Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Sumeleh oh Sumeleh…

Bulan lalu aku nggak pernah tahu kata sumeleh, dengar aja tak pernah. Kalopun memori pelajaran bahasa daerah semasa sd dan smp aku putar ulang, aku tetap yakin tak akan muncul kata sumeleh. Namun saat aku baca buku GO jawapos, kutemukan kata itu. Sifat dari Eric Samola yang sumeleh, begitu tulis Dahlan Iskan.
Oh ya, selama di Surabaya 3 bulan ini, Dahlan Iskan jadi favoritku. Bagaimana tidak, 6 bukunya semua aku punya dan sudah finish membacanya. Tulisannya yang berbentuk cerita, sangat mengasyikkan untuk diikuti, bahkan terasa sayang kalo ditinggalkan. Pelajaran hidup dan info berharga seringkali kutemukan dalam tulisannya.
Ketika kata sumeleh muncul, aku jadi penasaran. Apa sih artinya? Pentingkah kata itu untuk mencapai sukses? Tapi pikiran itu menguap begitu saja, bersama hembusan pikiran2 lain. Kesan pertama sudah menggoda, namun tak nyantol di hati.
Nah saat koran beberapa hari yang lalu, kata sumeleh kutemukan lagi. Butet menuliskan, pada diri WS Rendra ada sifat sumeleh.
Di Eric ada sumeleh, di Rendra juga. Aku jadi penasaran, apa sih sumeleh itu?
Pasrah, menerima apa adanya. Ah masak itu sih definisinya? Eric lho gigih dlm ekspansi bisnis, pekerja keras. Rendra malah pendobrak jaman, kritis, jauh dr kesan pasrah. Masak sifat2 yg sudah umum dketahui itu didefiniskan sbg pasrah oleh Dahlan dan Butet?
Lha kalo sifat mereka dibilang pasrah, trus gak pasrahnya kaya apa?
Mungkin sumeleh itu tawakkal kali. Berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai impian, tg hasilnya itu sudah digariskan Nya. Toh semua adalah yang terbaik. Itu mungkin lebih cocok dalam mendefinisikan sumeleh. PASRAH dengan kapital di semua huruf, mulai P sampai H.

Bulan lalu aku nggak pernah tahu kata sumeleh, dengar aja tak pernah. Kalopun memori pelajaran bahasa daerah semasa SD dan SMP aku putar ulang, aku tetap yakin tak akan muncul kata sumeleh. Namun saat aku baca buku GO jawapos, kutemukan kata itu. Sifat dari Eric Samola yang sumeleh, begitu tulis Dahlan Iskan.

Oh ya, selama di Surabaya 3 bulan ini, Dahlan Iskan jadi favoritku. Bagaimana tidak, 6 bukunya semua aku punya dan sudah finish membacanya. Tulisannya yang berbentuk cerita, sangat mengasyikkan untuk diikuti, bahkan terasa sayang kalo ditinggalkan. Pelajaran hidup dan info berharga seringkali kutemukan dalam tulisannya.

Ketika kata sumeleh muncul, aku jadi penasaran. Apa sih artinya? Pentingkah kata sumeleh untuk mencapai sukses? Tapi pikiran itu menguap begitu saja, bersama hembusan pikiran2 lain. Kesan pertama sudah menggoda, namun tak nyantol di hati.

Nah saat koran beberapa hari yang lalu, kata sumeleh kutemukan lagi. Butet menuliskan, pada diri WS Rendra ada sifat sumeleh. Di Eric ada sumeleh, di Rendra juga. Aku jadi penasaran, apa sih sumeleh itu?

Pasrah, menerima apa adanya. Ah masak itu sih definisinya? Eric lho gigih dlm ekspansi bisnis, pekerja keras. Rendra malah pendobrak jaman, kritis, jauh dr kesan pasrah. Masak sifat2 yg sudah umum dketahui itu didefiniskan sbg pasrah oleh Dahlan dan Butet? Lha kalo sifat mereka itu dibilang pasrah, trus gak pasrahnya kaya apa?

Mungkin sumeleh itu tawakkal kali. Berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai impian, tg hasilnya itu sudah digariskan Nya. Toh semua adalah yang terbaik. Itu mungkin lebih cocok dalam mendefinisikan sumeleh. PASRAH dengan kapital di semua huruf, mulai P sampai H.

Agustus 13, 2009 - Posted by | ke-buku-an, ke-hidup-an | , , ,

3 Komentar »

  1. Kayaknya ada deh waktu sdku coba buka buku pepak bahasa jawa.

    Komentar oleh Just For Laugh | Agustus 24, 2009 | Balas

  2. Apapun makna sebenarnya, jadi kepengen sumeleh juga ah.

    Komentar oleh BaNi MusTajaB | Agustus 28, 2009 | Balas

  3. SUMELEH itu kalau tidak salah berasal dari kata SELEH dan mendapat sisipan UM. SELEH kalau tidak salah bisa berarti menyerah atau mengaku kalah atau mengakui kebenaran lawan. Dalam konteks itu, SUMELEH dapat berarti berserah diri kepada yang mahakuasa. Berserah diri tidak sama dengan pasrah yang berkonotasi pasif. Dalam berserah diri, orang tetap berbuat sesuatu untuk memenuhi takdir yang telah digariskan oleh yang mahakuasa tanpa menggugat sang penentu takdir. Itu menurut pendapat saya cak. Terimakasih dan salam eksperimen.

    Komentar oleh Paijo | Agustus 31, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: