Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Capaian Mahasiswa Universitas Terbuka di Taiwan

Berita gembira datang dari salah seorang mahasiswa semester 2 Universitas Terbuka di Taiwan. Beliau mendapatkan 2 perak dalam ajang “The Fourth World Cup Tai Chi Chuan Championship”.  Yang kemudian membawa nama Indonesia sebagai juara umum 2 setelah Perancis, dari 20 negara yang mengirimkan delegasi.

Sebuah prestasi yang sangat membanggakan sekaligus mengharukan. Seorang TKI, yang umumnya dipandang sebelah mata dan sarat permasalahan. Ternyata mampu mengharumkan nama bangsa.

moco terusane…

Oktober 13, 2012 Posted by | ke-kuliah-an, ke-opini-an, ke-taiwan-an | , , , , | 8 Komentar

Pemimpin yang Menjadi Diri Sendiri

Dalam banyak teori dan buku kepemimpinan, dikatakan seorang pemimpin itu harus bersikap melayani dan punya visi jauh ke depan. Dua hal itu, melayani dan bervisi, seringkali dijadikan nasehat oleh siapapun ke pemimpin. Dan tidak jarang menjadi tolak ukur keberhasilan seorang pemimpin. Kalo dia mau melayani sepenuh hati dan setiap saat, maka dibilang pemimpin yang berhasil. Kalo dia bervisi penuh terobosan untuk organisasi, maka kepemimpinannya dijamin sukses.

Melayani dan bervisi mudah diucapkan tapi seratus persen susah dilakukan. Kalo gak percaya, cobalah jadi pemimpin. Kalo setelah jadi pemimpin kamu masih ingin menjadi pemimpin di tempat lain, maka bisa dipastikan selama memimpin kamu tidak bisa melayani dan bervisi prima. Orang yang benar-benar melayani dan bervisi pasti merasa gagal ketika menjadi pemimpin. Karena melayani dan bervisi itu pekerjaan sepanjang hayat, tidak bisa selesai dalam satu tahun atau satu periode kepengurusan organisasi.

Melayani dan bervisi itu diawali dari diri sendiri. Kalo sejak awal sudah gagal melayani diri sendiri dan bervisi untuk diri sendiri. Maka tidak heran jika seorang itu pingin terus menjadi pemimpin di banyak tempat. Karena itu sebagai bentuk pelarian jati diri. Dia gagal menemukan cara untuk melayani dan bervisi untuk dirinya, maka dia mencarinya di tempat lain.

moco terusane…

Juni 24, 2012 Posted by | ke-opini-an | , , , | 6 Komentar

Pemimpin yang Apa Adanya

Menurut pengalaman dan pengamatanku, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang apa adanya, bukan pemimpin yang ada apa-apanya. Kedua hal tersebut berbeda 180 derajat. Dan secara kasat mata akan mudah diamati oleh orang yang dipimpin.

Pemimpin yang apa adanya memiliki karakter utama jujur. Jujur pada diri sendiri, jujur dalam perkataan dan perbuatan. Ada seorang teman yang malang melintang memimpin bermacam organisasi, tapi terhadap dirinya sendiri dia tidak jujur. Dia tidak pernah mau mengakui bahwa kegagalannya dalam suatu hal itu dikarenakan memang sebagai manusia kita tidak sempurna. Dia selalu menyalahkan orang lain, selalu mencari kambing hitam.

moco terusane…

Juni 24, 2012 Posted by | ke-opini-an | , , , | Tinggalkan komentar

Prestasi dan Budi Pekerti

Tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2011 adalah ”Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa”. Sebagai pilar kebangkitan bangsa, pendidikan karakter yang dimaksud paling tidak mencakup 2 makna. Pertama adalah karakter yang berarti santun, berbudi pekerti, berakhlak mulia, sebagaimana pada umumnya karakter dimaknai. Serta yang kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah memaknai karakter sebagai rasa penasaran intelektual, ingin mengetahui lebih dalam, yang ujungnya melahirkan prestasi intelektual.

Kami kira itulah kurang lebih maksud dari sub tema Hardiknas tahun ini ”Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Yang jika diartikan dalam konteks PPI Taiwan berarti ”Terkemuka dan Transparan”. Maksudnya adalah menjadikan terkemuka sebagai raihan prestasi, ataupun sebaliknya dengan prestasi maka menjadi terkemuka. Serta menjunjung nilai-nilai transparansi sebagai komponen utama budi pekerti dalam aktifitas PPI Taiwan.

moco terusane…

Oktober 28, 2011 Posted by | ke-hidup-an, ke-indonesia-an, ke-opini-an, ke-taiwan-an | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Pemberdayaan Potensi Indonesia

Kepanjangan dari PPI lazimnya dikenal dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia, ada yang lain mengatakan Persatuan Pelajar Indonesia. Kalo di Taiwan ini bisa juga menjadi Pengikat Pasangan Indonesia. Dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya memberikan definisi baru untuk kepanjangan dari kata PPI, yakni Pemberdayaan Potensi Indonesia.

Kata kunci untuk pemberdayaan paling tidak ada 2 yakni Mengontrol dan Melepaskan. Mengontrol berarti mengontrol diri sendiri untuk bisa berperilaku yang baik dan menjadi teladan. Bukan mengontrol orang lain untuk bekerja ini dan itu. Sementara melepaskan berarti melepaskan gairah dan bakat orang lain untuk bekerja sesuai bakat yang dimilikinya. Bukan melepaskan dalam arti membiarkan terserah kamu mau berbuat apa.

moco terusane…

Oktober 26, 2011 Posted by | ke-opini-an, ke-taiwan-an | , , , | Tinggalkan komentar

Gagasan, Tim, dan Jejaring

“Yang kita butuhkan bukan masalah kemudaan, tetapi kebaruan, gagasan baru. Masalah kebaruan itu adalah bagaimana masa depan itu. Yang dibutuhkan adalah gagasan baru, yang ketika dimunculkan, kita semua akan mengatakan. Nah, ini dia yang kita cari”. Demikian yang disampaikan Anies Baswedan dalam sebuah acara diskusi. Lalu selanjutnya apa? Cukupkah gagasan baru itu sekedar dimunculkan saja?

Mungkin kita pernah mendengar gagasan brilian dari seorang teman, atau bahkan dari diri kita sendiri. Ketika mendengarnya kita yakin bahwa gagasan itu begitu bermanfaat bahkan mungkin dapat mengubah wajah dunia. Namun seiring berjalannya waktu, gagasan itu hilang ditelan masa. Seperti ban sepeda pancal yang tau-taunya gembos karena lama tak dipakai.

moco terusane…

Oktober 24, 2011 Posted by | ke-opini-an, ke-taiwan-an | , , , , | Tinggalkan komentar

Bukan Organisasi Konyol

Sebulan lalu saat pertama kali pengurus PPI Taiwan ”bertemu” via Skype, saya sampaikan bahwa struktur kepengurusan PPI-Taiwan ibarat sebuah tim sepakbola. Saya sebagai ketua umum adalah kapten tim, sementara Adi wakil kapten, dan tiap-tiap pengurus adalah pemain inti yang posisisnya bervariasi. Tiap posisi memegang peranan yang sama pentingnya.

Oleh karena itu tiap posisi harus terkemuka bersama, tidak boleh ada yang tertinggal. Konyol jika mampu mencetak banyak gol, tapi banyak kebobolan juga. Atau sebaliknya pertahanan kuat, tapi striker mandul. Keduanya sama-sama konyol dan pengurus PPI Taiwan tidak perlu melakukan kekonyolan macam itu.

moco terusane…

Oktober 19, 2011 Posted by | ke-opini-an, ke-taiwan-an | , , | Tinggalkan komentar

Rakyat Pakistan Menggali Kubur

Tak henti-hentinya Pakistan dilanda bom bunuh diri. Baru beberapa saat lalu bom bunuh diri menewaskan puluhan penduduk sipil terjadi. Kemaren kembali terjadi voli berdarah, bom mobil yang diledakkan saat pertandingan voli di sebuah desa, yang menewaskan 88 korban. Bom bunuh diri yang menjadikan markas polisi dan rakyat sipil sebagai sasaran, merupakan serentetan ”balas dendam” kaum militan Taliban di perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Kaum militan selama sekian tahun belakangan ini tumbuh subur di daerah pegunungan perbatasan Pakistan-Afghanistan. Semenjak Taliban ditaklukkan oleh Aliansi Utara yang didukung oleh tentara US, pegunungan itu menjadi tempat favorit untuk persembunyian. Bahkan Osama bin Laden, gembong teroris nomer wahid, diisukan bersembunyi di daerah tersebut.

moco terusane…

Januari 2, 2010 Posted by | ke-internasional-an, ke-opini-an | 2 Komentar

Susahnya Profesor Berkarya

Di milis dosen ITS pernah ada diskusi yang menarik tentang menjadi Profesor. Dikatakan, mari cepetan jadi Profesor supaya bisa mendapat banyak hak istimewa. Meskipun harus disadari pula di balik keistimewaan yang dimiliki, ada kewajiban yang tidak kalah besarnya.

Ada pula yang mengatakan: Profesor bukanlah tujuan akhir, namun merupakan gerbang awal untuk berprestasi lebih baik dan lebih banyak. Jadi jangan karena sudah Profesor maka berhenti berkarya dan males riset. Justru dengan ke-profesor-an nya itu, maka semakin besar karya yang dihasilkan. Sama persis seperti sebutan bagi Profesor, Guru Besar, besar dalam sumbangsihnya.

moco terusane…

Desember 28, 2009 Posted by | ke-ITS-an, ke-opini-an, ke-riset-an | , , , | 4 Komentar