Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Ujian Itu Terasa Nyata

Bab 1 dari “Buku Menambal Jantung, Menyambung Saraf

Pagi ini, 22 Agustus 2018 adalah hari terakhir kami di Malaysia, setelah 2 bulan keluar masuk Rumah Sakit di Kuala Lumpur dan Petaling Jaya. Nanti siang kami harus balik ke tempat tinggal kami di Surabaya dengan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Hari ini bertepatan dengan hari raya Idul Adha, bertiga kami keluar dari Maytower menuju masjid terdekat untuk menunaikan shalat ied. Awalnya kami menuju ke masjid India yang posisinya relatif dekat. Namun ternyata di masjid India tidak ada tempat shalat ied untuk perempuan. Karena masih ada cukup waktu, kami teruskan langkah lewat lorong-lorong sepanjang Klang River hingga sampai di masjid Jamek Kuala Lumpur.

Dalam suasana Idul Adha, kita selalu diingatkan tentang bagaimana ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim pada Allah swt. Bahkan ketika diuji oleh Allah swt untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail as, beliau pun melakukannya. Pada akhirnya Allah swt perintahkan untuk gantikan dengan kurban seekor domba. Yang kemudian itu menjadi perintah untuk seluruh kaum muslimin yang mampu.

Ujian dari Allah swt datang setiap saat. Bukan karena Dia tidak suka pada hamba-Nya. Namun justru karena Allah swt menginginkan agar hamba-Nya bisa naik kelas. Maka diberilah tiap hamba itu ujian dalam kehidupan ini.

Kadang ujian itu terasa mudah. Namun kadang bisa terasa sulit dan penuh lika-liku. Sungguh hanya dengan keikhlasan dan kesabaran sajalah maka tiap hamba akan mampu melewati ujian demi ujian hingga akhirnya dinyatakan lulus.

Rasa syukur atas kelulusan menjalani ujian itu yang kami rasakan saat hari idul adha ini. Dalam 2 bulan terakhir, ujian itu terasa begitu nyata.

Anak sulung kami yang berusia 4,5 tahun harus menjalani operasi untuk memperbaiki dan menambal jantung nya yang sejak lahir mengalami Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Operasi di Kuala Lumpur selama 10 jam itu berjalan dengan sukses, jantung Sulung sudah tertambal penuh, hingga dia pun sudah bisa dipindahkan ke ICU pasca operasi.

Namun saat baru 2 jam di ICU, jantung nya sempat berhenti berdetak selama 10 menit. Semua orang di ICU menjadi panik, code blue. Pertolongan pertama yang diberikan memang mampu membuat jantung Sulung berdetak kembali. Tapi dalam 10 menit jantung berhenti itu ternyata berimbas ke adanya pendarahan di kepala dan saraf-saraf nya yang putus akibat kekurangan oksigen.

Keluar dari ICU, anak Sulung kami seperti orang stroke. Tidak bisa mengenali siapapun di sekitarnya. Bahkan tidak merespon apapun yang kita sampaikan. Tangan kaki nya tak bisa bergerak. Mata nya pun menatap kosong. Sulung akhirnya dipindahkan ke Rumah Sakit lain di Petaling Jaya, yang punya tim dokter dengan keahlian dalam menyambung saraf anak.

Alhamdulillah setelah keluar masuk Rumah Sakit menjalani berbagai macam terapi, sekarang Sulung sudah bisa jalan kaki bersama kami, melaksanakan shalat ied dengan tuntas, dan memorinya pun kembali. Sarafnya sudah tersambung.

Dalam buku ini, kami akan ceritakan bagaimana perjalanan anak Sulung kami mulai terdeteksi memiliki PJB sejak di kandungan hingga menjalani dua kali operasi bedah untuk menambal jantung yang bocor serta melakukan banyak terapi untuk menyambung saraf yang sempat putus.

——————————————————————————————–
Dukung bab-bab berikutnya di karyakarsa.com/aliefwikarta

Agustus 11, 2020 - Posted by | Tidak Dikategorikan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: