Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Pemimpin yang Apa Adanya

Menurut pengalaman dan pengamatanku, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang apa adanya, bukan pemimpin yang ada apa-apanya. Kedua hal tersebut berbeda 180 derajat. Dan secara kasat mata akan mudah diamati oleh orang yang dipimpin.

Pemimpin yang apa adanya memiliki karakter utama jujur. Jujur pada diri sendiri, jujur dalam perkataan dan perbuatan. Ada seorang teman yang malang melintang memimpin bermacam organisasi, tapi terhadap dirinya sendiri dia tidak jujur. Dia tidak pernah mau mengakui bahwa kegagalannya dalam suatu hal itu dikarenakan memang sebagai manusia kita tidak sempurna. Dia selalu menyalahkan orang lain, selalu mencari kambing hitam.

Di kala ada nasehat yang diberikan padanya, dia menjawabnya dengan balik memberikan nasehat. Di kala kritik disampaikan, dia malah mengungkit-ungkit keburukan si pengkritik, tidak memperhatikan substansi kritikan. Kemudian argumennya ditutup dengan janji-janji, rasa optimisme, namun seiring waktu berjalan, tetap tak ada perbaikan.

Orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri, akan sulit menjadi pemimpin yang baik. Jabatan dan pangkatnya bisa terus berganti dan penuh promosi. Tapi karakter kepemimpinannya tetap segitu-itu saja. Yang paling menderita tentu saja organisasi yang dia pimpin. Organisasinya tidak akan bisa berkembang, meskipun massa dan asetnya besar, tapi organisasi dikerdilkan oleh karakter pemimpinnya.

Namun yang kadang susah dimengerti akal sehat, orang semacam itu tetap eksis. Yang dipimpin terus setia menerima janji dan bualannya. Seorang teman lain mengatakan, orang semacam itu pandai berjualan kecap.

Termasuk dibilang jujur dan pemimpin yang apa adanya jika seorang tidak ada perbedaan sikap antara sebelum dan saat menjadi pemimpin. Ada seorang teman yang sebelum menjadi pemimpin dikenal judes. Saat jadi pemimpin pun dia tetap judes. Dengan kejudesannya itu dia memberikan warna dan karakter bagi organisasi. Bagi orang yang dipimpin karena tau sejak dulu dia judes, maka dengan mudah bisa memahami karakter sang pemimpin.

Contoh lain ada pemimpin yang tidak pernah bisa tepat waktu atau moloran. Kalo janjian selalu mbleset satu jam. Kalo bilang pekerjaan ini akan selesai besok, maka bisa dipastikan selesainya satu minggu lagi. Yang dipimpin sudah kenal karakter itu, mereka pun menyesuaikan, dan kerjasama antara yang dipimpin dan yang memimpin bisa terjalin dengan baik.

Judes dan moloran adalah dua sikap yang kurang baik. Tapi tidak jujur bahwa dia judes dan moloran adalah sikap yang jauh lebih buruk. Ketidakjujurannya hanya membuat organisasi bergerak semacam komedi putar, yang gerakannya jalan di tempat.

Dengan judes dan moloran memang benar organisasi tidak akan berjalan dengan maksimal. Banyak potensi dan peluang yang mungkin tidak tergarap maksimal. Tapi itu tetaplah lebih baik ketimbang dipimpin oleh orang yang tidak jujur. Meskipun dia bisa bersikap supel dan on-time, tapi ketidakjujurannya justru menghambat kemajuan bagi organisasi.

Juni 24, 2012 - Posted by | ke-opini-an | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: