Blog cak alief

Tak pernah berhenti berjuang…

Belajar dari CKS dan SYS

Postingan kali ini oleh-oleh dari sepedaan yuk… minggu yang lalu. Saya bersepeda menuju 2 memorial hall di Taipei, yaitu Chiang Kai Shek (CKS) Memorial Hall dan Sun Yat Sen (SYS) Memorial Hall. Kedua tokoh itu, CKS dan SYS, sangat berjasa bagi pendirian negara Taiwan, utamanya dalam ‘melawan’ Cina daratan.

Tapi kali ini kita tidak akan belajar dari perjuangan sejarah kedua tokoh itu. Karena saya rasa, Bung Karno dan Bung Hatta, memiliki perjuangan yang lebih bermakna bagi kita dibanding beliau berdua (nasionalis mode on)🙂 Kali ini kita akan belajar dari aktifitas apa yang ada di kedua memorial hall itu pada minggu pagi…

Inikah Taichi itu?

Di CKS, saya melihat banyak sekali manula yang sedang berolahraga. Ada yang berkelompok, ada yang sendirian, ada yang dengan tangan kosong, memakai kipas, bahkan juga olahraga dengan pedang. Inikah yang dimaksud dengan taichi itu?

Bagaimanapun, kegiatan itu menambah kekaguman saya kepada manula di sini. Ketika bersepeda di sepanjang bantaran sungai saya juga lihat hal yang sama, banyak sekali manula yang berolahrga, apakah itu senam, sepeda, maupun jogging. Hal yang sama juga sering saya temui di taman-taman kota. Kata seorang teman, itulah yang membuat usia hidup di Taiwan adalah yang tertinggi dibandingkan negara-negara lain.

Selain karena olahraga sudah jadi habbit, mungkin si manula sudah tidak lagi harus dipusingkan dengan mencari nafkah. Pada yang mana, hal itu justru menjadi habbit bagi manula di Indonesia. Hingga susah dijumpai manula yang berolahraga di Indonesia, kecuali yang kaya raya. Apalagi prasarana di Indonesia belumlah mendukung. Semoga ntar kalo saya dah jadi manula, prasarana itu sudah ada🙂

Bersama Disabled People

Kalo di SYS laen lagi ragam kegiatan yang dijumpai. Ada sebuah panggung hiburan cukup besar yang menampilkan sekelompok orang bermain musik. Sekilas tidak ada yang berbeda dari orang-orang itu. Mereka bermain musik dengan sangat antusias dan lumayan bagus.

Tapi kalo diamati dengan cukup jeli, terlihat ada yang beda. Mereka adalah disabled people… Dan panggung itu, hanyalah satu dari bermacam fasilitas yang ada di Taipei bagi disabled people. Di kampus saja ada parkir khusus, toilet khusus, dan juga jalur masuk gedung khusus. Sungguh beda dengan yang dialami rekan-rekan disabled people di Indonesia…

Mungkin kalo bukan negara maju memang tidak harus peduli dengan manula dan disabled people…??? (ironis)

Blog lain yang terkait:

Desember 14, 2007 - Posted by | ke-hidup-an, ke-olaraga-an, ke-taiwan-an | , , , , ,

3 Komentar »

  1. Sudah mulai kok cak tempat saya, manula-manula punya grup senam. Anggotanya bersetatus sosial menegeah dan menegah kebawah, ada juga sih yang mengeha keatas (campur)🙂
    Dan kalau saya lihat efek positifnya terlihat sekali. selain fisik ternyata pertemuan sesama umur dapat meyehatkan psikologis manula-manula itu. *saya lihat kalau mereka kumpul gembira sekali, ibu saya soalnya juga ikutan*

    Komentar oleh perempuan | Desember 15, 2007 | Balas

  2. Ralat cak
    Tanpa mengeah keatas🙂

    Komentar oleh perempuan | Desember 15, 2007 | Balas

  3. walah senengnya bisa bertamasya di TAIPE…

    Komentar oleh ario dipoyono | Desember 15, 2007 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: