Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Klarifikasi Sebelum Share Berita

Teknik mengutip berita paling mutakhir masa kini

Wartawan (W)

Menteri (M)

W1 : Pak, bapak lebih suka ayam goreng apa gulai kambing?
M : Ayam goreng
W1 : Pakai tepung atau tidak pak?
M : Pakai tepung
W1 : Model ayam goreng KFC ya pak
M : Ya kurang lebih mirip begitulah..
Headline : Menteri M lebih suka ayam goreng KFC model Amerika dan tidak suka gulai kambing tradisional Indonesia..

moco terusane…

Iklan

April 5, 2015 Posted by | ke-hidup-an, ke-indonesia-an | , , | 6 Komentar

Profil Cak Alief di Majalah INTAI

Ini adalah profil cak alief dalam rubrik ku_INTAI di majalah INTAI, majalah berbahasa Indonesia di Taiwan. Awalnya saya dikontak oleh Canggih (mhs S2 di NCU, kontributor majalah INTAI), dia meminta kesediaan saya untuk dimuat dalam rubrik KU-INTAI ini. Kemudian proses selanjutnya saya ngirim beberapa foto dan ada jg foto yg dia ambil sendiri saat kami ketemu di KDEI. Dari obrolan lewat YM dan FB kemudian disusunlah jadwal kegiatan sehari-hariku. Dan yang muncul di majalah ini jelas berlebihan banget… šŸ™‚ Diriku gak serutin dan sesibuk jadwal itu. Mungkin itu hanya terjadi sehari dalam setahun, hehehe… Btw, silahkan membaca jika berminat šŸ™‚

Alief Wikarta di rubrik Ku-INTAI, Majalah INTAI edisi Desember 2011.

moco terusane…

Desember 3, 2011 Posted by | ke-aku-an, ke-hidup-an, ke-kuliah-an, ke-olaraga-an, ke-taiwan-an | , , , , , | 3 Komentar

Dia, Aku, dan Mereka

Dia memberikan keperluan yang Aku butuhkan

Aku justru iri hati dengan yang Mereka miliki

Mereka sendiri keliru memahami pemberian Dia

Mengapa Aku tidak mensyukuri pemberian Dia dengan sebaik-baiknya ya?

Dia menghadiahkan waktu yang Aku jalani

Aku justru sibuk dengan yang Mereka kerjakan

Mereka sendiri bodoh memaknai waktu Dia

Mengapa Aku tidak memanfaatkan waktu Dia dengan seproduktif mungkin ya?

Dia mencintai Aku dengan sepenuh hati

Aku justru benci dengan yang Mereka perbuat

Mereka sendiri sesuka hati menerjemahkan cinta Dia

Mengapa Aku tidak menghargai cinta Dia dengan sungguh-sungguh ya?

November 10, 2011 Posted by | ke-hidup-an, ke-puisi-an | , , | Tinggalkan komentar

Prestasi dan Budi Pekerti

Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2011 adalah ā€Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsaā€. Sebagai pilar kebangkitan bangsa, pendidikan karakter yang dimaksud paling tidak mencakup 2 makna. Pertama adalah karakter yang berarti santun, berbudi pekerti, berakhlak mulia, sebagaimana pada umumnya karakter dimaknai. Serta yang kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah memaknai karakter sebagai rasa penasaran intelektual, ingin mengetahui lebih dalam, yang ujungnya melahirkan prestasi intelektual.

Kami kira itulah kurang lebih maksud dari sub tema Hardiknas tahun ini ā€Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekertiā€. Yang jika diartikan dalam konteks PPI Taiwan berarti ā€Terkemuka dan Transparanā€. Maksudnya adalah menjadikan terkemuka sebagai raihan prestasi, ataupun sebaliknya dengan prestasi maka menjadi terkemuka. Serta menjunjung nilai-nilai transparansi sebagai komponen utama budi pekerti dalam aktifitas PPI Taiwan.

moco terusane…

Oktober 28, 2011 Posted by | ke-hidup-an, ke-indonesia-an, ke-opini-an, ke-taiwan-an | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Cerita Anak Itu

Di tengah-tengah pertemuan membahas Universitas Terbuka antara PPI Taiwan dengan KDEI beberapa saat lalu, kepala KDEI menyampaikan cerita yang membuat saya terharu. Bagi saya cerita itu begitu membekas di hati, cerita tentang nasib seorang anak, anak dengan darah Indonesia seperti kita, namun dengan nasib yang belum seberuntung kita.

Sebut saja nama anak itu dengan Ahong. Ibu si Ahong adalah perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki Taiwan. Namun sayang, pilihan si Ibu tidak tepat, dia mendapatkan suami yang suka mabuk-mabukkan, judi, dan narkoba. Saat Ahong masih bayi, si Ibu dan Ayahnya terus-terusan berkelahi. Hingga akhirnya si Ibu tidak tahan dan memutuskan kembali ke Indonesia, meninggalkan Ahong begitu saja.

moco terusane…

Oktober 22, 2011 Posted by | ke-hidup-an, ke-taiwan-an | , | 1 Komentar

Sumeleh oh Sumeleh…

Bulan lalu aku nggak pernah tahu kata sumeleh, dengar aja tak pernah. Kalopun memori pelajaran bahasa daerah semasa sd dan smp aku putar ulang, aku tetap yakin tak akan muncul kata sumeleh. Namun saat aku baca buku GO jawapos, kutemukan kata itu. Sifat dari Eric Samola yang sumeleh, begitu tulis Dahlan Iskan.
Oh ya, selama di Surabaya 3 bulan ini, Dahlan Iskan jadi favoritku. Bagaimana tidak, 6 bukunya semua aku punya dan sudah finish membacanya. Tulisannya yang berbentuk cerita, sangat mengasyikkan untuk diikuti, bahkan terasa sayang kalo ditinggalkan. Pelajaran hidup dan info berharga seringkali kutemukan dalam tulisannya.
Ketika kata sumeleh muncul, aku jadi penasaran. Apa sih artinya? Pentingkah kata itu untuk mencapai sukses? Tapi pikiran itu menguap begitu saja, bersama hembusan pikiran2 lain. Kesan pertama sudah menggoda, namun tak nyantol di hati.
Nah saat koran beberapa hari yang lalu, kata sumeleh kutemukan lagi. Butet menuliskan, pada diri WS Rendra ada sifat sumeleh.
Di Eric ada sumeleh, di Rendra juga. Aku jadi penasaran, apa sih sumeleh itu?
Pasrah, menerima apa adanya. Ah masak itu sih definisinya? Eric lho gigih dlm ekspansi bisnis, pekerja keras. Rendra malah pendobrak jaman, kritis, jauh dr kesan pasrah. Masak sifat2 yg sudah umum dketahui itu didefiniskan sbg pasrah oleh Dahlan dan Butet?
Lha kalo sifat mereka dibilang pasrah, trus gak pasrahnya kaya apa?
Mungkin sumeleh itu tawakkal kali. Berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai impian, tg hasilnya itu sudah digariskan Nya. Toh semua adalah yang terbaik. Itu mungkin lebih cocok dalam mendefinisikan sumeleh. PASRAH dengan kapital di semua huruf, mulai P sampai H.

Bulan lalu aku nggak pernah tahu kata sumeleh, dengar aja tak pernah. Kalopun memori pelajaran bahasa daerah semasa SD dan SMP aku putar ulang, aku tetap yakin tak akan muncul kata sumeleh. Namun saat aku baca buku GO jawapos, kutemukan kata itu. Sifat dari Eric Samola yang sumeleh, begitu tulis Dahlan Iskan.

Oh ya, selama di Surabaya 3 bulan ini, Dahlan Iskan jadi favoritku. Bagaimana tidak, 6 bukunya semua aku punya dan sudah finish membacanya. Tulisannya yang berbentuk cerita, sangat mengasyikkan untuk diikuti, bahkan terasa sayang kalo ditinggalkan. Pelajaran hidup dan info berharga seringkali kutemukan dalam tulisannya.

Ketika kata sumeleh muncul, aku jadi penasaran. Apa sih artinya? Pentingkah kata sumeleh untuk mencapai sukses? Tapi pikiran itu menguap begitu saja, bersama hembusan pikiran2 lain. Kesan pertama sudah menggoda, namun tak nyantol di hati.

Nah saat koran beberapa hari yang lalu, kata sumeleh kutemukan lagi. Butet menuliskan, pada diri WS Rendra ada sifat sumeleh.Ā Di Eric ada sumeleh, di Rendra juga. Aku jadi penasaran, apa sih sumeleh itu?

Pasrah, menerima apa adanya. Ah masak itu sih definisinya? Eric lho gigih dlm ekspansi bisnis, pekerja keras. Rendra malah pendobrak jaman, kritis, jauh dr kesan pasrah. Masak sifat2 yg sudah umum dketahui itu didefiniskan sbg pasrah oleh Dahlan dan Butet?Ā Lha kalo sifat mereka itu dibilang pasrah, trus gak pasrahnya kaya apa?

Mungkin sumeleh itu tawakkal kali. Berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai impian, tg hasilnya itu sudah digariskan Nya. Toh semua adalah yang terbaik. Itu mungkin lebih cocok dalam mendefinisikan sumeleh. PASRAH dengan kapital di semua huruf, mulai P sampai H.

Agustus 13, 2009 Posted by | ke-buku-an, ke-hidup-an | , , , | 3 Komentar

Saatnya SMK Membuktikan

Secara umum siswa pembelajar bisa dikategorikan menjadi dua kelompok besar. Satu kelompok yang suka dengan teori dan mencintai ā€hitunganā€, serta kelompok lain yang hobi praktek dan membutuhkan keterampilan. Keduanya tidak bisa diperbandingkan mana yang lebih baik, karena kecenderungan lebih menyukai praktek daripada teori atau sebaliknya merupakan karakter khas yang melekat pada diri masing-masing pembelajar.

Tidak bisa dipungkiri, dan juga bukan hal yang memalukan, bahwa sebagian besar pembelajar di tingkat menengah ā€alergiā€ dengan mata pelajaran eksak yang penuh dengan rumus dan tidak jelas aplikasinya. Toh kemudahan mendapatkan (dan membuat) pekerjaan tidak melulu butuh hafalan rumus-rumus. Alasan itu yang sering kita dengar dari siswa.

moco terusane…

Agustus 3, 2009 Posted by | ke-hidup-an, ke-opini-an, ke-suroboyo-an | , , , | 4 Komentar

Cerita tentang Thesis

Alhamdulillah, sore tadi ditengah hujan rintik-rintik oral defense sudah saya lalui dengan hasil yang tidak mengecewakan. Postingan kali ini saya ingin cerita tentang thesis yang saya kerjakan. Siapa tau ada yang tertarik, sehingga kita bisa diskusi lebih dalam. Saya juga paksakan ambil hikmah2 yang bisa dipetik dari apa yang saya kerjakan. Semoga bermanfaat…

Jamak diketahui bahwa problem engineering, khususnya di Mechanical bisa diselesaikan dengan 3 pendekatan: Eksperiment, Numerical, and Analytical. 2 pendekatan pertama sudah sering kita dengar, bahkan saat ini kita bisa jadi terlibat di dalamnya. Kebetulan riset kami memakai pendekatan no 3 dan 2, analytical dan numerical, untuk menyelesaikan bermacam problem tentang hubungan antara crack (retakan) dengan multi layered media (gampangannya bisa dibilang composite material). Prof bilang, hanya butuh kertas dan pena untuk riset dengan pendekatan analytical.

moco terusane…

April 23, 2009 Posted by | ke-hidup-an, ke-kuliah-an, ke-numerik-an, ke-riset-an, ke-taiwan-an, ke-teknologi-an | 7 Komentar

Tepat Waktu

Tepat waktu, sudah banyak diketahui kalo itu jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun dengan santainya, masyarakat selalu mengabaikan.

Tepat waktu, itu yang selalu diminta oleh guru dan dosen. Alih-alih untuk menyembunyikan bahwa mereka lah pemberi contoh jam karet paling dikenang…

Tepat waktu, hanya menjadi “senjata” untuk memberi hukuman kepada yang terlambat dalam acara-acara pelatihan. Padahal si pemberi hukuman juga tidak tepat waktu šŸ™‚

Tepat waktu, sering muncul dalam novel dan cerpen untuk menginspirasi pembaca. Namun penulisnya sendiri sering melupakan…

Tepat waktu, tak cukup disebut, tak cukup diucap, tak cukup dikutip. Tepat waktu butuh bukti, bukan janji. Tepat waktu butuh komitmen. Dalam 24 jam, dalam 1 minggu, dalam 1 bulan, dalam 1 tahun, dalam hidup kita…

Tepat waktu tak bisa ditunggu. Tepat waktu tak mau ditunda.

Oktober 8, 2008 Posted by | ke-hidup-an | 8 Komentar