Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Cerita Anak Itu

Di tengah-tengah pertemuan membahas Universitas Terbuka antara PPI Taiwan dengan KDEI beberapa saat lalu, kepala KDEI menyampaikan cerita yang membuat saya terharu. Bagi saya cerita itu begitu membekas di hati, cerita tentang nasib seorang anak, anak dengan darah Indonesia seperti kita, namun dengan nasib yang belum seberuntung kita.

Sebut saja nama anak itu dengan Ahong. Ibu si Ahong adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki Taiwan. Namun sayang, pilihan si Ibu tidak tepat, dia mendapatkan suami yang suka mabuk-mabukkan, judi, dan narkoba. Saat Ahong masih bayi, si Ibu dan Ayahnya terus-terusan berkelahi. Hingga akhirnya si Ibu tidak tahan dan memutuskan kembali ke Indonesia, meninggalkan Ahong begitu saja.

Ahong bayi kemudian diasuh oleh Ayahnya, tapi itu tidak lama. Kebiasaan buruk si Ayah berujung pada ruang sempit di balik jeruji besi. Ahong yang sebatang kara lalu diasuh dan dibesarkan oleh neneknya. Baru selang berapa tahun kemudian, ayah Ahong bebas dari penjara, dan bisa berkumpul bersamanya kembali.

Namun kebahagiaan Ahong bertemu ayahnya ternyata berlangsung singkat. Saat perayaan tahun baru imlek, dimana saat itu adalah momen bertemunya keluarga besar, ayah Ahong meninggal dunia karena overdosis. Tragis sekali nasib Ahong. Dia kembali menjadi yatim piatu. Si ayah telah tiada dan si ibu pergi tanpa meninggalkan pesan.

Kasih sayang dan kehangatan perhatian dari sang Nenek pun tak lama, saat Ahong berusia 9 tahun, neneknya tiada, meninggalkan Ahong selamanya. Ahong yang sedih tak kuasa mehanan penderitaan bertubi-tubi yang ia alami. Di depan kelas, di hadapan guru dan teman-temannya Ahong menceritakan pengalaman hidupnya ini.

Selepas Ahong selesai bercerita, gurunya bertanya: “Terus apa yang kamu inginkan sekarang Hong?” “Aku ingin bertemu dengan mama” jawab Ahong dengan lirih.

Tanpa ada pesan dan kabar bertahun-tahun lamanya, sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah bagi si guru untuk memenuhi keinginan Ahong. Dengan didorong oleh rasa kemanusiaan dan kepedulian akan nasib Ahong, si guru menuliskan cerita ini dalam secarik surat yang ditujukan ke Kepala KDEI. Si guru berharap, ada bantuan dari KDEI untuk mewujudkan keinginan Ahong, menemukan dimana Ibunya saat ini dan bertemu dengannya…

Setelah menuturkan cerita itu ke kami, Bapak kepala KDEI menambahkan: “Bukan tidak mungkin problem yang dialami oleh anak-anak dari pasangan beda bangsa seperti Ahong akan semakin kompleks. Data kelahiran terbaru menunjukkan bahwa satu dari sepuluh anak yang lahir di Taiwan berasal dari pasangan beda bangsa”. Data yang mencengangkan saya kira. Dan saat mendengar penuturan beliau pagi itu, kami hanya bisa diam tak mampu berkata apapun.

Sambil menulis CAKEP ini, saya melihat ke cermin, tampak seorang lelaki berkacamata di balik cermin. Saya ambil nafas panjang… pikiran saya melayang jauh… Kemudian saya pandang lelaki di cermin itu, saya tatap tajam kedua matanya yang sipit. Lewat telepati hati, saya tanya ke dia, apa yang bisa kamu lakukan?

10 Pebruari 2011, Salam muanteb.

———————————————————–

CAKEP adalah tulisan saya di website dan milis PPI Taiwan. CAKEP merupakan kepanjangan dari Catatan Ketua PPI. Dalam beberapa hari ke depan, CAKEP akan saya muat ulang di Blog Cak Alief. Selain sebagai arsip, juga untuk merefresh apa yang saya tulis dalam satu tahun terakhir.

Oktober 22, 2011 - Posted by | ke-hidup-an, ke-taiwan-an | ,

1 Komentar »

  1. Ah kasihan si Ahong, tapi sebenarnya banyak lho TKW kita yang ke taiwan sana lalu pulang membawa bayi lelaki taiwan, tentu saja hasil hubungan terlarang.. problem yang menyesakkan dada, dan entah apa solusinya…

    Komentar oleh budiono | Oktober 22, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: