengikuti jejak pak alief

    Komentar oleh faizal | April 28, 2009 | Balas

  6. Waah… bisa jadi bahan referensi buat penelitian lintas bidang studi ki …. , emang selama ini pendekatan sisi manusia kurang menggunakan pendekatan matematis. Padahal mempelajari hubungan antar manusia pake pendekatan matematis ternyata lebih indah …. hehehe…
    Nek bisa diketahui rumusan terjadinya retakan, mestinya bisa diketahui rumusan mengantisipasi retakan, dan metode perbaikan retakan itu.
    Akhire, muncul rumusan anti Talak…. wah laku di kalangan artis tu pak alief .. Hahahaha

    Komentar oleh widhi hartanto | Mei 3, 2009 | Balas

  7. […] Cak Alief […]

    Ping balik oleh Siapa Blogger yang masuk 100 tokoh muda Indonesia? | 100 Tokoh Muda Indonesia | Mei 17, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: