Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Saatnya SMK Membuktikan

Secara umum siswa pembelajar bisa dikategorikan menjadi dua kelompok besar. Satu kelompok yang suka dengan teori dan mencintai ”hitungan”, serta kelompok lain yang hobi praktek dan membutuhkan keterampilan. Keduanya tidak bisa diperbandingkan mana yang lebih baik, karena kecenderungan lebih menyukai praktek daripada teori atau sebaliknya merupakan karakter khas yang melekat pada diri masing-masing pembelajar.

Tidak bisa dipungkiri, dan juga bukan hal yang memalukan, bahwa sebagian besar pembelajar di tingkat menengah ”alergi” dengan mata pelajaran eksak yang penuh dengan rumus dan tidak jelas aplikasinya. Toh kemudahan mendapatkan (dan membuat) pekerjaan tidak melulu butuh hafalan rumus-rumus. Alasan itu yang sering kita dengar dari siswa.

Belum lagi kurikulum pendidikan berbasis kompetensi yang kini diterapkan masih sebatas di buku pelajaran dan rapot. Sampul buku tertulis berbasis kompetensi, rapot pun mencantumkan kemampuan siswa pada aspek motorik, namun proses pengajarannya belum berubah. Pengajaran di sekolah masih didominasi oleh guru yang ”menuangkan” materi  dan ”ditampung” di kepala para murid. Tanpa disadari, hal semacam itu semakin membuat siswa yang hobi praktek ”bosan” berlama-lama di kelas.

Sehingga berita banyaknya lulusan SMP yang daftar ke SMK merupakan kabar yang menggembirakan. Siswa hobi praktek akan mendapatkan pengajaran sesuai dengan yang mereka inginkan. Keterampilan mereka akan lebih terasah dan tidak lagi tersiksa di dalam kelas. Bahkan mungkin juga hal itu akan mengurangi jumlah tawuran pelajar, karena siswa tidak lagi butuh pelampiasan stress.

Tidak bisa dipungkiri, iklan ”SMK bisa” di stasiun tv yang bertubi-tubi dan kadang berebut dengan iklan capres, mempunyai andil besar dalam mengubah paradigma masyarakat. Salut untuk keberanian pemerintah dalam melakukan terobosan.

Sebagai penduduk kota metropolitan, aktifitas kita tidak bisa dipisahkan dengan industri dan perdagangan. Lewat kedua hal itu, sebagian besar penduduk Surabaya mencari nafkah. Trend ke depan tidak akan banyak berubah, karenanya angkatan kerja baru butuh keterampilan khusus yang dibutuhkan oleh industri. Dan kabar baiknya, lulusan SMK mempunyai bekal yang cukup.

Faktor kuncinya adalah kerja praktek atau kadang disebut magang. Sebagai sarana bagi siswa SMK untuk mengetahui dunia kerja sejak awal. Merasakan bagaimana orang bekerja dan menyesuaikan diri di lingkungan industri merupakan pengalaman yang penting bagi mereka. Keterampilan dari sekolah akan lebih lengkap, bila siswa juga mendapatkan pengalaman magang yang cukup. Lebih bagus bila berlanjut dengan perekrutan.

Selain mengisi lapangan kerja di industri, lulusan SMK juga bisa berwirausaha. Itu bukan tidak mungkin. Konsumsi domestik masyarakat perkotaan begitu besar. Saking besarnya, sampai krisis ekonomi dunia pun bisa ditolak masuk ke Indonesia. Bagi lulusan SMK itu adalah peluang, peluang untuk berwirausaha. Tentu dengan memakai keterampilan yang telah diperoleh.

Wirausaha perlu keberanian dan kecermatan membidik kebutuhan konsumen. Untuk itu keterampilan saja tidak cukup. Perlu sikap kreatif yang dibarengi dengan semangat pantang menyerah. Untungnya orang Indonesia terkenal mampu mempossible kan yang impossible. Sama seperti pepatah yang mengatakan: tak ada rotan akar pun jadi.

Bantuan modal usaha sebagai bentuk pembelajaran berwirausaha juga diperlukan. Para siswa didampingi guru membuat proposal usaha, yang kemudian diseleksi untuk dapat pendanaan. Jenis usaha yang jeli dan kreatif dalam memanfaatkan peluang diyakini akan banyak bermunculan dari siswa SMK. Bukankah jiwa muda mereka yang bergelora, seringkali memunculkan ide-ide kreatif yang briliant?

Agustus 3, 2009 - Posted by | ke-hidup-an, ke-opini-an, ke-suroboyo-an | , , ,

4 Komentar »

  1. good article..

    salam kenal
    best regards

    owner
    http://www.majumapan.info

    Komentar oleh jasmine | Agustus 8, 2009 | Balas

  2. mereka juga sudah bisa membuat prototype mobil sepertinya dan juga merakit laptop..:, coba cek youtube..mantep memang dan saya setuju itu bisa menurunkan angka tawuran dan juga waktu melamun di kelas :)) -mantan anak SMK-

    Komentar oleh warnoise | Agustus 19, 2009 | Balas

  3. Salam ukhuwwah mas alief… eling ora dengan diriku?? Semoga.. Jaya dengan iman-ilmu-amal

    Komentar oleh Havizh satria yudha | Desember 31, 2009 | Balas

  4. Karena tuntutan industri kita lebuh ke arah praktis dan aplikatif kdangkla muncul kecemburuan dari mereka yg berlatar belakang pndidikan dari SMK ,dengan jabatan rendah, dengn yng dari pendidikan tinggi,dengan jabatan tinggi, karena yg dari pendidikan tinggi sulit untuk memenuhi tuntutan tersebut.

    Komentar oleh Danang wicaksono | Januari 25, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: